Sabtu, 05 Desember 2009

asuhan keperawatan traksi

A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Traksi adalah upaya yang menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan imobilisasi fragmen tulang; mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan dislokasi.Traksi akan efektif jika menggunakan beban, katrol dan perimbangan untuk memperoleh kekuatan yang cukup dalam menghalangi pakaian kerja tertarik dari otot pasien. (Charlene J. Reeves, Gayle Roux, Robin Lockhart).

2. Indikasi
Pada pasien dengan fraktur dan dislokasi

3. Tujuan
a. Mobilisasi tulang belakang servikal
b. Reduksi dislokasi atau subluksasi
c. Distraksi interformina vertebra
d. Mengurangi deformitas
e. Mengurangi rasa nyeri

4. Fungsi
a. Meminimalkan spasme otot
b. Mereduksi , mensejajarkan dan imobilisasi fraktur
c. Mengurangi deformitas
d. Menambah ruangan permukaan patahan tulang.

5. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet

6. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo (lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Inatervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas

1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan setiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan keluarga untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisipasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.

Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)

1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
 Lakukan fisiotherapi dada.
 laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar