Selasa, 15 Juni 2010

menejemen konflik keperawatan

MENEJEMEN KONFLIK

DEFINISI KONFLIK

a. Situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang diantara beberapa orang, kelompok atau organisasi.

b. Sikap saling mempertahankan diri sekurang-kurangnya diantara dua kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan berbeda, dalam upaya mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi, bukan kerjasama.

ASPEK POSITIF DALAM KONFLIK

Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik. Misalnya, konflik dapat menggerakan suatu perubahan :

a. Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.

b. Memberikan saluran baru untuk komunikasi.

c. Menumbuhkan semangat baru pada staf.

d. Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.

e. Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.

Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.

PENYEBAB KONFLIK

Konflik dapat berkembang karena berbagai sebab sebagai berikut:

a. Batasan pekerjaan yang tidak jelas

b. Hambatan komunikasi

c. Tekanan waktu

d. Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal

e. Pertikaian antar pribadi

f. Perbedaan status

g. Harapan yang tidak terwujud

PENGELOLAAN KONFLIK

Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan:

a. Disiplin: Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik. Manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya.

b. Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya. Misalnya; Perawat junior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sedangkan bagi perawat senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.

c. Komunikasi: Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu cara hidup.

d. Mendengarkan secara aktif: Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar, mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan.

TEKNIK ATAU KEAHLIAN UNTUK MENGELOLA KONFLIK

Pendekatan dalam resolusi konflik tergantung pada :

a. Konflik itu sendiri

b. Karakteristik orang-orang yang terlibat di dalamnya

c. Keahlian individu yang terlibat dalam penyelesaian konflik

d. Pentingnya isu yang menimbulkan konflik

e. Ketersediaan waktu dan tenaga

STRATEGI :

a. Menghindar

Menghindari konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer perawat yang terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi”

b. Mengakomodasi

Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan. Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.

c. Kompetisi

Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau ketika anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan.

d. Kompromi atau Negosiasi

Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.

e. Memecahkan Masalah atau Kolaborasi

Pemecahan sama-sama dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.

Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

PETUNJUK PENDEKATAN SITUASI KONFLIK :

a. Diawali melalui penilaian diri sendiri

b. Analisa isu-isu seputar konflik

c. Tinjau kembali dan sesuaikan dengan hasil eksplorasi diri sendiri.

d. Atur dan rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik

e. Memantau sudut pandang dari semua individu yang terlibat

f. Mengembangkan dan menguraikan solusi

g. Memilih solusi dan melakukan tindakan

h. Merencanakan pelaksanaannya

KASUS

Ns A mengadu kepada kepala ruangan bahwa dia tidak mau kerja shift bersama br.T , ini terjadi karena ketidakcocokan antara keduanya. Menuru Ns A bahwa br T suka telat, kerja sesuka hati dan tidak bertanggung jawab. Sudah pernah ditegur tapi malahan marah karena merasa senior dan merasa tersinggung dengan sikap Ns a. Br T sendiri merasa tidak senang dengan Ns A yang menurutnya suka menggurui dan terlihat menonjolkan gelar keserjanaanya. Sikap dari rekan-rekan lain sebagian membela Ns A dan sebagian membela br.T

  1. jika anda sebagai kepala ruang, apa analisa anda terhadap kasus ini?

Hubungan interpersonal antara perawat dengan perawat , kolega, kelompok, keluarga pasen maupun orang lain dapat merupakan sumber terjadinya konflik, oleh sebab itu perawat harus mengetahui dan memahami manajemen konflik. Penyebab konflik meliputi: ketidakjelasan uraian tugas, gangguan komunikasi, tekanan waktu, standar, kebijakan yang tidak jelas, perbedaan status, dan harapan yang tidak tercapai. Konflik dapat dicegah atau diatur dengan menerapkan disiplin, komunikasi efektif, dan saling pengertian antara sesama rekan kerja.Untuk mengembangkan alternatif solusi agar dapat mencapai satu kesepakatan dalam pemecahan konflik ,diperlukkan komitmen yang sungguh sungguh .

b. Langkah-langkah apa yang harus anda ambil untuk mengatasi konflik diatas?

Ada beberapa stragtegi yang dapat digunakan, antara lain ;

Sebagai kepala ruangan, komunikasi amat lah penting, maka jika ada suatu masalah dalam hal apa pun di dalam pekerjaan menerapkan komunikasi yang afektif dalam kegiatan sehari-hari, dan sebagai kepala ruangan kita harus mendengarkan atau menampung masalah yang terjadi pada bawahanya dan dengan cara mendengarkan dengan baik, kita bisa merumuskan masalah yang terjadi. Kedua perawat yang sedang bermaslah kita panggil dan kita diskusikan bersama atau kompromi tentang masalah yang terjadi dan saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.

Dan kita sebagai kepala ruangan kita harus bisa memecahkan masalah yang terjadi agar tidak berkepanjangan. Pemecahan sama-sama dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.

Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

Kelompok 3

1. mahmud fauzi

2. masngudin

3. meika fitri

4. ngafif mansyur

5. nico

6. novi

7. nurani

8. nuri

9. okatvian

10. retno wulan

sumber: http://subektiheru.blogspot.com/2008/03/manajemen-konflik.html

Minggu, 13 Juni 2010

Cara Membuat Mata Lebih Berbinar

Cara Membuat Mata Lebih Berbinar
Salah satu ciri mata wanita Indonesia adalah karakteristiknya yang cenderung "turun". Kondisi tersebut membuat wajah terlihat sayu dan tidak segar. Salah memilih eyeshadow atau salah pengaplikasiannya pun bisa membuat mata makin terlihat "kuyu". Apa yang sebaiknya dilakukan?

Cara Membuat Mata Lebih Berbinar

Agar mata berkesan lebih lebar, yang perlu diperhatikan bukan hanya warna eyeshadow. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Jangan bentuk alis mata mengikuti sudut mata, karena akan membuat mata tampak "turun". Arsir tipis alis mata agar wajah tak semakin terlihat "berat".

2. Untuk kelopak mata, gunakan warna-warna kalem, seperti cokelat muda, krem, beige, abu-abu muda, dan pink kecokelatan.

3. Setelah itu bubuhkan eyeshadow warna gelap pada sudut mata. Inilah yang bisa membantu agar mata tampak segar. Pilihlah warna-warna seperti cokelat tua dan abu-abu tua. Saat mengaplikasikannya, tarik sedikit eyeshadow ke arah atas. Hasilnya, kelopak mata Anda akan tampak lebih lebar.

4. Gunakan eyeliner yang bisa membuat mata Anda tampak lebih lebar. Pilih warna eyeliner yang gelap, seperti cokelat tua dan hitam. Sebaiknya hindari eyeliner berwarna terang karena hanya akan membuat mata Anda tampak kecil.

5. Langkah terakhir yang paling penting adalah pengaplikasian maskara.Gunakan maskara warna hitam yang bisa melentikkan bulu mata. Maskara yang sekadar memberikan kesan bulu mata lebih tebal akan membuat mata terlihat berat. Jika akan menghadiri acara yang berlangsung lama, pilihlah maskara dengan formula tahan air (waterproof).

OSTEOARHRITIS

1. Osteoarthritis (OA)
a. Pengertian
Osteoarthritis adalah suatu gangguan persendian dimana terjadi perubahan berkurangnya tulang rawan sendi dan terjadi hipertropi tulang hingga terbentuk tonjolan pada permukaan sendi (osteopit )
(Yatim, 2006, h.26).
Osteoarthritis adalah didefinisikan sebagai kelompok kondisi yang menyebabkan gejala dan tanda sendi yang berhubungan dengan kerusakan intergritas kartilago artikular selain perubahan pada tulang yang mendasarinya (Valentina, 2007, h.351).
Osteoarthritis merupakan tipe paling umum dari arthitis, dan dijumpai khususnya pada orang-orang usia lanjut. Kadang-kadang kondisi ini disebut juga penyakit sendi degeneratif atau osteoathrosis (Niams, 2002).
b. Patofisiologi
Osteoarthritis terutama mempengaruhi kartilago, jaringan yang keras tapi licin, yang menutupi ujung-ujung tulang yang bertemu membentuk suatu sendi. Kartilago yang sehat memungkinkan tulang untuk bergerak dengan luwes satu sama lain. Kartilago juga mengabsorbsi energi dari guncanan akibat perpindaha fisik. Sedangkan pada osteoarthritis, terjadi pengikisan kartilago.
Pada osteoarthritis, permukaan lapisan kartilago terkikis dan aus. Hal ini yang menyebabkan tulang-tulang di bawah karilago bergesekan satu sama lain, menyebabkan nyeri, bengkak, dan keterbatasan gerak sendi. Beberapa waktu kemudian, sendi bisa kehilangan bentuk normalnya. Juga terjadi deposit tulang kecil, yang disebut osteofit atau “taji tulang” (bone spurs), yang tumbuh ditepi-tepi sendi. Kepingan tulang atau kartilago dapat patah dan mengembang di dalam ruang sendi. Hal ini menyebabkan nyeri dan kerusakan lebih lanjut. Pada osteoarthritis, kartilago menjadi aus. Taji tumbuh keluar dari ujung tulang, dan cairan sinovial meningkat. Kesemuanya menyebabkan sendi terasa kaku dan sakit (Niams, 2002).
Secara lebih spesifik, Lozada (2008) menyatakan bahwa terjadinya osteoarthritis dibagi dalam 3 tahapan sebagai berikut:
1) Tahap pertama : terjadi pemecahan proteolitik atas matriks kartilago. Hal ini berpengaruh terhadap metabolisme kondosit, yang menyebabkan terjadinya peningkatan produksi beberapa enzim, termasuk metalloproteinase (seperti kollagenase, stromelisin) yang merusak matriks kartilago. Kondrosit juga memproduksi inhibitor (penghambat) protase, termasuk Tissue Inhibitors of Metalloproteinases (TIMP) 1 dan 2 tetapi jumlahnya tidak cukup untuk menetralkan efek proteolitik tersebut.
2) Tahap kedua : tahap ini melibatkan fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, yang kemudian melepaskan fragmen proteoglikan dan kollagen ke dalam cairan sinovial.
3) Tahap ketiga : produk-produk pemecahan kartilago menginduksikan terjadinya suatu respoan inflamasi kronik dalam sinovium. Terjadilah produksi sitokin makrofag sinovial, seperti InterLeukin 1(IL-1), Tumor Necrosis factor-Alpha (TNF α), dan metalloproteinase. Produk ini dapat menyebar kembali ke dalam kartilago dan merusak aringan secara langsung atau menstimulasi kondrosit memproduksi metalloproteinase lebih banyak lagi. Molekul pro-inflamasi seperti Nitrit Oksida (NO), yang merupakan suatu radikal bebas inorganik dapat pula menjadi faktornya. Akhirnya, kondisi ini mengubah arsitektur sendi, dan sebagai kompensasinya pertumbuhan berlebihan dari tulang terjadi sebagai usaha untuk menstabilkan sendi. Selama arsitektur sendi berubah dan terjadi stres mekanis dan inflamasi lebih lanjut pada permukaan sendi, perkembangan penyakit ini tidak dapat dikendalikan.
Sebagai akibatnya, penderita osteoarthritis biasanya mengeluh nyeri sendi dan keterbatasan gerak. Tidak seperti bentu-bentuk arthitis lainya, seperti arthitis rematoid, osteoarthritis hanya mempengaruhi fungsi sendi dan tidak mempengaruhi jaringan kulit, paru, mata, atau pembuluh darah.
c. Manifestasi klinik
Menurut (Nusdwinuringtyas, 2008) pada umumnya penderita osteoarthritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahn-lahan. Gejala dapat berupa :
1) Nyeri sendi
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Ada tiga tempat yang dapat menjadi sumber nyeri, yaitu sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak. Kerusakan pada jaringan lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi, peradangan pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut penerima nyeri. Selain itu rasa nyeri dipengaruhi oleh keadaan psikologik pasien, sehingga dianjurkan untuk melakukan evaluasi psikologik dalam penatalaksanaan penderita osteoartrosis. Nyeri pada osteoarthritis, biasanya mempunyai irama diurnal, nyeri akan menghebat pada waktu bangun tidur dan sore hari.


2) Hambatan gerak sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri. Perubahan ini seringkali sudah ada meskipun pada osteoarthritis yang masih dini. Biasanya bertambah berat dengan semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya bisa digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris (salah satu arah gerakan saja).
3) Kaku pagi
Kaku sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah imobilitas seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur.
4) Krepitasi
Krepitasi berupa rasa gemeretak kadang-kadang dapat terdengar. Krepitus dapat ditemukan tanpa disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan nyeri yang tumpul. Gejala ini mungkin timbul karena gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi.
5) Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris
Kadang-kadang ditemukan pembengkakan sendi akibat efusi cairan sendi yang biasanya tak banyak.

d. Etiologi
Osteoarthritis primer, baik yang lokal maupun generalista, pada umumnya mempunyai etiolgi yang tidak diketahui (idiopatik). Kecuali, pada beberapa kasus yang jarang dimana suatu gen yang defektif ditemukan menjadi penyebab terjadinya suatu osteoarthritis tipe familial (Stitik, 2006).
Sedangkan pada osteoarthritis sekunder, penyebabnya bisa karena gangguan hormon, metabolik, trauma, inflamasi, atau kelainan anatomis (Gotlieb, 2003).
e. Jenis –Jenis Osteoarthritis
Menurut Anies (2006, h. 99) osteoarthritis dikelompokan manjad i:
1) Osteoarthritis primer jika penyebabnya tidak diketahui
2) Osteoarthritis sekunder jika penyebabnya adalah penyakit lain, misalnya penyakit paget (osteitis deformans), kelainan bentuk, cedera atau penggunaan sendi yang berlebihan).
f. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mengecek refleks dan kesehatan umum pasien, termasuk kekuatan ototnya, memeriksa sendi yang terganggu dan mengamati kemampuan pasien dalam berjalan, membungkuk, dan melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
Seseorang pasien secara klinis disebut positif menderita osteoarthritis bila memenuhi 3 dari 6 kriteria menurut American college of Rheumatology (ACR) dalam altman et al (1986) (dalam Syamsumin 2009 h, 27) yaitu sebagi berikut:
1) Usia > 50 tahun.
2) Kekakuan pada pagi hari< 30 menit.
3) Krepitasi
4) Nyeri tekan pada tulang.
5) Pembesaran tulang.
6) Pada palpasi sekitar sendi tidak teraba hangat.
Kriteria ini memiliki sensivitas sebesar 95% dan spesifitas 69%.
g. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan klinis dan radiologis. Pemeriksaan sinar X akan menunjukan menyempitnya ruang sendi yang disebabkan hancurnya tulang rawan artkular, tonjolan atau taji tulang, kista, dan deformitas atau kelainan bentuk pada persendian. Pemeriksaan laboraturium tidak didapatkan hasil yang spesifik pada penyakit oesteoartitis ini. complete blood count (CBC) dan erythhocyte sedimintation rate (ESR) biasanya normal dan faktor rhematoid dan antinuclear antibodies akan negatif (Charlene, gayle, & Robin 2001).
h. Faktor Risiko Osteoarthritis
Berikut ini adalah beberapa faktor risiko terkait osteoarthritis:
1) Jenis kelamin
Baik pria maupun wanita bisa menderita penyakit ini sebelum usia 45 tahun, lebih banyak pria daripada wanita yang menderita osteoarthritis (Niams, 2002). Pada usia 45-55 tahun prevalensi osteoarthritis pada keduanya setara. Namun, setelah usia 55 tahun osteoarthritis lebih sering diderita oleh wanita (Stitik, 2006).
2) Usia
Usia merupakan determinan utama pada osteoarthritis. osteoarthritis lebih sering diderita oleh orang usia lanjut, meskipun orang yang lebih muda juga dapat menderita hal yang sama. Pada pria yang berusia kurang dari 45 tahun, osteoarthritis yang terjadi terutama terkait dengan riwayat trauma yang dimiliki (Shiddiq et al, 2008).
3) Ras
Prevalensi dan pola keterlibatan sendi yang terkena osteoarthritis berbeda pada masing-masing ras.
4) Riwayat trauma sebelumnya
Trauma pada suatu sendi yang terjadi sebelumnya, biasanya mengakibatkan jejas atau malformasi sendi yang akan meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis. Trauma berpengaruh terhadap kartilago artikular, ligamen, atau meniskus yang menyebabkan biomekanika sendi menjadi abnormal, dan memicu terjadinya degenerasi prematur (Shiddiqui, 2008).



5) Genetik
Defek genetik pada gen pengatur kartilago sendi akan meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis pada seseorang (Davey, 2008).
6) Obesitas
Osteoarthritis lebih sering terjadi pada orang-orang yang mengalami obesitas daripada mereka yang kurus karena terkait dengan besarnya stres mekanis pada sendi penopang tubuh (Shiddiqui, 2008).
7) Pekerjaan
Osteoarthritis lebih sering terjadi pada mereka yang pekerjaanya memberikan tekanan pada sendi-sendi tertentu. Jenis pekerjaan juga mempengaruhi sendi mana yang cenderung terkena osteoarthritis.
i. Pencegahan Osteoarthritis
Menurut Hendrata (2007) pencegahan osteoarthritis sebagai berikut:
1) Menjaga berat badan, penurunan berat badan dapat mengurangi tekanan pada sendi penumpu berat badan, membatasi cedera lebih lanjut, dan meningkatkan mobilitas.
2) Melakukan jenis olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi. Contohnya berenang dan olahraga yang bisa dilakukan sambil duduk dan tiduran.
3) Aktivitas olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa untuk melakukan olahraga porsi berat pada usia lanjut. Tidak melakukan aktivitas gerak pun sangat tidak dianjurkan. Tubuh yang tidak digerakkan akan mengundang osteoporosis.
4) Menghindari trauma (perlukaan) pada persendian.
5) Meminum obat-obatan suplemen sendi (atas konsultasi dan anjuran dokter).
6) Mengkonsumsi makanan sehat.
7) Memilih alas kaki yang tepat & nyaman.
8) Lakukan relaksasi dengan berbagai teknik.
9) Hindari gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
10) Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan. Hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan tulang.
j. Pengobatan Osteoarthritis
Menurut Hendrata (2007) pengobatan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan luas pergerakan sendi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Cara pengobatan osteoarthritis adalah dengan cara :
1) Olahraga yang ringan yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi, seperti berenang, bersepeda, minimal 1 jam per hari.

2) Pengobatan untuk mengontrol nyeri
Obat-obatan diresepkan untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi sendi. Perlu pertimbangan sejumlah faktor ketika hendak memilih obat-obatan. Sebagian besar obat yang digunakan untuk menangani osteoarthritis memiliki efek samping.
3) Pereda nyeri non-obat
Penderita osteoarthritis dapat menemukan beberapa metode non-obat untuk meredakan nyeri dengan terapi panas dan dingin, transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS), pijat atau massage.
4) Suntik Sendi
Suntikan Kortikosteroid pada sendi (intra-artikular), yang mengurangi peradangan. Obat pelumas sendi yang disuntikkan ke sendi.
5) Terapi alternatif Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT)
ESWT merupakan alternatif cara pengobatan osteoarthritis sebelum pasien terpaksa dioperasi. ESWT biasanya digunakan jika rasa sakit tidak kunjung hilang setelah lebih dari enam bulan mencoba berbagai macam pengobatan konvensional non-operasi.
6) Operasi pembedahan
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasiesn osteoarthritis dengan kerusakan sendi yang nyata, dengan nyeri yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dapat dilakukan adalah osteotomi (untuk mengoreksi ketidak lurusan atau ketidak sesuaian) debridemen sendi (menghilangkan fragmen tulang rawan sendi), pembersihan osteofit, atroplasti total atau parsial dan artodesis.

Konsep pertumbuhan dan perkembangan

Whaley dan Wong
Pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah ukuran


Perkembangan
menitik beratkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ketingkat yang paling tinggi dan komplek melalui proses maturasi dan pembelajaran

Marlow
Pertumbuhan sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau centimeter untuk berat badan

Perkembangan sebagai peningkatan keterampilan dan kapasitas anak untuk berfungsi secara bertahap dan terus menerus.



PERTUMBUHAN

0. Pertumbuhan adalah :bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur dan mudah diobservasi.
1. Perkembangan adalah : sempurnanya fungsi alat tubuh atau perubahan atau expansiyang bertahap. Dari tahapan yang sederhana ke tahapan yang lebih kompleks.
2. Pola pertumbuhan dan perkembangan.

- terjadi secara terus-menerus.
- merupakan dasar dari semua kehidupan manusia.
- tumbuh fisik dapat dilihat nyata.

Mengapa Tumbang Harus Dipelajari ?

1. Sebagai alat ukur dalam asuhan keperawatan.
2. Perlu untuk mengetahui yang normal dalam rangka mendeteksi deviasi dari normal.
3. Mempelajari tumbang memberikan petunjuk untuk menilai rata-rata atau perubahan fisik, intelektualdan emosional yang normal.
4. Mengetahui perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional. Penuntun perawat dalam mengkaji tingkat fungsional anak dan penyesuaiannya terhadap penyakit dan dirawat di RS.


Bagaimana Pertumbuhan Dapat Diketahui ?

Tumbuh berarti bertambah besar dalam fisik. Pertambahan ini dapat disebabkan oleh peningkatan ukuran masing-masing sel atau kesatuan sel yang membentuk organ tubuh - Terjadi sepanjang masa anak - Terjadi pembentukkan jaringan tubuh baru secara terus-menerus. Kecepatan berbeda-beda tergantung usia.


- Pertumbuhan dapat diketahui dengan anthropometrik :
1. Timbang berat badan
2. Ukur tubuh
3. Ukur lingkaran kepala
4. Ukur lingkaran dada
5. Ukur lingkaran lengan


Bagaimana Perkembangan Dapat Diketahui ?
5. Seseorang berkembang dalam pengaturan Neuro Muscular ⇨ dapat terlihat kemampuan/peningkatan keterampilan dan pengetahuan yang kompleks.
6. Perkembangan dapat diketahui/dinilai dengan pengamatan :
7. gerakan-gerakan/kecakapan
8. Kecerdasan
9. Penguasaan bahasa/kesanggupan bicara
10. Hubungan sosial
11. Tingkat perkembangan bersifat individual.⇨ harus diingat urutan-urutan perkembangan menurut tingkat perkembangan tertentu.


Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang :
1. Faktor herediter :
a. Jenis kelamin
b. Ras
c. Kebangsaan


2. Faktor Lingkungan
a. Lingkungan Pranatal
b. Pengaruh Budaya
c. Status sosial dan ekonomi keluarga
d. Nutrisi
e. Iklim atau cuaca
f. Olahraga/lat fisik
g. Posisi anak dalam keluarga

3. Faktor Internal
a. Kecerdasan
b. Pengaruh hormonal
c. Pengaruh Emosi




Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Periode Prenatal - Konsepsi sampai dengan lahir.

2. Periode Infency - Lahir sampai dengan 12 bulan.
a. Neonatus : lahir sampai dengan 28 hari.
b. Infancy : 29 hari sampai dengan 12 bulan.

3. Periode Early Childhood ⇨ 1 tahun sampai dengan 6 tahun.
a. Toddles : 1 tahun sampai dengan 3 tahun
b. Pra sekolah : 4 tahun sampai dengan 6 tahun.

4. Periode Middle Childhood ⇨ Periode sekolah : 6 tahun sampai dengan 12 tahun.

5. Periode Later Childhood ⇨ 12 tahun sampai dengan 18 bulan.
a. Pre pubertas : 12 tahun sampai dengan 18 bulan.
b. Adoleseence : 13 tahun sampai dengan 18 bulan.



Teori-Teori Perkembangan :
1. Perkembangan Psikososial - Erik Erikson (1963 ).
2. Perkembangan Intelektual -Piaget.
3. Perkembangan Psikosexual - Sigmum Frend.


1. Perkembangan Psikososial (Erikson)
- Percaya Vs tidak percaya (0-1 thn)
Penanaman rasa percaya adalah hal yang sangat mendasar pada fase ini. Belaian cinta kasih ibu dalam memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan dasar anak
Anak akan mengembangkan rasa tidak percaya pada orang lain apabila pemenuhan keb dasar tidak terpenuhi


2. Otonomi Vs rasa malu dan ragu ( 1-3 tahun)
Perkembangan otonomi berpusat pada kemampuan anak untuk mengontrol tubuh dan lingkungannya.
Anak akan meniru perilaku orang lain di sekitarnya
Rasa malu da ragu akan timbul apabila anak di paksa oleh orang tuanya atau orang dewasa untuk berbuat yang dikenhendakinya.


3. Inisiatif Vs rasa bersalah (3 samapi 6 tahun)
Perkembangan Inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui kemampuan indranya
Perasaan bersalah akan timbul pada anak apabila anak tidak mampu berprestasi shg mereka tidak puas.



4. Industry Vs Inferiority (6-12 tahun)
Anak akan belajar bekerjasama dan bersaing dengan anaka lainnya melalui keg yang dilakukan baik didalam keg akademik maupun pergaulan
Perasaan akan rendah diri akan berkembang apabila anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkungannya dan anak tidak berhasil memenuhinya.


5. Identitas Vs kerancun peran (12-18 tahun)
Anak remaja akan berusaha untuk menyesuaikan perannya sebagai anak yang sedang berada pada fase transisi
Ketidakmampuan dalam mengatasi konflik akan menimbulkan kerancuan peran yang harus dijalankan


2. Perkembangan Intelektual (Piaget)
• Tahap sensorik-motorik (0-2 tahun)
Bayi belajar dan mengembangkan kemampuan sensorik motorik dengan dikondisikan oleh lingkungannya.
• Praoperasional (2 – 7 Tahun)
Pada anak usia 2-3 tahun anak berada diantara sensorik motorik dan praoperasional, yaitu anak mulai menembangkan sebab akibat
Anak prasekolah (3-6 tahun) mempunyai tugas untuk menyiapkan diri memasuki dunia sekolah.



3. Concrete opresional (7-11 tahun)
Anak mampu mengklasifikasi benda dan perintah dan menyelesaikan masalah secara konkret dan sistematis berdasarkan apa yang mereka terima dari lingkungannya.

4. Formal Operation (11-15 tahun)
Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan kemampuan untuk fleksibel terhadap lingkungan


3.Perkembangan Psikoseksual
(Freud)
1. Fase Oral (0-11 bln)
Masa bayi sumber kesenangan anak terbesar berpusat pada aktivitas oral. Hambatan atau ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan oral akan mempengaruhi fase perkembangan.
Penanaman identitas gender pada bayi dimulai dengan adanya perlakuan ibu atau ayah yang berbeda.


2. Fase Anal (1-3 tahun)
Anak senang menahan feses. Toilet training adalah waktu yang tepat dilakukan pada periode ini.

3. Fase Falik (3-6 tahun)
Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki2 dengan mengetahui adanya perbedaan alat kelamin

Orang tua harus bijak dalam memberi penjelasan tentang hal ini sesuai dengan kemampuan perkembangan kognitifnya.

4. Fase Laten (6 – 12 Tahun)
Anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media untuk menekplorasi pengetahuan dan penagalamnnya melalui aktivitas fisik maupun sosialnya.

Pertanyaan anak tentang seks semakin banyak, mengarah pada sistem reproduksi.Orang tua harus bijaksana dalam merespon.

5. Fase Genital (12-18 tahun)
fase pubertas yaitu dengan adanya proses kematangan organ reproduksi dan produksi hormon seks.

Tahapan Perkembangan Anak Menurut Umur :

1. Usia 0-3 bulan :
- Mampu menggerakkan kedua tungkai dan lengan dengan mudah.
- Memberi reaksi dengan melihat.
- Mengeluarkan suara.
- Membalas senyuman.

2. Usia 2-6 bulan :
- Mengangkat kepala dengan tegag pada posisi telungkup.
- dapat menggenggam benda yang disentuhkan pada punggung/ujungjari.
- Mencari sumber suara yang keras.
- Membalas senyuman.

3. Usia 6-9 bulan :
- Bila didudukkan, dapat mempertahankan posisi duduk dengan kepala tegak.
- Meraih benda yang menarik.
- Tertawa/berteriak bila melihat benda yang menarik.
- Takut pada orang lain yang belum dikenal.

4. Usia 9-12 bulan :
- Mampu berdiri dengan berpegangan.
- Dapat mengambil benda kecil.
- Dapat mengatakan “Papa, Mama”
- Bermain “ciluk ba”.

5. Usia 12-18 bulan :
- Berjalan sendiri tanpa jatuh.
- Dapat mengambil benda kecil sebesar biji jagung, dengan ibu jari dan telunjuk.
- Dapat mengucapkan keinginan secara sederhana.
- Minum dari gelas sendiri tanpa tumpah.

6. Usia 18-24 bulan :
- Dapat menendang bola.
- Mencoret-coret dengan alat tulis.
- Menunjuk bagian tubuh dengan benar.
- Meniru pekerjaan rumah tangga.

7. Usia 2-3 tahun :
- Berjalan naik turun tangga.
- Mampu melepas pakaian sendiri.
- Menyebut nama sendiri.
- Makan dan minum sendiri.



8. Usia 3-4 tahun :
- Berdiri di atas satu kaki.
- Menggambar bentuk lingkaran.
- Menyebut nama orang lain.
- BAB dab BAK sendiri pada tempatnya.



9. Usia 4-5 tahun :
- Melompat dengan satu kaki.
- Berpakaian sendiri.
- Bisa bercerita.

10. Usia 5-6 tahun :
- Menangkap bola.
- Mengenal dan mematuhi peraturan sederhana.

11. Usia 6-12 tahun :
- Laki-laki lebih aktif dari pada wanita.
- Mencari lingkungan yang lebih luas.
- Belajar di bangku sekolah dan interaksi dengan lingkungan sekolah.

12. Usia 12-18 tahun :
- Seluruh system tubuh berkembang dengan sempurna.
- Bersosialisasi dalam kelompok teman sebaya.
- Remaja awal - orang tua masih berperan penting baik fisik, sosial maupun emosional.
- Pertengahan remaja ⇨ anak berubah jadi mandiri.
- Remaja akhir ⇨ anak memperlihatkan peran mandiri dalam masyarakat/kelompoknya.


Kebutuhan fisik and kebutuhan psikologi
A. Kebutuhan fisik tdk terpenuhi ⇨ terganggu kelangsungan hidupnya.
B. Kebutuhan psikis tidak terpenuhi⇨Individu tidak akan mendapatkan kepuasan, percaya diri sendiri,hubungan dengan orang lain tidak tebina dengan baik

C. Kebuthan fisik dasar :

- perumahan
- makanan
- Pakaian
- Udara segar dan sinar matahari


- Kegiatan dan istirahat
- pencegahan terhadap penyakit dan kecelakaan
- Latihan u/ membina kebiasaan dan ketrampilan yang diperlukan untuk kelangsungan hidupmya



-Kebutuhan psikologis

- kasih sayang dan asuha keperawatan yang continue
- Rasa aman berada dalam lingkungan yang dikenal
- merasa punya identitas, dihormati
- Mendapat kesempatan untuk belajar dari pengalaman
- kesempatan u mandiri




PRINSIP-PRINSIP TUMBUH KEMBANG

1. Pertumbuhan adalah proses yang terus menerus yang ditentukan beberapa faktor.
2. Semua tumbang manusia mengikuti pola yang sama
3. Belajar dapat merupakan salah satu bantuan atau gangguan proses kedewasaan
4. Perkembangan bagian lain mempunyai kaakteristik sendiri.
5. Tumbang terjadi dari atas kebawah, dari tengah kebagian samping tubuh
6. Tumbang semakin bertambah dengan berbagai perbedaan.

pemeriksaan fisik abdoment

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perut merupakan suatu bagian tubuh yang menyerupai rongga tempat beberapa organ-organ penting tubuh yaiu lambung, usus, hati, limpa serta ginjal. Bentuk perut yang normal adalah simetris baik pada orang yang gemuk maupun kurus. Perut menjadi besar dan tidak simetris pada beberapa keadaan misalnya kehamilan, tumor dalam rongga perut, tumor ovarium atau tumor kandung kemih. Permukaan perut normal nampak halus, lembut dengan kontur datar, melingkar atau cekung. Apabila ada pembesaran, maka kulit perut manjadi tegang, licin, dan tipis.
Kelengkapan dan keakuratan pengkajian perut tergantung pada ketepatan perawat dalam menanyakan riwayat kesehatan serta pada kemampuan perawat dalam mengkaitkan respon pasien dengan data hasil pengkajian fisik. Dalam pengkajian abdomen, perawat harus mendapatkan informasi pula tentang jenis makanan pasien, nafsu makan, pencernaan, pola buang air besar, obat yang diminum serta gangguan pencernaan yang pernah dan yang sedang dialami.
Dan sebagai perawat untuk menghetahui pola pemeliharaan kesehatan ajukan kebiasaan pasien yang berpengaruh terhadap sistem pencernaan misalnya, kebiasaan merokok (kanker mulut), minum alkohol (penyakit pankreas dan hepar), penggunaan kafein (iritasi lambung, penurunan gerakan usus), aktifitas/olahraga (konstipasi) dan sumber strees.
Setelah data riwayat kesehatan terkumpul, maka lakukan pegkajian fisik. Tehnik yang digunakan dalam melakukan pengkajian abdomen adalah inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi. Sebelum melakukan pengkajian maka perawat harus mempersiapkan pasien sehingga hasil pengkajian yang diperoleh lebih akurat.
Dalam melakukan pengkajian abdomen, perawat harus memahami struktur anatomi perut yang meliputi daerah-daerah dan batas-batas perut. Untuk mempermudah pemeriksaan, secara anatomis perut dibagi menjadi empat kuadran (kuadran kanan atas, kuadran kanan bawah, kuadran iri atas, kuadaran kiri bawah). Dan sembilan daerah (hipokandrium kanan ,epigastrik, hipokandrium kiri, lumbal kanan, umbilikus, lumbal kiri, iliaka kanan, hipogastrik/suprapubik, iliaka kiri.
B. TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mambaca dan mempraktekan latihan pemeriksaan fisik abdomen, mahasiswa keperawatan diharapkan mampu :
1. Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik abdomen.
2. Memahami dan mendemomstrasikan tehnik pemeriksaan fisik abdomen.
3. Menjelaskan ciri-ciri hasil pemeriksaan fisik normal dan abnormal.





BAB 2
PEMBAHASAN MATERI

A. PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
Urutan teknik pemeriksaan pada abdomen ialah inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.
Ada dua macam cara pembagian topografi abdomen yang umum dipakai untuk menentukan lokalisasi kelainan, yaitu:
1. Pembagian atas empat kuadran, dengan membuat garis vertikal dan horizontal melalui umbilicus, sehingga terdapat daerah kuadran kanan atas, kiri atas, kanan bawah, dan kiri bawah.
2. Pembagian atas sembilan daerah, dengan membuat dua garis horizontal dan dua garis vertikal.
Garis horizontal pertama dibuat melalui tepi bawah tulang rawan iga kesepuluh dan yang kedua dibuat melalui titik spina iliaka anterior superior (SIAS). Garis vertikal dibuat masing-masing melalui titik pertengahan antara SIAS dan mid-line abdomen. Terbentuklah daerah hipokondrium kanan, epigastrium, hipokondrium kiri, lumbal kanan, umbilical, lumbal kanan, iliaka kanan, hipogastrium/ suprapubik, dan iliaka kiri.


B. TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
a. INSPEKSI
Inspeksi dilakukan pertama kali dengan tujuan untuk menghetahui bentuk dan gerakan-gerakan perut. Langkah kerja inspeksi dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. Yang perlu diperhatikan adalah
1) Keadaan kulit ; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman), elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi), kering (dehidrasi), lembab (asites), dan adanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik, ikterus obstruktif), jaringan parut (tentukan lokasinya), striae (gravidarum/ cushing syndrome), pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensi portal).
2) Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol, atau scaphoid (cekung).
3) pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit). Pada hipertensi portal, terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas.
4) Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa.
5) Pulsasi; pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical


b. AUSKULTASI
Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltic usus yang disebabkan oleh perpndahan gas atau makanan sepanjang intestinum, serta suara pembuluh darah. Pada keadaan-keadaan tertentu suara yang didengar secara auskultasi dapat melemah, Langkah kerja :
1) Siapkan stetoskop, hangatkan tangan dan bagian diafragma stetoskop
2) Tanya pasien tentang waktu terakhir makan. Suara usus meningkat pada organ setelah makan.
3) Tentukan bagian stetoskop yang akan digunakan. Bagian diafragma digunakan untuk mendengar suara usus, sedangkan bagian bell (sungkup) untuk mendengarkan suara pembuluh darah
4) Letakan diafragma stetoskop dengan tekanan ringan pada setiap area empat kuadaran perut dan denar suara peristaltik aktif dan suara mendenguk (gurgling) yang secara normal terdengar setiap 5 sampai 20 detik dengan durasi kurang atau lebih dari satu detik. Frekuensi suara terantung pada status pencerna makan atau ada tidaknya makanan dalam saluran pencernaan. Dalam pelaporanya, suara usus dapat dinyatakan dengan terdengar, tidak ada/hipoaktif, sangat lambat, hiperaktif atau meningkat. Bila suara usus terdengar jarang sekali/tidak ada maka sebelum dipastikan dengarkan dahulu selama tiga sampai lima menit.
5) Letakan bagian bell (sungkup) stetoskop diatas aorta, arteri, renale dan arteri iliaka. Dengarkan suara-suara arteri/bruits. Auskulatsi pada aorta dilakukan dari arah superior ke umbilikus. Auskulatsi arteri renale dilakukan dengan cara meletakan stetoskop pada garis tengah perut atau ke arah kanan kiri dan garis perut bagian atas mendekati panggul. Auskultasi arteri iliaka dilakukan dengan cara meletakan stetoskop pada area bawah umbiliku disebelah kanan dan kiri garis tengah perut.
6) Letakan bagian bell stetoskop diatas area preumbilikal (sekeliling umbilikus) untuk mendengarkan bising vena (jarang terdengar)
7) Dalam melakukan askultasi pada setiap tempat khususnya pada area hepar dan lien, kaji pula kemungkinan terdengar suara-suara gesekan seperti suara gesekan dua benda. Untuk mengkaji suara gesekan pada area lien maka letakan stetoskop pada area batas bawah tulang rusuk digaris aksilaris anterior dan suruh pasien menarik nafas dalam. Untuk mengkaji gesekan pada daerah hepar, letakan stetiskop pada sisi bawah kanan tulang rusuk.
c. PERKUSI
Perkusi dilakukan dengan tujuan untuk mendengarkan/mendeteksi adanya gas, cairan, atau masa didalam perut. Perkusi juga dilakukan untuk menghetahui posisi lien dan hepar. mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan, menentukan besarnya hati, limpa, ada tidaknya asites, adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista), adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus, serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. Suara perkusi abdomen yang normal adalah timpani (organ berongga yang berisi udara), kecuali di daerah hati (redup; organ yang padat).
1) Orientasi abdomen secara umum.
Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). Pada perforasi usus, pekak hati akan menghilang.
2) Cairan bebas dalam rongga abdomen
Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suara dullness dominant. Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bila pasien dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah.
3) Cara pemeriksaan asites:
Pemeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave).
Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Prinsipnya adalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang akan diteruskan ke sisi yang lain.
Pasien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan kiri pada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. Tangan kiri kan merasakan adanya tekanan gelombang.
4) Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness).
Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. Pasien tidur terlentang, lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Lalu pasien diminta tidur miring pada satu sisi, lakukan perkusi lagi, tandai tempat peralihan suara timpani ke redup maka akan tampak adanya peralihan suara redup.
d. PALPASI
Palpasi dapat dilakukan secara palpasi ringan atau palpasi dalam tergantung pada tujuanya. Perawat yang melakukan palpasi dalam tidak boleh mempunyai kuku yang panjang karena dapat melukai pasien dan menyulitkan pengkajian. Palpasi dilakukan dengan tujuan untuk menghetahui bentuk, ukuran dan konsistensi organ-organ dan struktur-struktur didalam perut.
Sebelum melakukan palpasi, perawat dapat menghangatkan tangan. Tangan yang dingin bila dirabakan pada perut pasien akan membuat pasien secara reflek mengencangkan otot-otot perutnya sehingg akan menyulitkan pengkajian.
Untuk melakukan palpasi ringan, maka perawat meletakan telapak tangan pada perut pasien dengan jari-jari pararel terhadap perut. Jari-jari digerakan secara agak melingkar dan ditekankan ke bawah kira-kira sedalam 1 cm atau sedalam jaringan subkutan. Selama melakukan palpasi ringan, perawat tetap memperhatikan ekspereksi wajah pasien dan menganjurkan pasien untuk memberitahu area-area yang nyeri tekan, nyeri superfisial dan adanya massa.
Palpasi dalam dilakukan pada semua area empat kuadran perut, area yang sensitif dikerjakan paling akhir. Palpasi dikerjakan dengan cara menekan seperempat distal permukaan tangan pada tangan yang lain yang diletakan di dinding perut pasien. Penekanan kebawah dilakukan sedalam 4 sampai 5 cm atau mendekati jaringa. Perawat mencatat bila teraba adanya massa yang dijelaskan menurut ukuran, lokasi, mobilitas, kontur, konsistensi dan adanya nyeri tekan. Perawat harus teliti dalam mendeterminasi massa untuk menghindari kekeliruaan. Struktur-struktur dalam rongga perut normal yang sering dikira masa adalah batas lateral otot rektus abdominal, dan feses yang terdapat d:alam kolon asendens, desenden dan sigmoid.
Beberapa contoh lain dalam melakukan palpasi :
1) Posisi Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring terlentang. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru.
Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak tangan. Sedangkan untuk menentukan batas tepi organ, digunakan ujung jari. Diusahakan agar tidak melakukan penekanan yang mendadak, agar tidak timbul tahanan pada dinding abdomen.
2) Palpasi dimulai dari daerah superficial, lalu ke bagian dalam. Bila ada daerah yang dikeluhkan nyeri, sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir.
3) Bila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka pasien diminta untuk menekuk lututnya. Bedakan spasme volunteer & spasme sejati; dengan menekan daerah muskulus rectus, minta pasien menarik napas dalam, jika muskulus rectus relaksasi, maka itu adalah spasme volunteer. Namun jika otot kaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme sejati.
4) Palpasi bimanual; palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan, dimana tangan kiri berada di bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangan kanan di bagian depan dinding abdomen.
5) Pemeriksaan ballottement; cara palpasi organ abdomen dimana terdapat asites. Caranya dengan melakukan tekanan yang mendadak pada dinding abdomen & dengan cepat tangan ditarik kembali. Cairan asites akan berpindah untuk sementara, sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul. Teknik ballottement juga dipakai untuk memeriksa ginjal, dimana gerakan penekanan pada organ oleh satu tangan akan dirasakan pantulannya pada tangan lainnya.
6) Setiap ada perabaan massa, dicari ukuran/ besarnya, bentuknya, lokasinya, konsistensinya, tepinya, permukaannya, fiksasi/ mobilitasnya, nyeri spontan/ tekan, dan warna kulit di atasnya. Sebaiknya digambarkan skematisnya.
7) Palpasi hati; dilakukan dengan satu tangan atau bimanual pada kuadran kanan atas. Dilakukan palpasi dari bawah ke atas pada garis pertengahan antara mid-line & SIAS. Bila perlu pasien diminta untuk menarik napas dalam, sehingga hati dapat teraba. Pembesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa sentimeter di bawah prosesus xiphoideus

C. HASIL PEMERIKSAAN FISIK NORMAL DAN ABNORMAL

NO PEMERIKSAAN HASIL NORMAL HASIL ABNORMAL
1


















2














3











4

inspeksi


















Auskultasi














Perkusi











Palpasi • Permukaan perut normal nampak halus, lembut dengan kontur datar, melingkar atau cekung
• Bentuk simetris






• Warnanya normal tidak pucat


• Besar dan bentuk abdomen; rata,


• Peristaltik usus Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit.

• Suara pembuluh darah Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolic, atau kedua fase





• Bunyi timpani (organ berongga yang berisi udara, kecuali hati (redup, organ yang padat)
• Menentukan panjang hepar normal 6-12cm

• Perkusi pada ginjal normal jika klien tidak merasa nyeri

• Normal tidak ada perubahan massa,ukuran bentuk,lokasi, konsistensinya,tepinya hati


• Tidak ditemukan asites
• Apabila ada pembesaran, maka kulit perut manjadi tegang, licin, dan tipis.

• tidak simetris pada beberapa keadaan misalnya kehamilan, tumor dalam rongga perut, tumor ovarium atau tumor kandung kemih

• Keadaan kulit ; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman),

• Bentuk menonjol, atau scaphoid (cekung).


• Bila terdapat obstruksi usus, peristaltic meningkat disertai rasa sakit (borborigmi).

• Pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit). Pada hipertensi portal, terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium



• Pada perforasi usus, pekak hati akan menghilang.


• Hepar akan mengecil jika terjadi serosis hepatis

• Klien merasa nyeri



• Pembesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa sentimeter di bawah prosesus xiphoideus


• Ditemukan ada asites
Cairan asites akan berpindah untuk sementara, sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul.