Minggu, 13 Juni 2010

OSTEOARHRITIS

1. Osteoarthritis (OA)
a. Pengertian
Osteoarthritis adalah suatu gangguan persendian dimana terjadi perubahan berkurangnya tulang rawan sendi dan terjadi hipertropi tulang hingga terbentuk tonjolan pada permukaan sendi (osteopit )
(Yatim, 2006, h.26).
Osteoarthritis adalah didefinisikan sebagai kelompok kondisi yang menyebabkan gejala dan tanda sendi yang berhubungan dengan kerusakan intergritas kartilago artikular selain perubahan pada tulang yang mendasarinya (Valentina, 2007, h.351).
Osteoarthritis merupakan tipe paling umum dari arthitis, dan dijumpai khususnya pada orang-orang usia lanjut. Kadang-kadang kondisi ini disebut juga penyakit sendi degeneratif atau osteoathrosis (Niams, 2002).
b. Patofisiologi
Osteoarthritis terutama mempengaruhi kartilago, jaringan yang keras tapi licin, yang menutupi ujung-ujung tulang yang bertemu membentuk suatu sendi. Kartilago yang sehat memungkinkan tulang untuk bergerak dengan luwes satu sama lain. Kartilago juga mengabsorbsi energi dari guncanan akibat perpindaha fisik. Sedangkan pada osteoarthritis, terjadi pengikisan kartilago.
Pada osteoarthritis, permukaan lapisan kartilago terkikis dan aus. Hal ini yang menyebabkan tulang-tulang di bawah karilago bergesekan satu sama lain, menyebabkan nyeri, bengkak, dan keterbatasan gerak sendi. Beberapa waktu kemudian, sendi bisa kehilangan bentuk normalnya. Juga terjadi deposit tulang kecil, yang disebut osteofit atau “taji tulang” (bone spurs), yang tumbuh ditepi-tepi sendi. Kepingan tulang atau kartilago dapat patah dan mengembang di dalam ruang sendi. Hal ini menyebabkan nyeri dan kerusakan lebih lanjut. Pada osteoarthritis, kartilago menjadi aus. Taji tumbuh keluar dari ujung tulang, dan cairan sinovial meningkat. Kesemuanya menyebabkan sendi terasa kaku dan sakit (Niams, 2002).
Secara lebih spesifik, Lozada (2008) menyatakan bahwa terjadinya osteoarthritis dibagi dalam 3 tahapan sebagai berikut:
1) Tahap pertama : terjadi pemecahan proteolitik atas matriks kartilago. Hal ini berpengaruh terhadap metabolisme kondosit, yang menyebabkan terjadinya peningkatan produksi beberapa enzim, termasuk metalloproteinase (seperti kollagenase, stromelisin) yang merusak matriks kartilago. Kondrosit juga memproduksi inhibitor (penghambat) protase, termasuk Tissue Inhibitors of Metalloproteinases (TIMP) 1 dan 2 tetapi jumlahnya tidak cukup untuk menetralkan efek proteolitik tersebut.
2) Tahap kedua : tahap ini melibatkan fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, yang kemudian melepaskan fragmen proteoglikan dan kollagen ke dalam cairan sinovial.
3) Tahap ketiga : produk-produk pemecahan kartilago menginduksikan terjadinya suatu respoan inflamasi kronik dalam sinovium. Terjadilah produksi sitokin makrofag sinovial, seperti InterLeukin 1(IL-1), Tumor Necrosis factor-Alpha (TNF α), dan metalloproteinase. Produk ini dapat menyebar kembali ke dalam kartilago dan merusak aringan secara langsung atau menstimulasi kondrosit memproduksi metalloproteinase lebih banyak lagi. Molekul pro-inflamasi seperti Nitrit Oksida (NO), yang merupakan suatu radikal bebas inorganik dapat pula menjadi faktornya. Akhirnya, kondisi ini mengubah arsitektur sendi, dan sebagai kompensasinya pertumbuhan berlebihan dari tulang terjadi sebagai usaha untuk menstabilkan sendi. Selama arsitektur sendi berubah dan terjadi stres mekanis dan inflamasi lebih lanjut pada permukaan sendi, perkembangan penyakit ini tidak dapat dikendalikan.
Sebagai akibatnya, penderita osteoarthritis biasanya mengeluh nyeri sendi dan keterbatasan gerak. Tidak seperti bentu-bentuk arthitis lainya, seperti arthitis rematoid, osteoarthritis hanya mempengaruhi fungsi sendi dan tidak mempengaruhi jaringan kulit, paru, mata, atau pembuluh darah.
c. Manifestasi klinik
Menurut (Nusdwinuringtyas, 2008) pada umumnya penderita osteoarthritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahn-lahan. Gejala dapat berupa :
1) Nyeri sendi
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Ada tiga tempat yang dapat menjadi sumber nyeri, yaitu sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak. Kerusakan pada jaringan lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi, peradangan pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut penerima nyeri. Selain itu rasa nyeri dipengaruhi oleh keadaan psikologik pasien, sehingga dianjurkan untuk melakukan evaluasi psikologik dalam penatalaksanaan penderita osteoartrosis. Nyeri pada osteoarthritis, biasanya mempunyai irama diurnal, nyeri akan menghebat pada waktu bangun tidur dan sore hari.


2) Hambatan gerak sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri. Perubahan ini seringkali sudah ada meskipun pada osteoarthritis yang masih dini. Biasanya bertambah berat dengan semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya bisa digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris (salah satu arah gerakan saja).
3) Kaku pagi
Kaku sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah imobilitas seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur.
4) Krepitasi
Krepitasi berupa rasa gemeretak kadang-kadang dapat terdengar. Krepitus dapat ditemukan tanpa disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan nyeri yang tumpul. Gejala ini mungkin timbul karena gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi.
5) Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris
Kadang-kadang ditemukan pembengkakan sendi akibat efusi cairan sendi yang biasanya tak banyak.

d. Etiologi
Osteoarthritis primer, baik yang lokal maupun generalista, pada umumnya mempunyai etiolgi yang tidak diketahui (idiopatik). Kecuali, pada beberapa kasus yang jarang dimana suatu gen yang defektif ditemukan menjadi penyebab terjadinya suatu osteoarthritis tipe familial (Stitik, 2006).
Sedangkan pada osteoarthritis sekunder, penyebabnya bisa karena gangguan hormon, metabolik, trauma, inflamasi, atau kelainan anatomis (Gotlieb, 2003).
e. Jenis –Jenis Osteoarthritis
Menurut Anies (2006, h. 99) osteoarthritis dikelompokan manjad i:
1) Osteoarthritis primer jika penyebabnya tidak diketahui
2) Osteoarthritis sekunder jika penyebabnya adalah penyakit lain, misalnya penyakit paget (osteitis deformans), kelainan bentuk, cedera atau penggunaan sendi yang berlebihan).
f. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mengecek refleks dan kesehatan umum pasien, termasuk kekuatan ototnya, memeriksa sendi yang terganggu dan mengamati kemampuan pasien dalam berjalan, membungkuk, dan melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
Seseorang pasien secara klinis disebut positif menderita osteoarthritis bila memenuhi 3 dari 6 kriteria menurut American college of Rheumatology (ACR) dalam altman et al (1986) (dalam Syamsumin 2009 h, 27) yaitu sebagi berikut:
1) Usia > 50 tahun.
2) Kekakuan pada pagi hari< 30 menit.
3) Krepitasi
4) Nyeri tekan pada tulang.
5) Pembesaran tulang.
6) Pada palpasi sekitar sendi tidak teraba hangat.
Kriteria ini memiliki sensivitas sebesar 95% dan spesifitas 69%.
g. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan klinis dan radiologis. Pemeriksaan sinar X akan menunjukan menyempitnya ruang sendi yang disebabkan hancurnya tulang rawan artkular, tonjolan atau taji tulang, kista, dan deformitas atau kelainan bentuk pada persendian. Pemeriksaan laboraturium tidak didapatkan hasil yang spesifik pada penyakit oesteoartitis ini. complete blood count (CBC) dan erythhocyte sedimintation rate (ESR) biasanya normal dan faktor rhematoid dan antinuclear antibodies akan negatif (Charlene, gayle, & Robin 2001).
h. Faktor Risiko Osteoarthritis
Berikut ini adalah beberapa faktor risiko terkait osteoarthritis:
1) Jenis kelamin
Baik pria maupun wanita bisa menderita penyakit ini sebelum usia 45 tahun, lebih banyak pria daripada wanita yang menderita osteoarthritis (Niams, 2002). Pada usia 45-55 tahun prevalensi osteoarthritis pada keduanya setara. Namun, setelah usia 55 tahun osteoarthritis lebih sering diderita oleh wanita (Stitik, 2006).
2) Usia
Usia merupakan determinan utama pada osteoarthritis. osteoarthritis lebih sering diderita oleh orang usia lanjut, meskipun orang yang lebih muda juga dapat menderita hal yang sama. Pada pria yang berusia kurang dari 45 tahun, osteoarthritis yang terjadi terutama terkait dengan riwayat trauma yang dimiliki (Shiddiq et al, 2008).
3) Ras
Prevalensi dan pola keterlibatan sendi yang terkena osteoarthritis berbeda pada masing-masing ras.
4) Riwayat trauma sebelumnya
Trauma pada suatu sendi yang terjadi sebelumnya, biasanya mengakibatkan jejas atau malformasi sendi yang akan meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis. Trauma berpengaruh terhadap kartilago artikular, ligamen, atau meniskus yang menyebabkan biomekanika sendi menjadi abnormal, dan memicu terjadinya degenerasi prematur (Shiddiqui, 2008).



5) Genetik
Defek genetik pada gen pengatur kartilago sendi akan meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis pada seseorang (Davey, 2008).
6) Obesitas
Osteoarthritis lebih sering terjadi pada orang-orang yang mengalami obesitas daripada mereka yang kurus karena terkait dengan besarnya stres mekanis pada sendi penopang tubuh (Shiddiqui, 2008).
7) Pekerjaan
Osteoarthritis lebih sering terjadi pada mereka yang pekerjaanya memberikan tekanan pada sendi-sendi tertentu. Jenis pekerjaan juga mempengaruhi sendi mana yang cenderung terkena osteoarthritis.
i. Pencegahan Osteoarthritis
Menurut Hendrata (2007) pencegahan osteoarthritis sebagai berikut:
1) Menjaga berat badan, penurunan berat badan dapat mengurangi tekanan pada sendi penumpu berat badan, membatasi cedera lebih lanjut, dan meningkatkan mobilitas.
2) Melakukan jenis olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi. Contohnya berenang dan olahraga yang bisa dilakukan sambil duduk dan tiduran.
3) Aktivitas olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa untuk melakukan olahraga porsi berat pada usia lanjut. Tidak melakukan aktivitas gerak pun sangat tidak dianjurkan. Tubuh yang tidak digerakkan akan mengundang osteoporosis.
4) Menghindari trauma (perlukaan) pada persendian.
5) Meminum obat-obatan suplemen sendi (atas konsultasi dan anjuran dokter).
6) Mengkonsumsi makanan sehat.
7) Memilih alas kaki yang tepat & nyaman.
8) Lakukan relaksasi dengan berbagai teknik.
9) Hindari gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
10) Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan. Hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan tulang.
j. Pengobatan Osteoarthritis
Menurut Hendrata (2007) pengobatan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan luas pergerakan sendi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Cara pengobatan osteoarthritis adalah dengan cara :
1) Olahraga yang ringan yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi, seperti berenang, bersepeda, minimal 1 jam per hari.

2) Pengobatan untuk mengontrol nyeri
Obat-obatan diresepkan untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi sendi. Perlu pertimbangan sejumlah faktor ketika hendak memilih obat-obatan. Sebagian besar obat yang digunakan untuk menangani osteoarthritis memiliki efek samping.
3) Pereda nyeri non-obat
Penderita osteoarthritis dapat menemukan beberapa metode non-obat untuk meredakan nyeri dengan terapi panas dan dingin, transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS), pijat atau massage.
4) Suntik Sendi
Suntikan Kortikosteroid pada sendi (intra-artikular), yang mengurangi peradangan. Obat pelumas sendi yang disuntikkan ke sendi.
5) Terapi alternatif Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT)
ESWT merupakan alternatif cara pengobatan osteoarthritis sebelum pasien terpaksa dioperasi. ESWT biasanya digunakan jika rasa sakit tidak kunjung hilang setelah lebih dari enam bulan mencoba berbagai macam pengobatan konvensional non-operasi.
6) Operasi pembedahan
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasiesn osteoarthritis dengan kerusakan sendi yang nyata, dengan nyeri yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dapat dilakukan adalah osteotomi (untuk mengoreksi ketidak lurusan atau ketidak sesuaian) debridemen sendi (menghilangkan fragmen tulang rawan sendi), pembersihan osteofit, atroplasti total atau parsial dan artodesis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar