Senin, 26 Oktober 2009

ALBUMIN

Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnya—terdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolisme—asam lemak bebas dan bilirubuin—dan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.

Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal, berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria – keberadaan sejumlah kecil protein albumin dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung – dalam kelompok pasien HIV-positif dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34% orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua (p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4 cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan NNRTI (p < 0,05).
“Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal”, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, “prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.”
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 – 1009, 2007.
Edit terakhir: 1 Juni 2007

Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility, including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron (transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns, protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture, genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A) deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL

http://dewabenny.blogspot.com/
Hipoalbuminemia
Hipoalbumin
Sumber : http://dewabenny.com/2008/06/22/hipoalbumin/
Pendahuluan
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki beberapa fungsi penting :
1. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar 75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema
2. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.
3. Perubahan pada albumin akan menyebabkan gangguan fungsi platelet
Kadar normal albumin dalam darah antara 3,5-4,5 g/dl, dengan jumlah total 300-500 g. sintesis terjadi hanya di sel hati dengan produksi sekitar 15 g/ hari pada orang sehat, tetapi jumlah yang dihasilkan bervariasi signifikan pada berbagai tipe stress fisiologis. Waktu paruh albumin sekitar 20 hari, dengan kecepatan degradasi 4 % per hari
Hipoalbuminemia merupakan masalah yang sering dihadapai pada orang dengan kondisi medis akut atau kronik. Pada saat masuk rumah sakit sekitar 20 % pasien sudah menderita. Kadara albumin darah yang rendah menjadi predictor penting berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas. Pada penelitian meta-analisis didapatkan setiap penurunan albumin darah sebesar 10 g/L, anka mortalitas meningkat 137 % dan morbiditas 89%
Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut maupun kronis.
1. Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati
2. Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien deng sirosis hepatis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
3. Kehilangan protein ekstravaskular
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka bakar yang luas.
4. Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan ascites
5. Inflamasi akut dan kronis
Kada albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme berikut:
1. Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk berdifusi ke ruang ekstravaskular)
2. Peningkatan degradasi albumin
3. Penurunan sintesis albumin (TNF-α yang berperan dalam penuruanan trankripsi gen albumin)
Diposting oleh dewabenny di 9:30 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Kedokteran

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/Jabar/10782.htm
Forum
Hipertensi Menakutkan, Tetapi Bisa Dikendalikan
Oleh Henhen Heryaman
Berdasarkan data statistik kesehatan di Amerika, sedikitnya terdapat 50 juta penderita hipertensi, sedangkan di seluruh dunia berkisar satu miliar penderita. Di Indonesia belum terdapat data pasti berapa jumlah penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi bersifat long term treatment sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang diagnosisnya ditegakkan dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi secara etiologi atau penyebab dibagi menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial (lebih kurang 85 persen) dan hipertensi sekunder (sekitar 15 persen). Penyebab hipertensi esensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Adapun penyebab hipertensi sekunder dapat diketahui, salah satunya akibat penyakit ginjal.
Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital tubuh yang menggambarkan dua variabel organ penting, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung berfungsi sebagai pompa yang menyuplai makanan dan mengantarkan oksigen yang berada di dalam sel darah merah yang berikatan dengan hemoglobin. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengantarkan cairan darah yang terdiri dari sel darah, sumber nutrisi bagi sel dan air.
Darah terdiri dari sel darah, protein, glukosa (gula darah), air, dan mineral. Semakin banyak volume darah yang dipompakan jantung, secara matematis dapat dilihat bahwa tekanan darah berbanding lurus dengan volume darah. Makin banyak volume darah yang berada di jantung, semakin tinggi tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan isinya.
Volume darah dipengaruhi kadar air dan elektrolit yang ada di dalam cairan darah. Makin banyak air yang ada di dalam cairan darah, semakin banyak volume darahnya. Kadar air ini dipengaruhi adanya elektrolit dan gula darah.
Untuk memudahkan pemahaman, analoginya adalah manisan belimbing. Apabila belimbing direndam dalam cairan gula, air yang dikandung belimbing akan keluar sehingga belimbing terlihat mengerut karena airnya sudah berpindah. Kadar gula yang meningkat di dalam pembuluh darah akan menarik air yang berada di luar pembuluh darah untuk berpindah ke dalam pembuluh darah.
Selain gula darah, yang paling berperan adalah protein darah, terutama albumin. Albumin berperan mempertahankan air yang berada di dalam pembuluh darah agar tidak berpindah ke luar pembuluh. Secara fisika hal ini dikenal dengan tekanan onkotik. Kadar albumin dipengaruhi oleh intake makanan sumber protein dan ginjal yang berfungsi untuk mencegah protein terbuang ke urine, yang disebut fungsi filtrasi.
Pada penderita yang kekurangan gizi protein, kadar albumin juga mengalami penurunan. Perutnya akan terlihat buncit, tetapi badannya kurus. Hal ini dikarenakan air yang ada di pembuluh darah berpindah ke rongga perut. Kelainan pada ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal, yaitu untuk mempertahankan albumin supaya tidak terbuang ke dalam urine. Sebab, kandungan albumin di dalam urine dapat dijadikan indikator adanya gangguan fungsi ginjal. Penyakit ginjal yang mengakibatkan kadar albumin turun disebut nefrotic syndrome. Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan istilah bocor ginjal.
Faktor psikis
Pembuluh darah yang kurang elastis mengakibatkan resistensi (tahanan) perifer yang meningkat berbanding lurus dengan tekanan darah. Pembuluh darah dipengaruhi berbagai faktor, antara lain rokok dan emosi.
Bagaimana rokok bisa memengaruhi pembuluh darah? Banyak penelitian tentang rokok, kandungan zat beracun, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Peringatan akan bahaya rokok sering ditampilkan bersama iklan rokok. Salah satunya, rokok dapat mengakibatkan penyakit jantung dan hipertensi. Rokok, selain mengandung zat racun (toksin) yang berjumlah jutaan, juga menjadi oksidan (radikal bebas) yang merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan keelastisan pembuluh darah berkurang. Akibatnya, tekanan darah meningkat.
Hipertensi dipengaruhi juga oleh faktor psikis (emosi). Pada saat cemas atau dalam keadaan marah, tubuh melepaskan hormon katekolamin yang berpengaruh terhadap peningkatan resistensi perifer dari pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Ada kalanya hipertensi tidak menimbulkan gejala, tergantung dari tinggi rendahnya tekanan sistole dan diastole. Penderita lebih sering mengeluhkan adanya nyeri kepala berat atau dalam dunia kedokteran disebut tension type headache. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sulit dikontrol, terutama oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Atau, biasanya penderita hipertensi sudah mempunyai sensor tertentu. Maka, apabila tidak merasakan adanya keluhan, penderita tidak akan memeriksakan tekanan darahnya. Keinginan untuk memeriksakan diri timbul saat mulai dirasakan adanya keluhan.
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Komplikasi yang paling sering adalah stroke, penyakit jantung koroner, dan akhirnya menjadi gagal jantung dan gagal ginjal. Penyakit stroke dan jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penatalaksanaan hipertensi
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi nonmedika mentosa (nonfarmakologi) dan medika mentosa (obat-obatan). Pengobatan nonmedika mentosa adalah pengobatan tanpa obat-obatan antihipertensi. Pengobatannya berdasarkan masukan garam dapur dengan diet rendah garam, olahraga, penurunan berat badan, dan perbaikan gaya hidup seperti menghindari beralkohol.
Pengobatan hipertensi bersifat long term therapy. Hal ini karena penyebab pasti belum diketahui sehingga pasien harus rajin minum obat antihipertensi. Apabila tidak teratur, bisa mengakibatkan percepatan komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner.
Namun, bukan berarti penyakit yang satu ini tidak dapat dikendalikan atau diobati. Ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada penderita hipertensi atau yang berisiko menderita hipertensi, seperti mempunyai riwayat keluarga penderita hipertensi.
Pertama, sebaiknya dilakukan kontrol teratur minimal satu bulan sekali atau mengukur sendiri tekanan darahnya bagi penderita hipertensi golongan ringan (prehi-pertensi). Bila terjadi peningkatan tekanan darah, segera konsultasikan kepada dokter agar dapat dilakukan penanganan lebih dini.
Kedua, mengendalikan atau mengubah gaya hidup, seperti menghindari kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, membiasakan diri melakukan olahraga teratur, dan melakukan diet rendah garam.
Ketiga, bila setelah dilakukan pengaturan gaya hidup tekanan darah tidak berubah, sebaiknya penderita mengonsumsi obat-obatan antihipertensi. Dengan saran-saran yang telah diberikan, semoga tekanan darah penderita hipertensi tetap dalam keadaan terkontrol dan akhirnya berbagai komplikasi dapat dihindari.
Henhen Heryaman Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung

http://www.topklik.com/ALKUTEN
Welcome to Alkuten Sehati - Sari Kutuk/Gabus "ALKUTEN" 100% AlbuminAlbumin merupakan jenis Protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai
kadar 60%. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Didalam ilmu
kedokteran, Albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringansel tubuh yang terbelah/rusak. Albumin juga berperan mengikat Obat-obatan Serta Logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.

GEL SARI IKAN KUTUK/GABUS adalah ekstrak/Sari Ikan dalm bentuk jell tanpa rasa amis dari Kutuk pilihan dan asli, mengandung Channa Albumin serta Asam Amino Esensial lengkap yang pentingbuat tubuh. Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus ini dibuat melalui penelitian para ahli dengan Cara pembuatan yang hygienis tanpa bahan kimia dan pengawet.

Sejak dahulu Ikan KUTUK/GABUS dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi Pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan hal ini dikarenakan Ikan KUTUK/GABUS mengandung protein yang tinggi (Albumin), sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka.Hampir semua pasien berkadar Albumin rendah yang diberi Sari Ikan KUTUK/GABUS ini, kadar Albuminnya naik lebih cepat dari pada pemberian Albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrom, Tonsilitis,Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, Gizi Buruk, Sepsis, Stroke, ITP (Idiopatik Trombosit Tupenia Purpura), HIV, Thalasemia Minor , Autis, Kondisi ini bisa lebih baik dengan pemberian Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus

KHASIAT & KEGUNAAN :
1. Meningkatkan kadar Albumin dan Daya Tahan Tubuh.
2. Mempercepat proses penyembuhan Pasca Operasi.
3. Mempercepat penyembuhan Luka Dalam / Luka Luar.
4. Membantu proses penyembuhan pada penyakit :
Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome,Tonsilitis,
Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, ITP, HIV, Sepsis,
Stroke, Thalasemia Minor.
5. Menghilangkan Oedem (Pembengkakan).
6. Memperbaiki Gizi Buruk pada Bayi, Anak dan Ibu Hamil.
7. Membantu penyembuhan Autis.
http://www.lmi-amilzakat.com/?mod=news&id=135
Ikan Gabus atau Kutuk-Dulu di Caci, Kini di Cari
Dikirim pada hari Kamis, 11 Sep 2008


Halal September
Ikan Gabus atau Kutuk
Dulu di Caci, Kini di Cari

Ikan Gabus atau biasa disebut Ikan Kutuk (lokal) ini sekilas memang mirip dengan ular. Kepalanya hitam lengkap dengan gigi yang bergerigi dan runcing. Bentuk tubuhnya bulat memanjang, dimana di bagian posterior (pangkal ekor, bawah perut) pipih. Bahkan sebagian masyarakat masih memiliki kesan bahwa makan ikan kutuk sama halnya memakan ular. Padahal, ikan kutuk adalah ikan air tawar yang bersifat karnivora. Makanannya adalah cacing, katak, anak-anak ikan, udang, insekta, dan ketam.

Ikan yang memiliki nama latin Ophiocephalus Striatus ini, mudah ditemukan di perairan umum seperti danau, rawa, dan sungai. Ikan gabus ini juga bisa hidup di perairan payau. Ikan gabus mudah ditemukan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, dan Ambon. Hanya, nama ikan gabus di masing-masing daerah berbeda.

Semenjak diangkat dalam satu penelitian khusus oleh Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, guru besar ilmu biokimia ikan Fakultas Perikanan Unibraw (Universitas Brawijaya) pada 2003. Fenomena ikan gabus yang konon katanya berkhasiat ini kini makin dicari masyarakat. Bahkan harganya pun semakin mahal pula.

Dalam penelitian berjudul Albumin Ikan Gabus (Ophiochepalus striatus) sebagai Makanan Fungsional Mengatasi Permasalahan Gizi Masa Depan, Eddy mengupas habis tentang potensi ikan gabus. "Dilihat dari kandungan asam aminonya, ikan gabus memiliki struktur yang lebih lengkap dibandingkan jenis ikan lain," katanya kepada Radar Malang (Grup Jawa Pos) (19/9).

Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu, ikan gabus segar, kebanyakan di jual dalam keadaan hidup merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berrawa atau sungai.

Daging ikan gabus sebenarnya tidak hanya menjadi sumber protein, tapi juga sumber mineral lainnya. Di antaranya, zinc (seng) dan trace element lain yang diperlukan tubuh. Hasil studi Eddy pernah di ujicobakan di instalasi gizi serta bagian bedah RSU dr. Saiful Anwar Malang. Uji coba tersebut dilakukan pada pasien pasca operasi dengan kadar albumin rendah (1,8 g/dl). "Dengan perlakuan 2 kg ikan kutuk masak per hari, telah meningkatkan kadar albumin darah pasien menjadi normal (3,5-5,5 g/dl)," ujarnya.

Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama penderita hipoalbumin (rendah albumin) yang sedang dalam proses penyembuhan luka-luka. Baik luka pascaoperasi maupun luka bakar. Bahkan, di daerah pedesaan, anak laki-laki pasca dikhitan selalu dianjurkan mengonsumsi ikan jenis itu agar penyembuhan lebih cepat.

Caranya, daging ikan kutuk dikukus atau di-steam, sehingga memperoleh filtrate, yang dijadikan menu ekstra bagi penderita hipoalbumin dan luka. Pemberian menu ekstrak filtrat ikan kutuk tersebut berkorelasi positif dengan peningkatan kadar albumin plasma dan penyembuhan luka pasca operasi. (fin/dari pelbagai sumber)


http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/Jabar/10782.htm
Forum
Hipertensi Menakutkan, Tetapi Bisa Dikendalikan
Oleh Henhen Heryaman
Berdasarkan data statistik kesehatan di Amerika, sedikitnya terdapat 50 juta penderita hipertensi, sedangkan di seluruh dunia berkisar satu miliar penderita. Di Indonesia belum terdapat data pasti berapa jumlah penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi bersifat long term treatment sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang diagnosisnya ditegakkan dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi secara etiologi atau penyebab dibagi menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial (lebih kurang 85 persen) dan hipertensi sekunder (sekitar 15 persen). Penyebab hipertensi esensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Adapun penyebab hipertensi sekunder dapat diketahui, salah satunya akibat penyakit ginjal.
Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital tubuh yang menggambarkan dua variabel organ penting, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung berfungsi sebagai pompa yang menyuplai makanan dan mengantarkan oksigen yang berada di dalam sel darah merah yang berikatan dengan hemoglobin. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengantarkan cairan darah yang terdiri dari sel darah, sumber nutrisi bagi sel dan air.
Darah terdiri dari sel darah, protein, glukosa (gula darah), air, dan mineral. Semakin banyak volume darah yang dipompakan jantung, secara matematis dapat dilihat bahwa tekanan darah berbanding lurus dengan volume darah. Makin banyak volume darah yang berada di jantung, semakin tinggi tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan isinya.
Volume darah dipengaruhi kadar air dan elektrolit yang ada di dalam cairan darah. Makin banyak air yang ada di dalam cairan darah, semakin banyak volume darahnya. Kadar air ini dipengaruhi adanya elektrolit dan gula darah.
Untuk memudahkan pemahaman, analoginya adalah manisan belimbing. Apabila belimbing direndam dalam cairan gula, air yang dikandung belimbing akan keluar sehingga belimbing terlihat mengerut karena airnya sudah berpindah. Kadar gula yang meningkat di dalam pembuluh darah akan menarik air yang berada di luar pembuluh darah untuk berpindah ke dalam pembuluh darah.
Selain gula darah, yang paling berperan adalah protein darah, terutama albumin. Albumin berperan mempertahankan air yang berada di dalam pembuluh darah agar tidak berpindah ke luar pembuluh. Secara fisika hal ini dikenal dengan tekanan onkotik. Kadar albumin dipengaruhi oleh intake makanan sumber protein dan ginjal yang berfungsi untuk mencegah protein terbuang ke urine, yang disebut fungsi filtrasi.
Pada penderita yang kekurangan gizi protein, kadar albumin juga mengalami penurunan. Perutnya akan terlihat buncit, tetapi badannya kurus. Hal ini dikarenakan air yang ada di pembuluh darah berpindah ke rongga perut. Kelainan pada ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal, yaitu untuk mempertahankan albumin supaya tidak terbuang ke dalam urine. Sebab, kandungan albumin di dalam urine dapat dijadikan indikator adanya gangguan fungsi ginjal. Penyakit ginjal yang mengakibatkan kadar albumin turun disebut nefrotic syndrome. Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan istilah bocor ginjal.
Faktor psikis
Pembuluh darah yang kurang elastis mengakibatkan resistensi (tahanan) perifer yang meningkat berbanding lurus dengan tekanan darah. Pembuluh darah dipengaruhi berbagai faktor, antara lain rokok dan emosi.
Bagaimana rokok bisa memengaruhi pembuluh darah? Banyak penelitian tentang rokok, kandungan zat beracun, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Peringatan akan bahaya rokok sering ditampilkan bersama iklan rokok. Salah satunya, rokok dapat mengakibatkan penyakit jantung dan hipertensi. Rokok, selain mengandung zat racun (toksin) yang berjumlah jutaan, juga menjadi oksidan (radikal bebas) yang merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan keelastisan pembuluh darah berkurang. Akibatnya, tekanan darah meningkat.
Hipertensi dipengaruhi juga oleh faktor psikis (emosi). Pada saat cemas atau dalam keadaan marah, tubuh melepaskan hormon katekolamin yang berpengaruh terhadap peningkatan resistensi perifer dari pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Ada kalanya hipertensi tidak menimbulkan gejala, tergantung dari tinggi rendahnya tekanan sistole dan diastole. Penderita lebih sering mengeluhkan adanya nyeri kepala berat atau dalam dunia kedokteran disebut tension type headache. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sulit dikontrol, terutama oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Atau, biasanya penderita hipertensi sudah mempunyai sensor tertentu. Maka, apabila tidak merasakan adanya keluhan, penderita tidak akan memeriksakan tekanan darahnya. Keinginan untuk memeriksakan diri timbul saat mulai dirasakan adanya keluhan.
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Komplikasi yang paling sering adalah stroke, penyakit jantung koroner, dan akhirnya menjadi gagal jantung dan gagal ginjal. Penyakit stroke dan jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penatalaksanaan hipertensi
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi nonmedika mentosa (nonfarmakologi) dan medika mentosa (obat-obatan). Pengobatan nonmedika mentosa adalah pengobatan tanpa obat-obatan antihipertensi. Pengobatannya berdasarkan masukan garam dapur dengan diet rendah garam, olahraga, penurunan berat badan, dan perbaikan gaya hidup seperti menghindari beralkohol.
Pengobatan hipertensi bersifat long term therapy. Hal ini karena penyebab pasti belum diketahui sehingga pasien harus rajin minum obat antihipertensi. Apabila tidak teratur, bisa mengakibatkan percepatan komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner.
Namun, bukan berarti penyakit yang satu ini tidak dapat dikendalikan atau diobati. Ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada penderita hipertensi atau yang berisiko menderita hipertensi, seperti mempunyai riwayat keluarga penderita hipertensi.
Pertama, sebaiknya dilakukan kontrol teratur minimal satu bulan sekali atau mengukur sendiri tekanan darahnya bagi penderita hipertensi golongan ringan (prehi-pertensi). Bila terjadi peningkatan tekanan darah, segera konsultasikan kepada dokter agar dapat dilakukan penanganan lebih dini.
Kedua, mengendalikan atau mengubah gaya hidup, seperti menghindari kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, membiasakan diri melakukan olahraga teratur, dan melakukan diet rendah garam.
Ketiga, bila setelah dilakukan pengaturan gaya hidup tekanan darah tidak berubah, sebaiknya penderita mengonsumsi obat-obatan antihipertensi. Dengan saran-saran yang telah diberikan, semoga tekanan darah penderita hipertensi tetap dalam keadaan terkontrol dan akhirnya berbagai komplikasi dapat dihindari.
Henhen Heryaman Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung


Ikan gabusDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasLangsung ke: navigasi, cari

Ikan Gabus

Ikan gabus, Channa striata
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalial
Filum:
Chordata
Kelas:
Actinopterygii
Ordo:
Perciformes
Famili:
Channidae
Genus:
Channa
Spesies:
C. striata


Nama binomial
Channa striata
(Bloch, 1793)
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di pelbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793).
[sunting] Pemerian
Kepala ikan gabus
Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.
Sisi atas tubuh --dari kepala hingga ke ekor-- berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.
[sunting] Kebiasaan
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.
Seringkali ikan gabus terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada ikan lele atau betok) namun lebih primitif.
Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.
[sunting] Penyebaran
Ikan gabus menyebar luas mulai dari Pakistan di barat, Nepal bagian selatan, kebanyakan wilayah di India, Bangladesh, Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, dan sebagian besar wilayah di Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat.
[sunting] Keragaman Jenis
Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.
Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula.
Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.
[sunting] Manfaat dan Kerugian
Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu ikan gabus segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berawa atau sungai.

Ikan gabus juga merupakan ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus relatif mudah dipancing. Namun giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.
Akan tetapi ikan ini juga dapat sangat merugikan, yakni apabila masuk ke kolam-kolam pemeliharaan ikan (Meskipun beberapa kerabat gabus di Asia juga sengaja dikembangbiakkan sebagai ikan peliharaan). Gabus sangat rakus memangsa ikan kecil-kecil, sehingga bisa menghabiskan ikan-ikan yang dipelihara di kolam, utamanya bila ikan peliharaan itu masih berukuran kecil.
Sejak beberapa tahun yang lalu di Amerika utara, ikan ini dan beberapa kerabat dekatnya yang sama-sama termasuk snakehead fishes diwaspadai sebagai ikan berbahaya, yang dapat mengancam kelestarian biota perairan di sana. Jenis-jenis snakehead sebetulnya masuk ke Amerika sebagai ikan akuarium. Kemungkinan karena kecerobohan, maka kini snakehead juga ditemui di alam, di sungai-sungai dan kolam di Amerika. Dan karena sifatnya yang buas dan invasif, Pemerintah Amerika khawatir ikan-ikan itu akan cepat meluas dan merusak keseimbangan alam perairan.
[sunting] Gabus bagi kesehatan
Diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan membantu penyembuhan beberapa penyakit.




http://dewabenny.com/2008/06/22/hipoalbumin/
Hipoalbumin
June 22, 2008 By: dewabenny Category: Medicine
Pendahuluan
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki beberapa fungsi penting :
1. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar 75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema
2. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.
3. Perubahan pada albumin akan menyebabkan gangguan fungsi platelet
Kadar normal albumin dalam darah antara 3,5-4,5 g/dl, dengan jumlah total 300-500 g. sintesis terjadi hanya di sel hati dengan produksi sekitar 15 g/ hari pada orang sehat, tetapi jumlah yang dihasilkan bervariasi signifikan pada berbagai tipe stress fisiologis. Waktu paruh albumin sekitar 20 hari, dengan kecepatan degradasi 4 % per hari
Hipoalbuminemia merupakan masalah yang sering dihadapai pada orang dengan kondisi medis akut atau kronik. Pada saat masuk rumah sakit sekitar 20 % pasien sudah menderita. Kadara albumin darah yang rendah menjadi predictor penting berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas. Pada penelitian meta-analisis didapatkan setiap penurunan albumin darah sebesar 10 g/L, anka mortalitas meningkat 137 % dan morbiditas 89%
Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut maupun kronis.
1. Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati
1. Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien deng sirosis hepatis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
1. Kehilangan protein ekstravaskular
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka bakar yang luas.
1. Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan ascites
1. Inflamasi akut dan kronis
Kada albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme berikut:
1. Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk berdifusi ke ruang ekstravaskular)
2. Peningkatan degradasi albumin
3. Penurunan sintesis albumin (TNF-? yang berperan dalam penuruanan trankripsi gen albumin)

http://pujiminkapsul.wordpress.com/2008/07/17/albumin/
ALBUMIN
July 17, 2008 at 8:51 am (albumin, ikan gabus, kapsul albumin)
Tags: albumin, ikan gabus

Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnya—terdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolisme—asam lemak bebas dan bilirubuin—dan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.

Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal, berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria – keberadaan sejumlah kecil protein albumin dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung – dalam kelompok pasien HIV-positif dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34% orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua (p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4 cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan NNRTI (p < 0,05).
“Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal”, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, “prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.”
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 – 1009, 2007.
Edit terakhir: 1 Juni 2007

Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility, including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron (transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns, protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture, genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A) deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL



http://www.topklik.com/ALKUTEN
Welcome to Alkuten Sehati - Sari Kutuk/Gabus "ALKUTEN" 100% AlbuminAlbumin merupakan jenis Protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai
kadar 60%. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Didalam ilmu
kedokteran, Albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringansel tubuh yang terbelah/rusak. Albumin juga berperan mengikat Obat-obatan Serta Logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.

GEL SARI IKAN KUTUK/GABUS adalah ekstrak/Sari Ikan dalm bentuk jell tanpa rasa amis dari Kutuk pilihan dan asli, mengandung Channa Albumin serta Asam Amino Esensial lengkap yang pentingbuat tubuh. Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus ini dibuat melalui penelitian para ahli dengan Cara pembuatan yang hygienis tanpa bahan kimia dan pengawet.

Sejak dahulu Ikan KUTUK/GABUS dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi Pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan hal ini dikarenakan Ikan KUTUK/GABUS mengandung protein yang tinggi (Albumin), sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka.Hampir semua pasien berkadar Albumin rendah yang diberi Sari Ikan KUTUK/GABUS ini, kadar Albuminnya naik lebih cepat dari pada pemberian Albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrom, Tonsilitis,Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, Gizi Buruk, Sepsis, Stroke, ITP (Idiopatik Trombosit Tupenia Purpura), HIV, Thalasemia Minor , Autis, Kondisi ini bisa lebih baik dengan pemberian Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus

KHASIAT & KEGUNAAN :
1. Meningkatkan kadar Albumin dan Daya Tahan Tubuh.
2. Mempercepat proses penyembuhan Pasca Operasi.
3. Mempercepat penyembuhan Luka Dalam / Luka Luar.
4. Membantu proses penyembuhan pada penyakit :
Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome,Tonsilitis,
Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, ITP, HIV, Sepsis,
Stroke, Thalasemia Minor.
5. Menghilangkan Oedem (Pembengkakan).
6. Memperbaiki Gizi Buruk pada Bayi, Anak dan Ibu Hamil.
7. Membantu penyembuhan Autis.
P.IRT. No : 202350701500

Minggu, 11 Oktober 2009

Mengapa Zat Putih Telur Penting?

Mengapa protein atau zat putih telur amat penting berada dalam makanan?

Sebab dari proteinlah protoplasma yang hidup dalam sel itu dibuat. Bahan hidup yang ajaib ini terus menerus mengisap dan menggunakan tenaga. Sebagian dari tenaga ini diperlukan untuk pertumbuhan sel itu sendiri. Yang tersisa dipakai untuk pekerjaan yang dilakukan oleh sel itu dan untuk panas yang ia hasilkan. Itulah yang menjadikan kita tetap hangat dan hidup.

Selama kita hidup dan sehat-sehat saja, sel-sel kita itu akan mempertahankan suhu tubuh yang sama tanpa menghiraukan cuaca. Untuk melakukan tugas ini, sel-sel itu harus mempunyai protein dan hidrat arang yang cukup.

Bahan protein dibentuk mula-mula sekali dalam tanaman dan pepohonan. Pabrik kecil di dalam daun dan akar bekerja terus-menerus dan mengubah bahan kimiawi alam yang sederhana menjadi bahan yang serba rumit, seperti protein, hidrat arang, dan lemak, sedia digunakan di dalam tubuh manusia.

Hidrat arang dan lemak menyediakan tenaga untuk semua sel tubuh. Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan sel. Protein adalah kelompok zat-zat yang paling rumit yang diketahui dalam bidang ilmiah dewasa ini.

Untunglah kita tidak perlu mengerti ilmu kimia makanan dan sel, sebelum kita memesan makanan kita. Hal ini tak perlu menyusahkan kita. Biarlah kita serahkan hal itu kepada para ahli ilmu pengetahuan dengan mikroskop dan perlengkapan mereka yang serba halus. Yang penting bagi kita adalah mengetahui dengan pasti bahwa kita mempunyai cukup protein di dalam makanan kita sendiri, karena inilah bahan makanan yang membangun tubuh yang kuat dan sehat.

Protein diperlukan terus menerus untuk perbaikan jaringan yang rusak. Protein penting untuk pembentukan tulang dan otot yang kuat pada anak-anak yang sedang tumbuh dan diperlukan juga seumur hidup. Kita tidak pernah akan hidup sehat kecuali kita mendapat cukup protein.

Protein bukan saja merupakan zat yang amat rumit, melainkan banyak sekali jenisnya yang belum diselidiki. Setiap jenis protein dilengkapi sejumlah tertentu “building blocks” atau asam amino, yang selalu diatur dalam urutan tertentu menurut jenis protein. Protein yang lebih rumit mempunyai lebih banyak asam amino.

Beberapa protein seperti albumin, mudah sekali larut dalam air. Yang lain seperti globulin, hanya dapat dilarutkan dalam cairan. Baik albumin maupun globulin terdapat di dalam peredaran darah bersama-sama dengan banyak macam protein yang lain, yang semuanya perlu untuk kehidupan. Semua protein di dalam tubuh terus menerus diubah dan digunakan.

Sebelum diserap oleh tubuh, semua protein dalam makanan harus dipecahkan lebih dulu menjadi asam amino. Ini terjadi di dalam usus kecil. Dari situlah pecahan protein ini diangkut oleh peredaran darah ke hati dimana protein itu diubah dan disimpan serta siap untuk digunakan dalam waktu mendatang. Dan dalam segala jaringan, pecahan protein ini akhirnya disenyawakan kembali dengan sejenis protein yang diperlukan oleh setiap macam sel.

Sumber Protein Yang Baik
Protein terdapat dalam hampir segala macam makanan. Tapi ada makanan yang mengandung jauh lebih banyak dari yang lain. Makanan yang paling banyak mengandung protein ialah susu, telur, keju, daging, ikan, biji-bijian yang masih berkulit-ari, ercis, kacang tanah dan kedele. Karena daging itu umumnya mahal, banyak keluarga mungkin tidak sanggup membelinya. Karena berbagai-bagai sebab, ada keluarga yang lebih menyukai makanan tanpa daging. Untunglah, kombinasi sayur-sayuran biasanya dapat mencukupi semua protein yang diperlukan seseorang.

Susu dan sejenisnya merupakan sumber protein yang terbaik. Umumnya, protein dari sumber ini mudah dicernakan dan diserap oleh tubuh. Susu mengandung protein yang sempurna dan juga menyediakan kalsium dan fosfor dalam proporsi yang tepat benar untuk anak-anak yang sedang tumbuh dan untuk para ibu yang sedang menyusui.

Tetapi meskipun susu merupakan makanan yang sebaik itu, kita harus masih berhati-hati. Sebab, susu mudah sekali dikotori oleh kuman-kuman penyakit baik selama proses pemerahan, maupun selama disimpan. Sebab itu semua susu harus dimasak atau melalui proses pasteurisasi sebelum dipakai. Memasaknya sampai mendidih sekalipun hanya beberapa menit akan dapat membunuh semua kuman yang berbahaya.

Daging juga merupakan sumber lain bagi protein. Di dalamnya terdapat pula banyak zat besi, fosfor, dan beberapa vitamin B complex. Tetapi semua daging binatang mengandung sejenis sampah yang harus dikeluarkan oleh ginjal. Ini berarti pekerjaan tambahan untuk tubuh dan juga membawa kesulitan bagi mereka yang ginjalnya mungkin sudah dirusakkan oleh penyakit.

Banyak sekali alasan yang baik untuk hidup dengan makanan tanpa daging. Meskipun demikian, seorang yang tidak makan daging harus mengetahui dengan pasti bahwa ia mendapat cukup protein dari makanan lain, seperti kacang-kacangan, biji-bijian yang masih berkulit-ari, susu dan sejenisnya.

Dan salah satu sumber protein yang patut diperhitungkan ialah kedele. Makanan yang sederhana ini mengandung protein yang lengkap. Kedele ditanam di Tiongkok dan di Jepang berabad-abad lamanya, lama sebelum sejarah negara-negara ini ditulis. Kedele ini mengandung banyak sekali protein. Ia mengandung protein dua kali lebih banyak ketimbang yang ada dalam daging, bahkan sampai empat kali lebih banyak tinimbang yang ada dalam telur.

Ah pokoknya, tiap hari kita mesti “makan” protein…. ya ‘kan?

MENGATASI DISMINORE (NYERI HAID)

By..meika fitri

Menstruasi merupakan peristiwa pendarahan secara periodik dan siklik (bulanan) dari rahim disertai pelepasan selaput lendir rahim (endometrium) melalui vagina pada wanita yang seksual dewasa. Setiap wanita sehat yang tidak sedang hamil dan belum menopause akan mendapat menstruasi pada setiap bulannya. Dalam keadaan normal lamanya haid berkisar antara 3-7 hari dan rata-rata berulang setiap 28 hari.
Rasa nyeri saat haid merupakan keluhan ginekologi yang paling umum dan banyak dialami oleh wanita. Rasa nyeri saat haid tidak diketahui secara pasti kaitannya dengan penyebabnya, namun beberapa faktor dapat mempengaruhi yaitu ketidakseimbangan hormon dan faktor psikologis. Rasa nyeri tersebut dapat merupakan gangguan primer atau merupakan gangguan sekunder dari berbagai jenis penyakit. Nyeri haid yang disebabkan gangguan primer cukup sering terjadi, biasanya timbul setelah dimulainya menstruasi pertama dan sering kali hilang setelah hamil atau dengan meningkatnya umur wanita. Kemungkinan penyebabnya merupakan hasil dari peningkatan sekresi hormon prostaglandin yang menyebabkan peningkatan kontraksi uterus, jenis sakit haid ini banyak menyerang remaja dan berlangsung sampai dewasa. Nyeri haid yang disebabkan oleh gangguan sekunder biasanya terjadi pada wanita yang lebih tua yang sebelumnya tidak mengalami nyeri. Biasanya rasa sakit tersebut berhubungan dengan gangguan ginekologis seperti endometriosis, penyempitan serviks, malposisi uterus, penyakit radang panggul, dan tumor dari rongga panggul. Oleh karena itu, untuk mengatasinya harus diketahui secara pasti apa penyebabnya, sehingga dapat diambil langkah-langkah medis yang tepat.
Gejala-gejala nyeri haid di antaranya yaitu : rasa sakit datang secara tidak teratur, tajam dan kram di bagian bawah perut yang biasanya menyebar ke bagian belakang, terus ke kaki, pangkal paha dan vulva (bagian luar alat kelamin wanita). Rasa sakit menstruasi juga diikuti dengan premenstruasi sindrom yaitu sekumpulan gejala bervariasi yang muncul antara 7 hingga 14 hari sebelum masa haid dimulai dan biasanya berhenti saat haid mulai. Gejala – gejala tersebut meliputi tingkah laku seperti kegelisahan, defresi, iritabilitas/sensitif, lekas marah, gangguan tidur, kelelahan, lemah, mengidam makanan dan kadang-kadang perubahan suasana hati yang sangat cepat. Selain itu juga keluhan fisik seperti payudara terasa sakit atau membengkak, perut kembung atau sakit, sakit kepala, sakit sendi, sakit punggung, mual, muntah, diare atau sembelit, dan masalah kulit seperti jerawat.
Untuk mengurangi rasa sakit saat menstruasi karena gangguan primer dapat mengunakan obat penghilang rasa sakit (analgetik) seperti aspirin, atau dengan pemberian hormon antiprostaglandin untuk mengurangi kekuatan kontraksi uterus, namun pemberian hormon antiprostaglandin tersebut harus hati-hati terutama pada wanita yang ingin hamil.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dan mengurangi sakit pada saat menstruasi :
Tempelkan botol berisi air panas atau bantalan panas/hangat pada daerah perut.
Pijat daerah perut/abdomen secara perlahan-lahan
Coba tidur terlentang dengan kaki/lutut diganjal dengan bantal
Lakukan olahraga ringan seperti senam, jalan kaki, atau bersepeda pada saat sebelum dan selama haid, hal tersebut dapat membuat aliran darah pada otot sekitar rahim menjadi lancar, sehingga rasa nyeri dapat teratasi atau berkurang.
Tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mengurangi dan mengatasi rasa sakit pada saat menstruasi mempunyei efek analgetik (meredakan rasa sakit), melancarkan sirkulasi darah, dan mencairkan bekuan darah.

Berikut contoh beberapa tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri haid .

DAUN DEWA (Gynura segetum [Lour.] Merr.)
Bagian yang digunakan : seluruh tumbuhan/herba
Efek : melancarkan sirkulasi darah, mencairkan bekuan darah, anti-coagulant

MAWAR (Rosa chinensis Jack.)
Bagian yang digunakan : Bunga
Efek : melancarkan sirkulasi darah, menormalkan siklus haid, antiradang, menghilangkan bengkak.

SIANTAN/SOKA (Ixora stricta Roxb.)
Bagian yang digunakan :bunga
Efek : meredakan rasa sakit (analgetik), mengecilkan bekuan darah, melancarkan sirkulasi.

DAUN HIA/BARU CINA (Artemisia vulgaris L.)
Bagian yang digunakan : seluruh tumbuhan /herba
Efek : menghilangkan sakit (analgetik), melancarkan peredaran darah, mengatur menstruasi, menghentikan pendarahan, menghilangkan rasa dingin.

GINJEAN (Leonurus sibiricus L.)
Bagian yang digunakan : seluruh tumbuhan (herba)
Efek : melancarkan sirkulasi darah, menormalkan siklus haid, peluruh haid (emenagog), menghilangkan pembengkakan dan menciutkan rahim.

TEKI (Cyperus rotundus L.)
Bagian yang digunakan : umbi
Efek : menormalkan siklus haid, menghilangkan sakit (analgetik), melancarkan vital energi. Merupakan obat penting untuk penyakit-penyakit pada wanita (gynecological diseases)

TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza)
Bagian yang digunakan : rimpang
Efek : sebagai peluruh haid (emenagog), tonikum, antiradang, hepatoprotektor, dan lain-lain.
Berikut contoh resep tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri menstruasi (dismenore) :
Resep 1.
30 gram temu lawak + 30 gram temu hitam + 20 gram jahe + 20 gram asam jawa + gula aren secukupnya, dicuci dan dipotong-potong, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum.
Resep 2.
3 kuntum bunga mawar merah + 2 kuntum bunga siantan/soka + 15 gram bunga bugenfil, dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.
Resep 3.
15-30 gram daun dewa segar + 20 gram kunyit, dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.
Resep 4.
30 gram daun hia/baru cina segar atau 15 gram yang kering direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum.
Resep 5.
20 gram ginjean kering + 10 gram umbi rumput teki kering, dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.
Catatan :
Untuk perebusan gunakan periuk tanah, panci enamel atau panci kaca.