BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perut merupakan suatu bagian tubuh yang menyerupai rongga tempat beberapa organ-organ penting tubuh yaiu lambung, usus, hati, limpa serta ginjal. Bentuk perut yang normal adalah simetris baik pada orang yang gemuk maupun kurus. Perut menjadi besar dan tidak simetris pada beberapa keadaan misalnya kehamilan, tumor dalam rongga perut, tumor ovarium atau tumor kandung kemih. Permukaan perut normal nampak halus, lembut dengan kontur datar, melingkar atau cekung. Apabila ada pembesaran, maka kulit perut manjadi tegang, licin, dan tipis.
Kelengkapan dan keakuratan pengkajian perut tergantung pada ketepatan perawat dalam menanyakan riwayat kesehatan serta pada kemampuan perawat dalam mengkaitkan respon pasien dengan data hasil pengkajian fisik. Dalam pengkajian abdomen, perawat harus mendapatkan informasi pula tentang jenis makanan pasien, nafsu makan, pencernaan, pola buang air besar, obat yang diminum serta gangguan pencernaan yang pernah dan yang sedang dialami.
Dan sebagai perawat untuk menghetahui pola pemeliharaan kesehatan ajukan kebiasaan pasien yang berpengaruh terhadap sistem pencernaan misalnya, kebiasaan merokok (kanker mulut), minum alkohol (penyakit pankreas dan hepar), penggunaan kafein (iritasi lambung, penurunan gerakan usus), aktifitas/olahraga (konstipasi) dan sumber strees.
Setelah data riwayat kesehatan terkumpul, maka lakukan pegkajian fisik. Tehnik yang digunakan dalam melakukan pengkajian abdomen adalah inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi. Sebelum melakukan pengkajian maka perawat harus mempersiapkan pasien sehingga hasil pengkajian yang diperoleh lebih akurat.
Dalam melakukan pengkajian abdomen, perawat harus memahami struktur anatomi perut yang meliputi daerah-daerah dan batas-batas perut. Untuk mempermudah pemeriksaan, secara anatomis perut dibagi menjadi empat kuadran (kuadran kanan atas, kuadran kanan bawah, kuadran iri atas, kuadaran kiri bawah). Dan sembilan daerah (hipokandrium kanan ,epigastrik, hipokandrium kiri, lumbal kanan, umbilikus, lumbal kiri, iliaka kanan, hipogastrik/suprapubik, iliaka kiri.
B. TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mambaca dan mempraktekan latihan pemeriksaan fisik abdomen, mahasiswa keperawatan diharapkan mampu :
1. Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik abdomen.
2. Memahami dan mendemomstrasikan tehnik pemeriksaan fisik abdomen.
3. Menjelaskan ciri-ciri hasil pemeriksaan fisik normal dan abnormal.
BAB 2
PEMBAHASAN MATERI
A. PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
Urutan teknik pemeriksaan pada abdomen ialah inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.
Ada dua macam cara pembagian topografi abdomen yang umum dipakai untuk menentukan lokalisasi kelainan, yaitu:
1. Pembagian atas empat kuadran, dengan membuat garis vertikal dan horizontal melalui umbilicus, sehingga terdapat daerah kuadran kanan atas, kiri atas, kanan bawah, dan kiri bawah.
2. Pembagian atas sembilan daerah, dengan membuat dua garis horizontal dan dua garis vertikal.
Garis horizontal pertama dibuat melalui tepi bawah tulang rawan iga kesepuluh dan yang kedua dibuat melalui titik spina iliaka anterior superior (SIAS). Garis vertikal dibuat masing-masing melalui titik pertengahan antara SIAS dan mid-line abdomen. Terbentuklah daerah hipokondrium kanan, epigastrium, hipokondrium kiri, lumbal kanan, umbilical, lumbal kanan, iliaka kanan, hipogastrium/ suprapubik, dan iliaka kiri.
B. TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
a. INSPEKSI
Inspeksi dilakukan pertama kali dengan tujuan untuk menghetahui bentuk dan gerakan-gerakan perut. Langkah kerja inspeksi dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. Yang perlu diperhatikan adalah
1) Keadaan kulit ; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman), elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi), kering (dehidrasi), lembab (asites), dan adanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik, ikterus obstruktif), jaringan parut (tentukan lokasinya), striae (gravidarum/ cushing syndrome), pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensi portal).
2) Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol, atau scaphoid (cekung).
3) pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit). Pada hipertensi portal, terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas.
4) Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa.
5) Pulsasi; pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical
b. AUSKULTASI
Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltic usus yang disebabkan oleh perpndahan gas atau makanan sepanjang intestinum, serta suara pembuluh darah. Pada keadaan-keadaan tertentu suara yang didengar secara auskultasi dapat melemah, Langkah kerja :
1) Siapkan stetoskop, hangatkan tangan dan bagian diafragma stetoskop
2) Tanya pasien tentang waktu terakhir makan. Suara usus meningkat pada organ setelah makan.
3) Tentukan bagian stetoskop yang akan digunakan. Bagian diafragma digunakan untuk mendengar suara usus, sedangkan bagian bell (sungkup) untuk mendengarkan suara pembuluh darah
4) Letakan diafragma stetoskop dengan tekanan ringan pada setiap area empat kuadaran perut dan denar suara peristaltik aktif dan suara mendenguk (gurgling) yang secara normal terdengar setiap 5 sampai 20 detik dengan durasi kurang atau lebih dari satu detik. Frekuensi suara terantung pada status pencerna makan atau ada tidaknya makanan dalam saluran pencernaan. Dalam pelaporanya, suara usus dapat dinyatakan dengan terdengar, tidak ada/hipoaktif, sangat lambat, hiperaktif atau meningkat. Bila suara usus terdengar jarang sekali/tidak ada maka sebelum dipastikan dengarkan dahulu selama tiga sampai lima menit.
5) Letakan bagian bell (sungkup) stetoskop diatas aorta, arteri, renale dan arteri iliaka. Dengarkan suara-suara arteri/bruits. Auskulatsi pada aorta dilakukan dari arah superior ke umbilikus. Auskulatsi arteri renale dilakukan dengan cara meletakan stetoskop pada garis tengah perut atau ke arah kanan kiri dan garis perut bagian atas mendekati panggul. Auskultasi arteri iliaka dilakukan dengan cara meletakan stetoskop pada area bawah umbiliku disebelah kanan dan kiri garis tengah perut.
6) Letakan bagian bell stetoskop diatas area preumbilikal (sekeliling umbilikus) untuk mendengarkan bising vena (jarang terdengar)
7) Dalam melakukan askultasi pada setiap tempat khususnya pada area hepar dan lien, kaji pula kemungkinan terdengar suara-suara gesekan seperti suara gesekan dua benda. Untuk mengkaji suara gesekan pada area lien maka letakan stetoskop pada area batas bawah tulang rusuk digaris aksilaris anterior dan suruh pasien menarik nafas dalam. Untuk mengkaji gesekan pada daerah hepar, letakan stetiskop pada sisi bawah kanan tulang rusuk.
c. PERKUSI
Perkusi dilakukan dengan tujuan untuk mendengarkan/mendeteksi adanya gas, cairan, atau masa didalam perut. Perkusi juga dilakukan untuk menghetahui posisi lien dan hepar. mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan, menentukan besarnya hati, limpa, ada tidaknya asites, adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista), adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus, serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. Suara perkusi abdomen yang normal adalah timpani (organ berongga yang berisi udara), kecuali di daerah hati (redup; organ yang padat).
1) Orientasi abdomen secara umum.
Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). Pada perforasi usus, pekak hati akan menghilang.
2) Cairan bebas dalam rongga abdomen
Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suara dullness dominant. Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bila pasien dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah.
3) Cara pemeriksaan asites:
Pemeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave).
Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Prinsipnya adalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang akan diteruskan ke sisi yang lain.
Pasien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan kiri pada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. Tangan kiri kan merasakan adanya tekanan gelombang.
4) Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness).
Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. Pasien tidur terlentang, lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Lalu pasien diminta tidur miring pada satu sisi, lakukan perkusi lagi, tandai tempat peralihan suara timpani ke redup maka akan tampak adanya peralihan suara redup.
d. PALPASI
Palpasi dapat dilakukan secara palpasi ringan atau palpasi dalam tergantung pada tujuanya. Perawat yang melakukan palpasi dalam tidak boleh mempunyai kuku yang panjang karena dapat melukai pasien dan menyulitkan pengkajian. Palpasi dilakukan dengan tujuan untuk menghetahui bentuk, ukuran dan konsistensi organ-organ dan struktur-struktur didalam perut.
Sebelum melakukan palpasi, perawat dapat menghangatkan tangan. Tangan yang dingin bila dirabakan pada perut pasien akan membuat pasien secara reflek mengencangkan otot-otot perutnya sehingg akan menyulitkan pengkajian.
Untuk melakukan palpasi ringan, maka perawat meletakan telapak tangan pada perut pasien dengan jari-jari pararel terhadap perut. Jari-jari digerakan secara agak melingkar dan ditekankan ke bawah kira-kira sedalam 1 cm atau sedalam jaringan subkutan. Selama melakukan palpasi ringan, perawat tetap memperhatikan ekspereksi wajah pasien dan menganjurkan pasien untuk memberitahu area-area yang nyeri tekan, nyeri superfisial dan adanya massa.
Palpasi dalam dilakukan pada semua area empat kuadran perut, area yang sensitif dikerjakan paling akhir. Palpasi dikerjakan dengan cara menekan seperempat distal permukaan tangan pada tangan yang lain yang diletakan di dinding perut pasien. Penekanan kebawah dilakukan sedalam 4 sampai 5 cm atau mendekati jaringa. Perawat mencatat bila teraba adanya massa yang dijelaskan menurut ukuran, lokasi, mobilitas, kontur, konsistensi dan adanya nyeri tekan. Perawat harus teliti dalam mendeterminasi massa untuk menghindari kekeliruaan. Struktur-struktur dalam rongga perut normal yang sering dikira masa adalah batas lateral otot rektus abdominal, dan feses yang terdapat d:alam kolon asendens, desenden dan sigmoid.
Beberapa contoh lain dalam melakukan palpasi :
1) Posisi Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring terlentang. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru.
Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak tangan. Sedangkan untuk menentukan batas tepi organ, digunakan ujung jari. Diusahakan agar tidak melakukan penekanan yang mendadak, agar tidak timbul tahanan pada dinding abdomen.
2) Palpasi dimulai dari daerah superficial, lalu ke bagian dalam. Bila ada daerah yang dikeluhkan nyeri, sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir.
3) Bila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka pasien diminta untuk menekuk lututnya. Bedakan spasme volunteer & spasme sejati; dengan menekan daerah muskulus rectus, minta pasien menarik napas dalam, jika muskulus rectus relaksasi, maka itu adalah spasme volunteer. Namun jika otot kaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme sejati.
4) Palpasi bimanual; palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan, dimana tangan kiri berada di bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangan kanan di bagian depan dinding abdomen.
5) Pemeriksaan ballottement; cara palpasi organ abdomen dimana terdapat asites. Caranya dengan melakukan tekanan yang mendadak pada dinding abdomen & dengan cepat tangan ditarik kembali. Cairan asites akan berpindah untuk sementara, sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul. Teknik ballottement juga dipakai untuk memeriksa ginjal, dimana gerakan penekanan pada organ oleh satu tangan akan dirasakan pantulannya pada tangan lainnya.
6) Setiap ada perabaan massa, dicari ukuran/ besarnya, bentuknya, lokasinya, konsistensinya, tepinya, permukaannya, fiksasi/ mobilitasnya, nyeri spontan/ tekan, dan warna kulit di atasnya. Sebaiknya digambarkan skematisnya.
7) Palpasi hati; dilakukan dengan satu tangan atau bimanual pada kuadran kanan atas. Dilakukan palpasi dari bawah ke atas pada garis pertengahan antara mid-line & SIAS. Bila perlu pasien diminta untuk menarik napas dalam, sehingga hati dapat teraba. Pembesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa sentimeter di bawah prosesus xiphoideus
C. HASIL PEMERIKSAAN FISIK NORMAL DAN ABNORMAL
NO PEMERIKSAAN HASIL NORMAL HASIL ABNORMAL
1
2
3
4
inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi • Permukaan perut normal nampak halus, lembut dengan kontur datar, melingkar atau cekung
• Bentuk simetris
• Warnanya normal tidak pucat
• Besar dan bentuk abdomen; rata,
• Peristaltik usus Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit.
• Suara pembuluh darah Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolic, atau kedua fase
• Bunyi timpani (organ berongga yang berisi udara, kecuali hati (redup, organ yang padat)
• Menentukan panjang hepar normal 6-12cm
• Perkusi pada ginjal normal jika klien tidak merasa nyeri
• Normal tidak ada perubahan massa,ukuran bentuk,lokasi, konsistensinya,tepinya hati
• Tidak ditemukan asites
• Apabila ada pembesaran, maka kulit perut manjadi tegang, licin, dan tipis.
• tidak simetris pada beberapa keadaan misalnya kehamilan, tumor dalam rongga perut, tumor ovarium atau tumor kandung kemih
• Keadaan kulit ; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman),
• Bentuk menonjol, atau scaphoid (cekung).
• Bila terdapat obstruksi usus, peristaltic meningkat disertai rasa sakit (borborigmi).
• Pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit). Pada hipertensi portal, terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium
• Pada perforasi usus, pekak hati akan menghilang.
• Hepar akan mengecil jika terjadi serosis hepatis
• Klien merasa nyeri
• Pembesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa sentimeter di bawah prosesus xiphoideus
• Ditemukan ada asites
Cairan asites akan berpindah untuk sementara, sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar