Head injury (Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak atau otak.
Batasan trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan kesadaran.
Kematian akibat trauma kepala terjadi pada tiga waktu setelah injury yaitu :
1.Segera setelah injury.
2.Dalam waktu 2 jam setelah injury
3.rata-rata 3 minggu setelah injury.
Pada umumnya kematian terjadi setelah segera setelah injury dimana terjadi trauma langsung pada kepala, atau perdarahan yang hebat dan syok. Kematian yang terjadi dalam beberapa jam setelah trauma disebabkan oleh kondisi klien yang memburuk secara progresif akibat perdarahan internal. Pencatatan segera tentang status neurologis dan intervensi surgical merupakan tindakan kritis guna pencegahan kematian pada phase ini. Kematian yang terjadi 3 minggu atau lebih setelah injury disebabkan oleh berbagai kegagalan sistem tubuh
Faktor 2 yang diperkirakan memberikan prognosa yang jelek adalah adanya intracranial hematoma, peningkatan usia klien, abnormal respon motorik, menghilangnya gerakan bola mata dan refleks pupil terhadap cahaya, hipotensi yang terjadi secara awal, hipoksemia dan hiperkapnea, peningkatan ICP.
Diperkirakan terdapat 3 juta orang di AS mengalami trauma kepala pada setiap tahun. Angka kematian di AS akibat trauma kepala sebanyak 19.3/100.000 orang. Pada umumnya trauma kepala disebabkan oleh kecelakaan laluintas atau terjatuh.
Jenis Trauma Kepala :
1. Robekan kulit kepala.
Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi, sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi.
2. Fraktur tulang tengkorak.
Fraktur tulang tengkoran tengkorak sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak :
a.Garis patahan atau tekanan.
b.Sederhana, remuk atau compound.
c.Terbuka atau tertutup.
Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, moentum, trauma langsung atau tidak.
Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, moentum, trauma langsung atau tidak.
Pada fraktur linear dimana fraktur terjadi pada dasar tengkorak biasanya berhubungan dengan CSF. Rhinorrhea (keluarnya CSF dari hidung) atau otorrhea (CSF keluar dari mata).
Ada dua metoda yang digunakan untuk menentukan keluarnya CSF dari mata atau hidung, yaitu melakukan test glukosa pada cairan yang keluar yang biasanya positif. Tetapi bila cairan bercampur dengan darah ada kecenderungan akan positif karena darah juga mengadung gula. Metoda kedua dilakukan yaitu cairan ditampung dan diperhatikan gumpalan yang ada. Bila ada CSF maka akan terlihat darah berada dibagian tengah dari cairan dan dibagian luarnya nampak berwarna kuning mengelilingi darah (Holo/Ring Sign).
Komplikasi yang cenderung terjadi pada fraktur tengkorak adalah infeksi intracranial dan hematoma sebagai akibat adanya kerusakan menigen dan jaringan otak. Apabila terjadi fraktur frontal atau orbital dimana cairan CSF disekitar periorbital (periorbital ecchymosis. Fraktur dasar tengkorak dapat meyebabkan ecchymosis pada tonjolan mastoid pada tulang temporal (Battle’s Sign), perdarahan konjunctiva atau edema periorbital.
Commotio serebral :
Concussion/commotio serebral adalah keadaan dimana berhentinya sementara fungsi otak, dengan atau tanpa kehilangan kesadaran, sehubungan dengan aliran darah keotak. Kondisi ini biasanya tidak terjadi kerusakan dari struktur otak dan merupakan keadaan ringan oleh karena itu disebut Minor Head Trauma. Keadaan phatofisiologi secara nyata tidak diketahui. Diyakini bahwa kehilangan kesadaran sebagai akibat saat adanya stres/tekanan/rangsang pada reticular activating system pada midbrain menyebabkan disfungsi elektrofisiologi sementara. Gangguan kesadaran terjadi hanya beberapa detik atau beberapa jam.
Pada concussion yang berat akan terjadi kejang-kejang dan henti nafas, pucat, bradikardia, dan hipotensi yang mengikuti keadaan penurunan tingkat kesadaran. Amnesia segera akan terjadi. Manifestasi lain yaitu nyeri kepala, mengantuk,bingung, pusing, dan gangguan penglihatan seperti diplopia atau kekaburan penglihatan.
Contusio serebral
Contusio didefinisikan sebagai kerusakan dari jaringan otak. Terjadi perdarahan vena, kedua whitw matter dan gray matter mengalami kerusakan. Terjadi penurunan pH, dengan berkumpulnya asam laktat dan menurunnya konsumsi oksigen yang dapat menggangu fungsi sel.
Kontusio sering terjadi pada tulang tengkorak yang menonjol. Edema serebral dapat terjadi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan ICP. Edema serebral puncaknya dapat terjadi pada 12 – 24 jam setelah injury.
Manifestasi contusio bergantung pada lokasi luasnya kerusakan otak. Akan terjadi penurunan kesadaran. Apabila kondisi berangsur kembali, maka tingat kesadaranpun akan berangsur kembali tetapi akan memberikan gejala sisa, tetapi banyak juga yang mengalami kesadaran kembali seperti biasanya. Dapat pula terjadi hemiparese. Peningkatan ICP terjadi bila terjadi edema serebral.
Diffuse axonal injury.
Adalah injury pada otak dimana akselerasi-deselerasi injury dengan kecepatan tinggi, biasanya berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor sehingga terjadi terputusnya axon dalam white matter secara meluas. Kehilangan kesadaran berlangsung segera. Prognosis jelek, dan banyak klien meninggal dunia, dan bila hidup dengan keadaan persistent vegetative.
Injury Batang Otak
Walaupun perdarahan tidak dapat dideteksi, pembuluh darah pada sekitar midbrain akan mengalami perdarahan yang hebat pada midbrain. Klien dengan injury batang otak akan mengalami coma yang dalam, tidak ada reaksi pupil, gangguan respon okulomotorik, dan abnormal pola nafas.
Komplikasi :
Epidural hematoma.
Sebagai akibat perdarahan pada lapisan otak yang terdapat pada permukaan bagian dalam dari tengkorak. Hematoma epidural sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergensi dan biasanya berhubungan dengan linear fracture yang memutuskan arteri yang lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematoma berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Arterial hematoma terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. Perdarahan masuk kedalam ruang epidural. Bila terjadi perdarahan arteri maka hematoma akan cepat terjadi. Gejalanya adalah penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual dan muntah. Klien diatas usia 65 tahun dengan peningkatan ICP berisiko lebih tinggi meninggal dibanding usia lebih mudah.
Subdural Hematoma.
Terjadi perdarahan antara dura mater dan lapisan arachnoid pada lapisan meningen yang membungkus otak. Subdural hematoma biasanya sebagai akibat adanya injury pada otak dan pada pembuluh darah. Vena yang mengalir pada permukaan otak masuk kedalam sinus sagital merupakan sumber terjadinya subdural hematoma. Oleh karena subdural hematoma berhubungan dengan kerusakan vena, sehingga hematoma terjadi secara perlahan-lahan. Tetapi bila disebabkan oleh kerusakan arteri maka kejadiannya secara cepat. Subdural hematoma dapat terjadi secara akut, subakut, atau kronik.
Setelah terjadi perdarahan vena, subdural hematoma nampak membesar. Hematoma menunjukkan tanda2 dalam waktu 48 jam setelah injury. Tanda lain yaitu bila terjadi konpressi jaringan otak maka akan terjadi peningkatan ICP menyebabkan penurunan tingkat kesadaran dan nyeri kepala. Pupil dilatasi. Subakut biasanya terjadi dalam waktu 2 – 14 hari setelah injury.
Kronik subdural hematoma terjadi beberapa minggu atau bulan setelah injury. Somnolence, confusio, lethargy, kehilangan memory merupakan masalah kesehatan yang berhubungan dengan subdural hematoma.
Intracerebral Hematoma.
Terjadinya pendarahan dalamn parenkim yang terjadi rata-rata 16 % dari head injury. Biasanya terjadi pada lobus frontal dan temporal yang mengakibatkan ruptur pembuluh darah intraserebral pada saat terjadi injury. Akibat robekan intaserebral hematoma atau intrasebellar hematoma akan terjadi subarachnoid hemorrhage.
Collaborative Care.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memonitor hemodinamik dan mendeteksi edema serebral. Pemeriksaan gas darah guna mengetahui kondisi oksigen dan CO2.
Okdigen yang adekuat sangat diperlukan untuk mempertahankan metabolisma serebral. CO2 sangat beepengaruh untuk mengakibatkan vasodilator yang dapat mengakibatkan edema serebral dan peningkatan ICP. Jumlah sel darah, glukosa serum dan elektrolit diperlukan untuk memonitor kemungkinan adanya infeksi atau kondisi yang berhubungan dengan lairan darah serebral dan metabolisma.
CT Scan diperlukan untuk mendeteksi adanya contusio atau adanya diffuse axonal injury. Pemeriksaan lain adalah MRI, EEG, dan lumbal functie untuk mengkaji kemungkinan adanya perdarahan.
Sehubungan dengan contusio, klien perlu diobservasi 1 – 2 jam di bagian emergensi. Kehilangan tingkat kesadaran terjadi lebih dari 2 menit, harus tinggal rawat di rumah sakit untuk dilakukan observasi.
Klien yangmengalami DAI atau cuntusio sebaiknya tinggal rawat di rumah sakit dan dilakukan observasi ketat. Monitor tekanan ICP, monitor terapi guna menurunkan edema otak dan mempertahankan perfusi otak.
Pemberian kortikosteroid seperti hydrocortisone atau dexamethasone dapat diberikan untuk menurunkan inflamasi. Pemberian osmotik diuresis seperti mannitol digunakan untuk menurunkan edema serebral.
Klien dengan trauma kepala yang berat diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal dan mencegah kecacatan yang nmenetap. Dapat juga diberikan infus, enteral atau parenteral feeding, pengaturan posisi dan ROM exercise untuk mensegah konraktur dan mempertahankan mobilitas.
dihalaman 2, ada tertulis bahwa titik puncak edema-cerebri terjadi
setelah 12-24 jam dari injury.
Sedangkan dihalaman pertama tertulis bahwa kematian dalam trauma-
kepala terjadi dalam salah satu dari "3 waktu" (seketika atau setelah 2 jam atau setelah 3 minggu) setelah injury.
Minta penjelasannya bahwa kematian akibat trauma kepalam dalam periode 12-24 jam tsb diatas masuk dalam kelompok mana dlm pengelompokan "3 waktu" tsb ?
Begitupun (pertanyaan kedua) bila ada kematian (akibat trauma kepala)yg terjadi antara 6-12 jam setelah injury masuk dalam
Jumat, 25 Desember 2009
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SINDROM UREMIK
A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Sindrom uremik adalah kumpulan tanda dan gejala yang terlihat seperti insufiensi ginjal progresif dan GFR menurun hingga dibawah 10 ml/menit (10% dari normal) dan puncaknya pada ESRD. Pada titik ini, nefron yang masih utuh tidak lagi mampu untuk mengkompensasi dan mempertahankan fungsi ginjal normal. ( sylvia A. Price, patofisiologi edisi 6 )
2. Manisfetasi klinis sindrom uremia dapat dibagi dalam beberapa bentuk yaitu:
a. Pengaturan fungsi regulasi dan ekskresi yang kacau, seperti ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, ketidakseimbangan asam basa, retensi nitrogen dan metabolisme lain, serta gangguan hormonal.
b. Abnormalitas sistem tubuh multipel ( sebenarnya pada semua sistem), dasarnya tidak begitu dimengerti.
3. manifestasi klinis sindrom uremik secara khusus:
a. biokimia:
asidosis metabolic ( HCO3- serum 18 -20mEq/L)
azotemia ( penurunan GFR, menyebabkan peningkatan BUN,kreatinin)
hiperkalemia
retensi atau pembuangan natrium
hipermagnesemia
hiperurisemia
b. genitourinaria :
poliuria, berlanjut menjadi oliguria, lalu anuria
nokturia, pembalikan irama diurnal
berat jenis kemih tetap sebesar 1,010
proteinnuria
hilangnya libido, aminore, impotensi dan sterilitas
c. kardiovaskuler
hipertensi
retinopati dan ensofalopati hipertensif
beban sirkulasi berlebihan
edema
gagal jantung kongestif
perikarditis (friction rub)
disritmia
d. pernafasan
pernapasan kusmaul, dispnea
edema paru
pneumonitis
e. hematologik
anemia menyebabkan kelelahan
hemolisis
kecenderungan perdarahan
menurunnya resistensi terhadap infeksi (infeksi saluran kemih, pneumonia, septikemia)
f. kulit
pucat, pigmantasi
perubahan rambut dan kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis-garis merah-biru yang berkaitan dengan kehilangan protein)
pruritis
”kristal” uremik
Kulit kering
memar
g. saluran cerna
anoreksi, mual, muntah, menyebabkan penurunan berat badan
napas berbau amoniak
rasa kecap logam, mulut kering
stomatitis, parotitis
gastritis, enteritis
perdarahan saluran cerna
diare
h. metabolisme intermedier
protein – intoleransi, sintesis abnormal
karbohidrat – hiperglikemia, kebutuhan insulin menurun
lemak – peningkatan kadar trigliserida
mudah lelah
i. neuromuskuler
otot mengecil dan lemah
sistem saraf pusat
- penurunan ketajaman mental
- konsentrasi buruk
- apati
- letargi atau gelisah, insomnia
- kekacauan mental
- koma
- otot berkedut, asteriksis, kejang
neuropati perifer
- konduksi saraf lambat, sindrom ”restless leg”
- perubahan sensorik pada ekstremitas – parestesi
- perubahan motorik – foot drop yang berlanjut menjadi pareplegia
j. gangguan kalsium dan rangka
hiperfosfatemia, hipokalsemia
hiperparatiroidisme sekunder
osteodistrofi ginjal
fraktur patologik (demineralisasi tulang)
deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung, paru)
konjungtivitis (mata merah uremik)
4. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
5. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo(lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Intervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan stiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan kelg untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisifasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
1. Pengertian
Sindrom uremik adalah kumpulan tanda dan gejala yang terlihat seperti insufiensi ginjal progresif dan GFR menurun hingga dibawah 10 ml/menit (10% dari normal) dan puncaknya pada ESRD. Pada titik ini, nefron yang masih utuh tidak lagi mampu untuk mengkompensasi dan mempertahankan fungsi ginjal normal. ( sylvia A. Price, patofisiologi edisi 6 )
2. Manisfetasi klinis sindrom uremia dapat dibagi dalam beberapa bentuk yaitu:
a. Pengaturan fungsi regulasi dan ekskresi yang kacau, seperti ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, ketidakseimbangan asam basa, retensi nitrogen dan metabolisme lain, serta gangguan hormonal.
b. Abnormalitas sistem tubuh multipel ( sebenarnya pada semua sistem), dasarnya tidak begitu dimengerti.
3. manifestasi klinis sindrom uremik secara khusus:
a. biokimia:
asidosis metabolic ( HCO3- serum 18 -20mEq/L)
azotemia ( penurunan GFR, menyebabkan peningkatan BUN,kreatinin)
hiperkalemia
retensi atau pembuangan natrium
hipermagnesemia
hiperurisemia
b. genitourinaria :
poliuria, berlanjut menjadi oliguria, lalu anuria
nokturia, pembalikan irama diurnal
berat jenis kemih tetap sebesar 1,010
proteinnuria
hilangnya libido, aminore, impotensi dan sterilitas
c. kardiovaskuler
hipertensi
retinopati dan ensofalopati hipertensif
beban sirkulasi berlebihan
edema
gagal jantung kongestif
perikarditis (friction rub)
disritmia
d. pernafasan
pernapasan kusmaul, dispnea
edema paru
pneumonitis
e. hematologik
anemia menyebabkan kelelahan
hemolisis
kecenderungan perdarahan
menurunnya resistensi terhadap infeksi (infeksi saluran kemih, pneumonia, septikemia)
f. kulit
pucat, pigmantasi
perubahan rambut dan kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis-garis merah-biru yang berkaitan dengan kehilangan protein)
pruritis
”kristal” uremik
Kulit kering
memar
g. saluran cerna
anoreksi, mual, muntah, menyebabkan penurunan berat badan
napas berbau amoniak
rasa kecap logam, mulut kering
stomatitis, parotitis
gastritis, enteritis
perdarahan saluran cerna
diare
h. metabolisme intermedier
protein – intoleransi, sintesis abnormal
karbohidrat – hiperglikemia, kebutuhan insulin menurun
lemak – peningkatan kadar trigliserida
mudah lelah
i. neuromuskuler
otot mengecil dan lemah
sistem saraf pusat
- penurunan ketajaman mental
- konsentrasi buruk
- apati
- letargi atau gelisah, insomnia
- kekacauan mental
- koma
- otot berkedut, asteriksis, kejang
neuropati perifer
- konduksi saraf lambat, sindrom ”restless leg”
- perubahan sensorik pada ekstremitas – parestesi
- perubahan motorik – foot drop yang berlanjut menjadi pareplegia
j. gangguan kalsium dan rangka
hiperfosfatemia, hipokalsemia
hiperparatiroidisme sekunder
osteodistrofi ginjal
fraktur patologik (demineralisasi tulang)
deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung, paru)
konjungtivitis (mata merah uremik)
4. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
5. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo(lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Intervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan stiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan kelg untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisifasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
Sabtu, 05 Desember 2009
asuhan keperawatan traksi
A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Traksi adalah upaya yang menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan imobilisasi fragmen tulang; mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan dislokasi.Traksi akan efektif jika menggunakan beban, katrol dan perimbangan untuk memperoleh kekuatan yang cukup dalam menghalangi pakaian kerja tertarik dari otot pasien. (Charlene J. Reeves, Gayle Roux, Robin Lockhart).
2. Indikasi
Pada pasien dengan fraktur dan dislokasi
3. Tujuan
a. Mobilisasi tulang belakang servikal
b. Reduksi dislokasi atau subluksasi
c. Distraksi interformina vertebra
d. Mengurangi deformitas
e. Mengurangi rasa nyeri
4. Fungsi
a. Meminimalkan spasme otot
b. Mereduksi , mensejajarkan dan imobilisasi fraktur
c. Mengurangi deformitas
d. Menambah ruangan permukaan patahan tulang.
5. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
6. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo (lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Inatervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan setiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan keluarga untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisipasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
1. Pengertian
Traksi adalah upaya yang menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan imobilisasi fragmen tulang; mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan dislokasi.Traksi akan efektif jika menggunakan beban, katrol dan perimbangan untuk memperoleh kekuatan yang cukup dalam menghalangi pakaian kerja tertarik dari otot pasien. (Charlene J. Reeves, Gayle Roux, Robin Lockhart).
2. Indikasi
Pada pasien dengan fraktur dan dislokasi
3. Tujuan
a. Mobilisasi tulang belakang servikal
b. Reduksi dislokasi atau subluksasi
c. Distraksi interformina vertebra
d. Mengurangi deformitas
e. Mengurangi rasa nyeri
4. Fungsi
a. Meminimalkan spasme otot
b. Mereduksi , mensejajarkan dan imobilisasi fraktur
c. Mengurangi deformitas
d. Menambah ruangan permukaan patahan tulang.
5. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
6. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo (lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Inatervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan setiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan keluarga untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisipasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
Label:
asuhan keperawatan
Jumat, 06 November 2009
askep pada klien parkinson
PENDAHULUAN
Penyakit Parkinson merupakan kelainan neurologis progresif yang menyerang puasat otak yang bertanggung jawab terhadap control dan regulasi gerakan.( Brunner & Suddart ).
Penyakit Parkinson ( paralysis agitans ) atau sindrom Parkinson ( Parkinsonismus ) merupakan suatu penyakit atau sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/ neostriatum ( striatal dopamine deficiency ).
Ganglia basalis sering ikut terlibat di dalam proses degeneratif dan mengakibatkan gangguan gerakan, yang dapat berupa gerakan menjadi lamban atau gerakan menjadi berlebihan. Gerak lamban di sebut sebagai gerak involunter yang abnormal, hiperkinesia atau diskinesia.
Ganglia basalis itu sendiri terdiri dari :
Korpus striatum : nukleus kaudatus, putamen, dan globus palidus.
Substansia nigra.
Nukleus subtalamik.
Sinrdom parkinson dengan beragam etiologi gambaran gejala klinis hampir serupa. Kriteria untuk menggolongkannya ke dalam sindrom Parkinson adanya rigiditas, tremor, dan bradikinesia.
Johnson dan kawan-kawan mengemukakan bahwa diagnosis klinis penyakit Parkinson dapat ditegakkan bila dijumpai sekurang-kurangnya 2 dari4 gejala seperti tremor, rigiditas, bradikinesia dan instabilitas postural.
KLASIFIKASI
1. Parkinsonismus primer/ idiopatik/paralysis agitans.
sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya belum jelas.
Kira-kira 7 dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.
2. Parkinsonismus sekunder atau simtomatik
dapat disebabkan pasca ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis, sifilis meningovaskuler.
iatrogenik atau drug induced, misalnya golongan fenotiazin, reserpin, tetrabenazin.
lain-lain, misalnya perdarahan serebral petekial pasca trauma yang berulang-ulang pada petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid dan kalsifikasi.
3. Sindrom paraparkinson ( Parkinson plus )
pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran penyakit keseluruhan.
jenis ini bisa didapat pada penyakit Wilson ( degenerasi hepato-lentikularis ), hidrosefalus normotensif, sindrom Shy-drager, degenerasi striatonigral, atropi palidal ( parkinsonismus juvenilis ).
GAMBARAN KLINIS
1.Tremor
Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar pada sendi metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang logam atau memulung-mulung ( pil rolling ).
Pada sendi tangan fleksi-ekstensi atau pronasi-supinasi pada kaki fleksi-ekstensi, kepala fleksi-ekstensi atau menggeleng, mulut membuka menutup, lidah terjulur-tertarik.
Tremor ini menghilang waktu istirahat dan menghebat waktu emosi terangsang ( resting/ alternating tremor
2. Rigiditas
Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda bergigi ( cogwheel phenomenon ).
3.Bradikinesia
gerakan volunteer menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat.
Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimic dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut.
4.Mikrografia
Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini.
5.Langkah dan gaya jalan ( sikap Parkinson )
Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat ( marche a petit pas ), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan.
6. Bicara monoton
Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat.
7. Disfungsi otonom
Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik.
8. Gangguan behavioral
Lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi.
Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat ( bradifrenia ) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup.
9. Dimensia
Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan deficit kognitif.
10. lain-lain
kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya ( tanda Myerson positif ).
KAREKTERISTIK LAIN YANG MENYERANG WAJAH, TINGGI BADAN DAN GAYA BERJALAN
1.Kehilangan gerakan mengayun lengan yang normal.
2.Ekstermitas yang mengalami kekauan menjadi lebih lemah
3.Ekspresi wajah seperti topeng
4.Kehilangan refleks postual: pasien berdiri dengan kepala membungkuk ke depan dan berjalan gaya seperti robot.
ETIOLOGI
Etiologi Parkinson primer belum diketahui, masih belum diketahui. Terdapat beberapa dugaan, di antaranya ialah : infeksi oleh virus yang non-konvensional (belum diketahui), reaksi abnormal terhadap virus yang sudah umum, pemaparan terhadap zat toksik yang belum diketahui, terjadinya penuaan yang prematur atau dipercepat.
Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary). Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak disadarinya. Mekanis-me bagaimana kerusakan itu belum jelas benar.
Beberapa hal yang diduga bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut :
1.Usia
Insiden meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200 dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia nigra, pada penyakit parkinson.
2.Geografi
Di Libya 31 dari 100.000 orang, di Buinos aires 657 per 100.000 orang. Faktor resiko yang mempengaruhi perbedaan angka secara geografis ini termasuk adanya perbedaaan genetik, kekebalan terhadap penyakit dan paparan terhadap faktor lingkungan.
3.Periode
Fluktuasi jumlah penderita penyakit parkinson tiap periode mungkin berhubungan dengan hasil pemaparan lingkungan yang episodik, misalnya proses infeksi, industrialisasi ataupun gaya hidup.
4.Genetik
Adanya riwayat penyakit parkinson pada keluarga meningakatkan faktor resiko menderita penyakit parkinson sebesar 8,8 kali pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada usia relatif muda.
5.Faktor Lingkungan
a.Xenobiotik
Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat menmbulkan kerusakan mitokondria
b.Pekerjaan
Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama
c.Infeksi
Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadi faktor predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan substansia nigra. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh infeksi Nocardia astroides.
d.Diet
Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson. Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif.
e.Trauma kepala
Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar
f.Stress dan depresi
Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena pada stress dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif.
PATOFISIOLOGI
Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal ada penyakit Parkinson ialah: hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
Hipotesis radikal bebas
Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal
Hipotesis neurotoksin
Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson
Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
Dasar patologinya mencakup lesi di ganglia basalis (kaudatus, putamen, palidum, nukleus subtalamus) dan batang otak (substansia nigra, nukleus rubra, lokus seruleus).
Mekanisme terjadinya Parkinson disease
Perubahan neurotransmiter dan neuropeptid menyebabkan perubahan neurofisiologik yang berhubungan dengan perubahan suasana perasaan. Sistem transmiter yang terlibat ini menengahi proses reward, mekanisme motivasi, dan respons terhadap stres. Sistem dopamin berperan dalam proses reward dan reinforcement. Febiger mengemukakan hipotesis bahwa abnormalitas sistem neurotransmiter pada penyakit Parkinson akan mengurangi keefektifan mekanisme reward dan menyebabkan anhedonia, kehilangan motivasi dan apatis. Sedang Taylor menekankan pentingnya peranan sistem dopamin forebrain dalam fungsi-fungsi tingkah laku terhadap pengharapan dan antisipasi. Sistem ini berperan dalam motivasi dan dorongan untuk berbuat, sehingga disfungsi ini akan mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan dengan berkurangnya keinginan melakukan aktivitas, menurunnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri. Berkurangnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dapat bermanifestasi sebagai perasaan tidak berguna dan kehilangan harga diri. Ketergantungan terhadap lingkungan dan ketidakmampuan melakukan aktivitas akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dan putus asa. Sistem serotonergik berperan dalam regulasi suasana perasaan, regulasi bangun tidur, aktivitas agresi dan seksual. Disfungsi sistem ini akan menyebabkan gangguan pola tidur, kehilangan nafsu makan, berkurangnya libido, dan menurunnya kemampuan konsentrasi. Penggabungan disfungsi semua unsur yang tersebut di atas merupakan gambaran dari sindrom klasik depresi.
DIAGNOSIS
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada setiap kunjungan penderita :
Tekanan darah diukur dalam keadaan berbaring dan berdiri, hal ini untuk mendeteksi hipotensi ortostatik.
Menilai respons terhadap stress ringan, misalnya berdiri dengan tangan diekstensikan, menghitung surut dari angka seratus, bila masih ada tremor dan rigiditas yang sangat, berarti belum berespon terhadap medikasi.
Mencatat dan mengikuti kemampuan fungsional, disini penderita disuruh menulis kalimat sederhana dan menggambarkan lingkaran-lingkaran konsentris dengan tangan kanan dan kiri diatas kertas, kertas ini disimpan untuk perbandingan waktu follow up berikutnya.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar, hidrosefalua eks vakuo)
TATA LAKSANA PENYAKIT PARKINSON
Penyakit Parkinson merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul.
Pengobatan penyakit parkinson bersifat individual dan simtomatik, obat-obatan yang biasa diberikan adalah untuk pengobatan penyakit atau menggantikan atau meniru dopamin yang akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.
Perawatan pada penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara/berbicara dan pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari.
TERAPI OBAT-OBATAN
Beberapa obat yang diberikan pada penderita penyakit parkinson:
Antikolinergik
Benzotropine ( Cogentin), trihexyphenidyl ( Artane). Berguna untuk mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Untuk mengaluskan pergerakan, mengontrol tremor dan kekakuan.
Carbidopa/levodopa
Merupakan preparat yang paling efektif untuk menghilangkan gejala
Derivat dopamin-agonis-ergot berguna jika ditambahkan kedalam levodopa untuk mempelancar fluktasi klinis.
Obat-obat antihistamin untuk menghilangkan tremor.
Preparat antivirus, Amantandin hidroklorida,digunakan untuk mengurangi kekakuan,tremor dan bradikinestesia.
Inhibitor MAO untuk menghambat pemecahan dopamine
Obat-obat antidepresan
Selain terapi obat yang diberikan, pemberian makanan harus benar-benar diperhatikan, karena kekakuan otot bisa menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk menelan sehingga bisa terjadi kekurangan gizi (malnutrisi) pada penderita. Makanan berserat akan membantu mengurangi ganguan pencernaan yang disebabkan kurangnya aktivitas, cairan dan beberapa obat.
TERAPI FISIK
Sebagian terbesar penderita Parkinson akan merasa efek baik dari terapi fisik. Pasien akan termotifasi sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah, dengan diberikan petunjuk atau latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi fisik pada penyakit Parkinson merupakan program jangka panjang dan jenis terapi disesuaikan dengan perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan pada rigiditas, tremor dan hambatan lainnya.
Latihan fisik yang teratur, termasuk yoga, taichi, ataupun tari dapat bermanfaat dalam menjaga dan meningkatkan mobilitas, fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan dasar selalu dianjurkan, seperti membawa tas, memakai dasi, mengunyah keras, dan memindahkan makanan di dalam mulut.
TERAPI SUARA
Perawatan yang paling besar untuk kekacauan suara yang diakibatkan oleh penyakit Parkinson adalah dengan Lee Silverman Voice Treatment ( LSVT ). LSVT fokus untuk meningkatkan volume suara.
TERAPI GEN
Penyelidikan telah dilakukan hingga tahap terapi gen yang melibatkan penggunaan virus yang tidak berbahaya yang dikirim ke bagian otak yang disebut subthalamic nucleus (STN). Gen yang digunakan memerintahkan untuk mempoduksi sebuah enzim yang disebut glutamic acid decarboxylase (GAD) yang mempercepat produksi neurotransmitter (GABA). GABA bertindak sebagai penghambat langsung sel yang terlalu aktif di STN.
PENCANGKOKAN SYARAF
Cangkok sel stem secara genetik untuk memproduksi dopamine atau sel sistem yang berubah menjadi sel memproduksi dopamine telah mulai dilakukan.
OPERASI
Operasi untuk penderita Parkinson jarang dilakukan sejak ditemukannya levodopa. Operasi dilakukan pada pasien dengan Parkinson yang sudah parah di mana terapi dengan obat tidak mencukupi. Operasi dilakukan thalatotomi dan stimulasi thalamik.
TERAPI NEUROPROTEKTIF
Terapi neuroprotektif dapat melindungi neuron dari kematian sel yang diinduksi progresifitas penyakit. receptors.
NUTRISI
Beberapa nutrient telah diuji dalam studi klinik klinik untuk kemudian digunakan secara luas untuk mengobati pasien Parkinson.
BOTOX
Baru-baru ini, injeksi Botox sedang diteliti sebagai salah satu pengobatan non-FDA di masa mendatang.
Progresifitas gejala pada PD dapat berlangsung 20 tahun atau lebih. Namun demikian pada beberapa orang dapat lebih singkat. Tidak ada cara yang tepat untuk memprediksikan lamanya penyakit ini pada masing-masing individu. Dengan treatment yang tepat, kebanyakan pasien PD dapat hidup produktif beberapa tahun setelah diagnosis.
PROSES KEPERAWATAN
Pengkajian
1.Amati perubahan fungsi sepanjang hari dan respon terhadap obat.
2.Amati bagaimana pasien bergerak, berjalan, dan minum.
Diagnosa Keperawatan
1.Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan otot dan kelemahan otot.
2.Kurang perawtan diri ( makan, minum, berpakaian, hygiene ) yang berhubungan dengan tremor dan gangguan motorik.
3.Konstipasi yang berhubungan dengan obat dan penurunan aktivitas
4.Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor, lambat dalam aktivitas makan, kesulitan dalam mengunyah dan menelan.
5.Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, ketidakmampuan untuk menggerakan otot-otot wajah.
6.Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan depresi dan disfungsi akibat perkembangan penyakit.
Intervensi
MEMPERBAIKI MOBILITAS
1.Program latihan harian progresif untuk meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki koordinasi dan ketrampilan, mengurangi kekuatan otot, dan mencegah kontraktur.
2.Latihan untuk mobilitas sendi, missal bersepeda statis , berjalan
3.Ajarkan untuk berjalan dengan postur tegak, memandang kedepan, dan menggunakan kuda-kuda berjalan yang lebar untuk mencegah limbung
4.Latihan postural melawan kecenderungan kepala dan leher terarik kedepan dan menunduk.
5.Mandi hangat dan masase untuk membantu merilekskan otot.
MENINGKATKAN AKTIVITAS PERAWATAN DIRI
1.Ajarkan tentang aktivitas kehidupan sehri-hari.
2.Modifikasi lingkungan untuk mengkompensasi terhadap ketidakmampuan fungsional.
MEMPERBAIKI FUNGSI USUS
1.Tetapkan rutinitas defekasi regular.
2.Tingkatkan masukan cairan ; makan makanan yang cukup mengandung serat.
3.Berikan dudukan toilet yang telah ditinggikan untuk memudahkan aktivitas toileting.
MEMPERBAIKI STATUS NUTRISI
1.Permudah kegiatan menelan dan cegah aspirasi dengan meminta pasien duduk dalam posisi tegak selama waktu makan
2.Berikan diet semipadat dengan cairan kental yang memudahkan untuk ditelan.
3.Ingatkan pasien untuk menahan kepala agar tetap tegak dan membuat upaya sadar menelan untuk mengontrol pengumpulan saliva.
4.Pantau berat badan setiap minggu.
MEMPERBAIKI KOMUNIKASI
1.Ingatkan pasien untuk menghadap pada pendengaran .
2.Pertegas pelafalan kata-kata.
3.Bicara dalam kalimat pendek-pendek.
4.Tarik nafas dalam beberapa kali sebelum berbicara.
MEMBERIKAN DUKUNGAN KEMAMPUAN KOPING
1.Pertahankan kepatuhan penuh terhadap program latihan dan berjalan.
2.Berikan dorongan semangat dan keyakinan continue.
3.Bantu dan berikan dorongan untuk membuat tujuan yang dapat dicapai.
4.Berikan dorongan untuk melakukan tugas-tugas harian untuk mempertahankan kemandirian.
PENYULUHAN PASIEN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN PERAWATAN DI RUMAH DAN KOMUNTAS
1.Jelaskan sifat dan penatalaksanaan penyakit untuk menghilangkan ansietas dan rasa takut
2.Kenali bahwa keluarga dalam keadaan strees akibat hidup bersama anggota keluarga yang mengalami kecacatan.
3.Libatkan pemberian asuhan dalam perencanaan dan sarankan untuk belajar tehnik reduksi-stres.
4.Berikan keluarga informasi tentang pengobatan dan perawatan untuk mencegah komplikasi.
5.Berikan dorongan pada pemberi asuhan untuk mengambil istirahat sejenak dari tanggung jawab dan melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan.
6.Berikan anggota keluarga izin untuk mengekspresikan perasaan tentang frustasi, marah dan rasa bersalah.
Penyakit Parkinson merupakan kelainan neurologis progresif yang menyerang puasat otak yang bertanggung jawab terhadap control dan regulasi gerakan.( Brunner & Suddart ).
Penyakit Parkinson ( paralysis agitans ) atau sindrom Parkinson ( Parkinsonismus ) merupakan suatu penyakit atau sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/ neostriatum ( striatal dopamine deficiency ).
Ganglia basalis sering ikut terlibat di dalam proses degeneratif dan mengakibatkan gangguan gerakan, yang dapat berupa gerakan menjadi lamban atau gerakan menjadi berlebihan. Gerak lamban di sebut sebagai gerak involunter yang abnormal, hiperkinesia atau diskinesia.
Ganglia basalis itu sendiri terdiri dari :
Korpus striatum : nukleus kaudatus, putamen, dan globus palidus.
Substansia nigra.
Nukleus subtalamik.
Sinrdom parkinson dengan beragam etiologi gambaran gejala klinis hampir serupa. Kriteria untuk menggolongkannya ke dalam sindrom Parkinson adanya rigiditas, tremor, dan bradikinesia.
Johnson dan kawan-kawan mengemukakan bahwa diagnosis klinis penyakit Parkinson dapat ditegakkan bila dijumpai sekurang-kurangnya 2 dari4 gejala seperti tremor, rigiditas, bradikinesia dan instabilitas postural.
KLASIFIKASI
1. Parkinsonismus primer/ idiopatik/paralysis agitans.
sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya belum jelas.
Kira-kira 7 dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.
2. Parkinsonismus sekunder atau simtomatik
dapat disebabkan pasca ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis, sifilis meningovaskuler.
iatrogenik atau drug induced, misalnya golongan fenotiazin, reserpin, tetrabenazin.
lain-lain, misalnya perdarahan serebral petekial pasca trauma yang berulang-ulang pada petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid dan kalsifikasi.
3. Sindrom paraparkinson ( Parkinson plus )
pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran penyakit keseluruhan.
jenis ini bisa didapat pada penyakit Wilson ( degenerasi hepato-lentikularis ), hidrosefalus normotensif, sindrom Shy-drager, degenerasi striatonigral, atropi palidal ( parkinsonismus juvenilis ).
GAMBARAN KLINIS
1.Tremor
Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar pada sendi metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang logam atau memulung-mulung ( pil rolling ).
Pada sendi tangan fleksi-ekstensi atau pronasi-supinasi pada kaki fleksi-ekstensi, kepala fleksi-ekstensi atau menggeleng, mulut membuka menutup, lidah terjulur-tertarik.
Tremor ini menghilang waktu istirahat dan menghebat waktu emosi terangsang ( resting/ alternating tremor
2. Rigiditas
Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda bergigi ( cogwheel phenomenon ).
3.Bradikinesia
gerakan volunteer menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat.
Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimic dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut.
4.Mikrografia
Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini.
5.Langkah dan gaya jalan ( sikap Parkinson )
Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat ( marche a petit pas ), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan.
6. Bicara monoton
Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat.
7. Disfungsi otonom
Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik.
8. Gangguan behavioral
Lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi.
Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat ( bradifrenia ) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup.
9. Dimensia
Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan deficit kognitif.
10. lain-lain
kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya ( tanda Myerson positif ).
KAREKTERISTIK LAIN YANG MENYERANG WAJAH, TINGGI BADAN DAN GAYA BERJALAN
1.Kehilangan gerakan mengayun lengan yang normal.
2.Ekstermitas yang mengalami kekauan menjadi lebih lemah
3.Ekspresi wajah seperti topeng
4.Kehilangan refleks postual: pasien berdiri dengan kepala membungkuk ke depan dan berjalan gaya seperti robot.
ETIOLOGI
Etiologi Parkinson primer belum diketahui, masih belum diketahui. Terdapat beberapa dugaan, di antaranya ialah : infeksi oleh virus yang non-konvensional (belum diketahui), reaksi abnormal terhadap virus yang sudah umum, pemaparan terhadap zat toksik yang belum diketahui, terjadinya penuaan yang prematur atau dipercepat.
Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary). Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak disadarinya. Mekanis-me bagaimana kerusakan itu belum jelas benar.
Beberapa hal yang diduga bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut :
1.Usia
Insiden meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200 dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia nigra, pada penyakit parkinson.
2.Geografi
Di Libya 31 dari 100.000 orang, di Buinos aires 657 per 100.000 orang. Faktor resiko yang mempengaruhi perbedaan angka secara geografis ini termasuk adanya perbedaaan genetik, kekebalan terhadap penyakit dan paparan terhadap faktor lingkungan.
3.Periode
Fluktuasi jumlah penderita penyakit parkinson tiap periode mungkin berhubungan dengan hasil pemaparan lingkungan yang episodik, misalnya proses infeksi, industrialisasi ataupun gaya hidup.
4.Genetik
Adanya riwayat penyakit parkinson pada keluarga meningakatkan faktor resiko menderita penyakit parkinson sebesar 8,8 kali pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada usia relatif muda.
5.Faktor Lingkungan
a.Xenobiotik
Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat menmbulkan kerusakan mitokondria
b.Pekerjaan
Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama
c.Infeksi
Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadi faktor predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan substansia nigra. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh infeksi Nocardia astroides.
d.Diet
Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson. Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif.
e.Trauma kepala
Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar
f.Stress dan depresi
Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena pada stress dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif.
PATOFISIOLOGI
Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal ada penyakit Parkinson ialah: hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
Hipotesis radikal bebas
Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal
Hipotesis neurotoksin
Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson
Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
Dasar patologinya mencakup lesi di ganglia basalis (kaudatus, putamen, palidum, nukleus subtalamus) dan batang otak (substansia nigra, nukleus rubra, lokus seruleus).
Mekanisme terjadinya Parkinson disease
Perubahan neurotransmiter dan neuropeptid menyebabkan perubahan neurofisiologik yang berhubungan dengan perubahan suasana perasaan. Sistem transmiter yang terlibat ini menengahi proses reward, mekanisme motivasi, dan respons terhadap stres. Sistem dopamin berperan dalam proses reward dan reinforcement. Febiger mengemukakan hipotesis bahwa abnormalitas sistem neurotransmiter pada penyakit Parkinson akan mengurangi keefektifan mekanisme reward dan menyebabkan anhedonia, kehilangan motivasi dan apatis. Sedang Taylor menekankan pentingnya peranan sistem dopamin forebrain dalam fungsi-fungsi tingkah laku terhadap pengharapan dan antisipasi. Sistem ini berperan dalam motivasi dan dorongan untuk berbuat, sehingga disfungsi ini akan mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan dengan berkurangnya keinginan melakukan aktivitas, menurunnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri. Berkurangnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dapat bermanifestasi sebagai perasaan tidak berguna dan kehilangan harga diri. Ketergantungan terhadap lingkungan dan ketidakmampuan melakukan aktivitas akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dan putus asa. Sistem serotonergik berperan dalam regulasi suasana perasaan, regulasi bangun tidur, aktivitas agresi dan seksual. Disfungsi sistem ini akan menyebabkan gangguan pola tidur, kehilangan nafsu makan, berkurangnya libido, dan menurunnya kemampuan konsentrasi. Penggabungan disfungsi semua unsur yang tersebut di atas merupakan gambaran dari sindrom klasik depresi.
DIAGNOSIS
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada setiap kunjungan penderita :
Tekanan darah diukur dalam keadaan berbaring dan berdiri, hal ini untuk mendeteksi hipotensi ortostatik.
Menilai respons terhadap stress ringan, misalnya berdiri dengan tangan diekstensikan, menghitung surut dari angka seratus, bila masih ada tremor dan rigiditas yang sangat, berarti belum berespon terhadap medikasi.
Mencatat dan mengikuti kemampuan fungsional, disini penderita disuruh menulis kalimat sederhana dan menggambarkan lingkaran-lingkaran konsentris dengan tangan kanan dan kiri diatas kertas, kertas ini disimpan untuk perbandingan waktu follow up berikutnya.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar, hidrosefalua eks vakuo)
TATA LAKSANA PENYAKIT PARKINSON
Penyakit Parkinson merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul.
Pengobatan penyakit parkinson bersifat individual dan simtomatik, obat-obatan yang biasa diberikan adalah untuk pengobatan penyakit atau menggantikan atau meniru dopamin yang akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.
Perawatan pada penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara/berbicara dan pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari.
TERAPI OBAT-OBATAN
Beberapa obat yang diberikan pada penderita penyakit parkinson:
Antikolinergik
Benzotropine ( Cogentin), trihexyphenidyl ( Artane). Berguna untuk mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Untuk mengaluskan pergerakan, mengontrol tremor dan kekakuan.
Carbidopa/levodopa
Merupakan preparat yang paling efektif untuk menghilangkan gejala
Derivat dopamin-agonis-ergot berguna jika ditambahkan kedalam levodopa untuk mempelancar fluktasi klinis.
Obat-obat antihistamin untuk menghilangkan tremor.
Preparat antivirus, Amantandin hidroklorida,digunakan untuk mengurangi kekakuan,tremor dan bradikinestesia.
Inhibitor MAO untuk menghambat pemecahan dopamine
Obat-obat antidepresan
Selain terapi obat yang diberikan, pemberian makanan harus benar-benar diperhatikan, karena kekakuan otot bisa menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk menelan sehingga bisa terjadi kekurangan gizi (malnutrisi) pada penderita. Makanan berserat akan membantu mengurangi ganguan pencernaan yang disebabkan kurangnya aktivitas, cairan dan beberapa obat.
TERAPI FISIK
Sebagian terbesar penderita Parkinson akan merasa efek baik dari terapi fisik. Pasien akan termotifasi sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah, dengan diberikan petunjuk atau latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi fisik pada penyakit Parkinson merupakan program jangka panjang dan jenis terapi disesuaikan dengan perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan pada rigiditas, tremor dan hambatan lainnya.
Latihan fisik yang teratur, termasuk yoga, taichi, ataupun tari dapat bermanfaat dalam menjaga dan meningkatkan mobilitas, fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan dasar selalu dianjurkan, seperti membawa tas, memakai dasi, mengunyah keras, dan memindahkan makanan di dalam mulut.
TERAPI SUARA
Perawatan yang paling besar untuk kekacauan suara yang diakibatkan oleh penyakit Parkinson adalah dengan Lee Silverman Voice Treatment ( LSVT ). LSVT fokus untuk meningkatkan volume suara.
TERAPI GEN
Penyelidikan telah dilakukan hingga tahap terapi gen yang melibatkan penggunaan virus yang tidak berbahaya yang dikirim ke bagian otak yang disebut subthalamic nucleus (STN). Gen yang digunakan memerintahkan untuk mempoduksi sebuah enzim yang disebut glutamic acid decarboxylase (GAD) yang mempercepat produksi neurotransmitter (GABA). GABA bertindak sebagai penghambat langsung sel yang terlalu aktif di STN.
PENCANGKOKAN SYARAF
Cangkok sel stem secara genetik untuk memproduksi dopamine atau sel sistem yang berubah menjadi sel memproduksi dopamine telah mulai dilakukan.
OPERASI
Operasi untuk penderita Parkinson jarang dilakukan sejak ditemukannya levodopa. Operasi dilakukan pada pasien dengan Parkinson yang sudah parah di mana terapi dengan obat tidak mencukupi. Operasi dilakukan thalatotomi dan stimulasi thalamik.
TERAPI NEUROPROTEKTIF
Terapi neuroprotektif dapat melindungi neuron dari kematian sel yang diinduksi progresifitas penyakit. receptors.
NUTRISI
Beberapa nutrient telah diuji dalam studi klinik klinik untuk kemudian digunakan secara luas untuk mengobati pasien Parkinson.
BOTOX
Baru-baru ini, injeksi Botox sedang diteliti sebagai salah satu pengobatan non-FDA di masa mendatang.
Progresifitas gejala pada PD dapat berlangsung 20 tahun atau lebih. Namun demikian pada beberapa orang dapat lebih singkat. Tidak ada cara yang tepat untuk memprediksikan lamanya penyakit ini pada masing-masing individu. Dengan treatment yang tepat, kebanyakan pasien PD dapat hidup produktif beberapa tahun setelah diagnosis.
PROSES KEPERAWATAN
Pengkajian
1.Amati perubahan fungsi sepanjang hari dan respon terhadap obat.
2.Amati bagaimana pasien bergerak, berjalan, dan minum.
Diagnosa Keperawatan
1.Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan otot dan kelemahan otot.
2.Kurang perawtan diri ( makan, minum, berpakaian, hygiene ) yang berhubungan dengan tremor dan gangguan motorik.
3.Konstipasi yang berhubungan dengan obat dan penurunan aktivitas
4.Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor, lambat dalam aktivitas makan, kesulitan dalam mengunyah dan menelan.
5.Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, ketidakmampuan untuk menggerakan otot-otot wajah.
6.Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan depresi dan disfungsi akibat perkembangan penyakit.
Intervensi
MEMPERBAIKI MOBILITAS
1.Program latihan harian progresif untuk meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki koordinasi dan ketrampilan, mengurangi kekuatan otot, dan mencegah kontraktur.
2.Latihan untuk mobilitas sendi, missal bersepeda statis , berjalan
3.Ajarkan untuk berjalan dengan postur tegak, memandang kedepan, dan menggunakan kuda-kuda berjalan yang lebar untuk mencegah limbung
4.Latihan postural melawan kecenderungan kepala dan leher terarik kedepan dan menunduk.
5.Mandi hangat dan masase untuk membantu merilekskan otot.
MENINGKATKAN AKTIVITAS PERAWATAN DIRI
1.Ajarkan tentang aktivitas kehidupan sehri-hari.
2.Modifikasi lingkungan untuk mengkompensasi terhadap ketidakmampuan fungsional.
MEMPERBAIKI FUNGSI USUS
1.Tetapkan rutinitas defekasi regular.
2.Tingkatkan masukan cairan ; makan makanan yang cukup mengandung serat.
3.Berikan dudukan toilet yang telah ditinggikan untuk memudahkan aktivitas toileting.
MEMPERBAIKI STATUS NUTRISI
1.Permudah kegiatan menelan dan cegah aspirasi dengan meminta pasien duduk dalam posisi tegak selama waktu makan
2.Berikan diet semipadat dengan cairan kental yang memudahkan untuk ditelan.
3.Ingatkan pasien untuk menahan kepala agar tetap tegak dan membuat upaya sadar menelan untuk mengontrol pengumpulan saliva.
4.Pantau berat badan setiap minggu.
MEMPERBAIKI KOMUNIKASI
1.Ingatkan pasien untuk menghadap pada pendengaran .
2.Pertegas pelafalan kata-kata.
3.Bicara dalam kalimat pendek-pendek.
4.Tarik nafas dalam beberapa kali sebelum berbicara.
MEMBERIKAN DUKUNGAN KEMAMPUAN KOPING
1.Pertahankan kepatuhan penuh terhadap program latihan dan berjalan.
2.Berikan dorongan semangat dan keyakinan continue.
3.Bantu dan berikan dorongan untuk membuat tujuan yang dapat dicapai.
4.Berikan dorongan untuk melakukan tugas-tugas harian untuk mempertahankan kemandirian.
PENYULUHAN PASIEN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN PERAWATAN DI RUMAH DAN KOMUNTAS
1.Jelaskan sifat dan penatalaksanaan penyakit untuk menghilangkan ansietas dan rasa takut
2.Kenali bahwa keluarga dalam keadaan strees akibat hidup bersama anggota keluarga yang mengalami kecacatan.
3.Libatkan pemberian asuhan dalam perencanaan dan sarankan untuk belajar tehnik reduksi-stres.
4.Berikan keluarga informasi tentang pengobatan dan perawatan untuk mencegah komplikasi.
5.Berikan dorongan pada pemberi asuhan untuk mengambil istirahat sejenak dari tanggung jawab dan melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan.
6.Berikan anggota keluarga izin untuk mengekspresikan perasaan tentang frustasi, marah dan rasa bersalah.
Label:
asuhan keperawatan
Senin, 26 Oktober 2009
ALBUMIN
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnya—terdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolisme—asam lemak bebas dan bilirubuin—dan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.
Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal, berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria – keberadaan sejumlah kecil protein albumin dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung – dalam kelompok pasien HIV-positif dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34% orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua (p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4 cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan NNRTI (p < 0,05).
“Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal”, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, “prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.”
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 – 1009, 2007.
Edit terakhir: 1 Juni 2007
Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility, including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron (transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns, protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture, genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A) deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL
http://dewabenny.blogspot.com/
Hipoalbuminemia
Hipoalbumin
Sumber : http://dewabenny.com/2008/06/22/hipoalbumin/
Pendahuluan
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki beberapa fungsi penting :
1. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar 75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema
2. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.
3. Perubahan pada albumin akan menyebabkan gangguan fungsi platelet
Kadar normal albumin dalam darah antara 3,5-4,5 g/dl, dengan jumlah total 300-500 g. sintesis terjadi hanya di sel hati dengan produksi sekitar 15 g/ hari pada orang sehat, tetapi jumlah yang dihasilkan bervariasi signifikan pada berbagai tipe stress fisiologis. Waktu paruh albumin sekitar 20 hari, dengan kecepatan degradasi 4 % per hari
Hipoalbuminemia merupakan masalah yang sering dihadapai pada orang dengan kondisi medis akut atau kronik. Pada saat masuk rumah sakit sekitar 20 % pasien sudah menderita. Kadara albumin darah yang rendah menjadi predictor penting berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas. Pada penelitian meta-analisis didapatkan setiap penurunan albumin darah sebesar 10 g/L, anka mortalitas meningkat 137 % dan morbiditas 89%
Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut maupun kronis.
1. Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati
2. Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien deng sirosis hepatis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
3. Kehilangan protein ekstravaskular
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka bakar yang luas.
4. Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan ascites
5. Inflamasi akut dan kronis
Kada albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme berikut:
1. Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk berdifusi ke ruang ekstravaskular)
2. Peningkatan degradasi albumin
3. Penurunan sintesis albumin (TNF-α yang berperan dalam penuruanan trankripsi gen albumin)
Diposting oleh dewabenny di 9:30 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Kedokteran
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/Jabar/10782.htm
Forum
Hipertensi Menakutkan, Tetapi Bisa Dikendalikan
Oleh Henhen Heryaman
Berdasarkan data statistik kesehatan di Amerika, sedikitnya terdapat 50 juta penderita hipertensi, sedangkan di seluruh dunia berkisar satu miliar penderita. Di Indonesia belum terdapat data pasti berapa jumlah penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi bersifat long term treatment sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang diagnosisnya ditegakkan dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi secara etiologi atau penyebab dibagi menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial (lebih kurang 85 persen) dan hipertensi sekunder (sekitar 15 persen). Penyebab hipertensi esensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Adapun penyebab hipertensi sekunder dapat diketahui, salah satunya akibat penyakit ginjal.
Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital tubuh yang menggambarkan dua variabel organ penting, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung berfungsi sebagai pompa yang menyuplai makanan dan mengantarkan oksigen yang berada di dalam sel darah merah yang berikatan dengan hemoglobin. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengantarkan cairan darah yang terdiri dari sel darah, sumber nutrisi bagi sel dan air.
Darah terdiri dari sel darah, protein, glukosa (gula darah), air, dan mineral. Semakin banyak volume darah yang dipompakan jantung, secara matematis dapat dilihat bahwa tekanan darah berbanding lurus dengan volume darah. Makin banyak volume darah yang berada di jantung, semakin tinggi tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan isinya.
Volume darah dipengaruhi kadar air dan elektrolit yang ada di dalam cairan darah. Makin banyak air yang ada di dalam cairan darah, semakin banyak volume darahnya. Kadar air ini dipengaruhi adanya elektrolit dan gula darah.
Untuk memudahkan pemahaman, analoginya adalah manisan belimbing. Apabila belimbing direndam dalam cairan gula, air yang dikandung belimbing akan keluar sehingga belimbing terlihat mengerut karena airnya sudah berpindah. Kadar gula yang meningkat di dalam pembuluh darah akan menarik air yang berada di luar pembuluh darah untuk berpindah ke dalam pembuluh darah.
Selain gula darah, yang paling berperan adalah protein darah, terutama albumin. Albumin berperan mempertahankan air yang berada di dalam pembuluh darah agar tidak berpindah ke luar pembuluh. Secara fisika hal ini dikenal dengan tekanan onkotik. Kadar albumin dipengaruhi oleh intake makanan sumber protein dan ginjal yang berfungsi untuk mencegah protein terbuang ke urine, yang disebut fungsi filtrasi.
Pada penderita yang kekurangan gizi protein, kadar albumin juga mengalami penurunan. Perutnya akan terlihat buncit, tetapi badannya kurus. Hal ini dikarenakan air yang ada di pembuluh darah berpindah ke rongga perut. Kelainan pada ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal, yaitu untuk mempertahankan albumin supaya tidak terbuang ke dalam urine. Sebab, kandungan albumin di dalam urine dapat dijadikan indikator adanya gangguan fungsi ginjal. Penyakit ginjal yang mengakibatkan kadar albumin turun disebut nefrotic syndrome. Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan istilah bocor ginjal.
Faktor psikis
Pembuluh darah yang kurang elastis mengakibatkan resistensi (tahanan) perifer yang meningkat berbanding lurus dengan tekanan darah. Pembuluh darah dipengaruhi berbagai faktor, antara lain rokok dan emosi.
Bagaimana rokok bisa memengaruhi pembuluh darah? Banyak penelitian tentang rokok, kandungan zat beracun, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Peringatan akan bahaya rokok sering ditampilkan bersama iklan rokok. Salah satunya, rokok dapat mengakibatkan penyakit jantung dan hipertensi. Rokok, selain mengandung zat racun (toksin) yang berjumlah jutaan, juga menjadi oksidan (radikal bebas) yang merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan keelastisan pembuluh darah berkurang. Akibatnya, tekanan darah meningkat.
Hipertensi dipengaruhi juga oleh faktor psikis (emosi). Pada saat cemas atau dalam keadaan marah, tubuh melepaskan hormon katekolamin yang berpengaruh terhadap peningkatan resistensi perifer dari pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Ada kalanya hipertensi tidak menimbulkan gejala, tergantung dari tinggi rendahnya tekanan sistole dan diastole. Penderita lebih sering mengeluhkan adanya nyeri kepala berat atau dalam dunia kedokteran disebut tension type headache. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sulit dikontrol, terutama oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Atau, biasanya penderita hipertensi sudah mempunyai sensor tertentu. Maka, apabila tidak merasakan adanya keluhan, penderita tidak akan memeriksakan tekanan darahnya. Keinginan untuk memeriksakan diri timbul saat mulai dirasakan adanya keluhan.
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Komplikasi yang paling sering adalah stroke, penyakit jantung koroner, dan akhirnya menjadi gagal jantung dan gagal ginjal. Penyakit stroke dan jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penatalaksanaan hipertensi
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi nonmedika mentosa (nonfarmakologi) dan medika mentosa (obat-obatan). Pengobatan nonmedika mentosa adalah pengobatan tanpa obat-obatan antihipertensi. Pengobatannya berdasarkan masukan garam dapur dengan diet rendah garam, olahraga, penurunan berat badan, dan perbaikan gaya hidup seperti menghindari beralkohol.
Pengobatan hipertensi bersifat long term therapy. Hal ini karena penyebab pasti belum diketahui sehingga pasien harus rajin minum obat antihipertensi. Apabila tidak teratur, bisa mengakibatkan percepatan komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner.
Namun, bukan berarti penyakit yang satu ini tidak dapat dikendalikan atau diobati. Ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada penderita hipertensi atau yang berisiko menderita hipertensi, seperti mempunyai riwayat keluarga penderita hipertensi.
Pertama, sebaiknya dilakukan kontrol teratur minimal satu bulan sekali atau mengukur sendiri tekanan darahnya bagi penderita hipertensi golongan ringan (prehi-pertensi). Bila terjadi peningkatan tekanan darah, segera konsultasikan kepada dokter agar dapat dilakukan penanganan lebih dini.
Kedua, mengendalikan atau mengubah gaya hidup, seperti menghindari kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, membiasakan diri melakukan olahraga teratur, dan melakukan diet rendah garam.
Ketiga, bila setelah dilakukan pengaturan gaya hidup tekanan darah tidak berubah, sebaiknya penderita mengonsumsi obat-obatan antihipertensi. Dengan saran-saran yang telah diberikan, semoga tekanan darah penderita hipertensi tetap dalam keadaan terkontrol dan akhirnya berbagai komplikasi dapat dihindari.
Henhen Heryaman Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
http://www.topklik.com/ALKUTEN
Welcome to Alkuten Sehati - Sari Kutuk/Gabus "ALKUTEN" 100% AlbuminAlbumin merupakan jenis Protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai
kadar 60%. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Didalam ilmu
kedokteran, Albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringansel tubuh yang terbelah/rusak. Albumin juga berperan mengikat Obat-obatan Serta Logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.
GEL SARI IKAN KUTUK/GABUS adalah ekstrak/Sari Ikan dalm bentuk jell tanpa rasa amis dari Kutuk pilihan dan asli, mengandung Channa Albumin serta Asam Amino Esensial lengkap yang pentingbuat tubuh. Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus ini dibuat melalui penelitian para ahli dengan Cara pembuatan yang hygienis tanpa bahan kimia dan pengawet.
Sejak dahulu Ikan KUTUK/GABUS dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi Pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan hal ini dikarenakan Ikan KUTUK/GABUS mengandung protein yang tinggi (Albumin), sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka.Hampir semua pasien berkadar Albumin rendah yang diberi Sari Ikan KUTUK/GABUS ini, kadar Albuminnya naik lebih cepat dari pada pemberian Albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrom, Tonsilitis,Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, Gizi Buruk, Sepsis, Stroke, ITP (Idiopatik Trombosit Tupenia Purpura), HIV, Thalasemia Minor , Autis, Kondisi ini bisa lebih baik dengan pemberian Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus
KHASIAT & KEGUNAAN :
1. Meningkatkan kadar Albumin dan Daya Tahan Tubuh.
2. Mempercepat proses penyembuhan Pasca Operasi.
3. Mempercepat penyembuhan Luka Dalam / Luka Luar.
4. Membantu proses penyembuhan pada penyakit :
Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome,Tonsilitis,
Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, ITP, HIV, Sepsis,
Stroke, Thalasemia Minor.
5. Menghilangkan Oedem (Pembengkakan).
6. Memperbaiki Gizi Buruk pada Bayi, Anak dan Ibu Hamil.
7. Membantu penyembuhan Autis.
http://www.lmi-amilzakat.com/?mod=news&id=135
Ikan Gabus atau Kutuk-Dulu di Caci, Kini di Cari
Dikirim pada hari Kamis, 11 Sep 2008
Halal September
Ikan Gabus atau Kutuk
Dulu di Caci, Kini di Cari
Ikan Gabus atau biasa disebut Ikan Kutuk (lokal) ini sekilas memang mirip dengan ular. Kepalanya hitam lengkap dengan gigi yang bergerigi dan runcing. Bentuk tubuhnya bulat memanjang, dimana di bagian posterior (pangkal ekor, bawah perut) pipih. Bahkan sebagian masyarakat masih memiliki kesan bahwa makan ikan kutuk sama halnya memakan ular. Padahal, ikan kutuk adalah ikan air tawar yang bersifat karnivora. Makanannya adalah cacing, katak, anak-anak ikan, udang, insekta, dan ketam.
Ikan yang memiliki nama latin Ophiocephalus Striatus ini, mudah ditemukan di perairan umum seperti danau, rawa, dan sungai. Ikan gabus ini juga bisa hidup di perairan payau. Ikan gabus mudah ditemukan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, dan Ambon. Hanya, nama ikan gabus di masing-masing daerah berbeda.
Semenjak diangkat dalam satu penelitian khusus oleh Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, guru besar ilmu biokimia ikan Fakultas Perikanan Unibraw (Universitas Brawijaya) pada 2003. Fenomena ikan gabus yang konon katanya berkhasiat ini kini makin dicari masyarakat. Bahkan harganya pun semakin mahal pula.
Dalam penelitian berjudul Albumin Ikan Gabus (Ophiochepalus striatus) sebagai Makanan Fungsional Mengatasi Permasalahan Gizi Masa Depan, Eddy mengupas habis tentang potensi ikan gabus. "Dilihat dari kandungan asam aminonya, ikan gabus memiliki struktur yang lebih lengkap dibandingkan jenis ikan lain," katanya kepada Radar Malang (Grup Jawa Pos) (19/9).
Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu, ikan gabus segar, kebanyakan di jual dalam keadaan hidup merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berrawa atau sungai.
Daging ikan gabus sebenarnya tidak hanya menjadi sumber protein, tapi juga sumber mineral lainnya. Di antaranya, zinc (seng) dan trace element lain yang diperlukan tubuh. Hasil studi Eddy pernah di ujicobakan di instalasi gizi serta bagian bedah RSU dr. Saiful Anwar Malang. Uji coba tersebut dilakukan pada pasien pasca operasi dengan kadar albumin rendah (1,8 g/dl). "Dengan perlakuan 2 kg ikan kutuk masak per hari, telah meningkatkan kadar albumin darah pasien menjadi normal (3,5-5,5 g/dl)," ujarnya.
Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama penderita hipoalbumin (rendah albumin) yang sedang dalam proses penyembuhan luka-luka. Baik luka pascaoperasi maupun luka bakar. Bahkan, di daerah pedesaan, anak laki-laki pasca dikhitan selalu dianjurkan mengonsumsi ikan jenis itu agar penyembuhan lebih cepat.
Caranya, daging ikan kutuk dikukus atau di-steam, sehingga memperoleh filtrate, yang dijadikan menu ekstra bagi penderita hipoalbumin dan luka. Pemberian menu ekstrak filtrat ikan kutuk tersebut berkorelasi positif dengan peningkatan kadar albumin plasma dan penyembuhan luka pasca operasi. (fin/dari pelbagai sumber)
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/Jabar/10782.htm
Forum
Hipertensi Menakutkan, Tetapi Bisa Dikendalikan
Oleh Henhen Heryaman
Berdasarkan data statistik kesehatan di Amerika, sedikitnya terdapat 50 juta penderita hipertensi, sedangkan di seluruh dunia berkisar satu miliar penderita. Di Indonesia belum terdapat data pasti berapa jumlah penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi bersifat long term treatment sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang diagnosisnya ditegakkan dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi secara etiologi atau penyebab dibagi menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial (lebih kurang 85 persen) dan hipertensi sekunder (sekitar 15 persen). Penyebab hipertensi esensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Adapun penyebab hipertensi sekunder dapat diketahui, salah satunya akibat penyakit ginjal.
Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital tubuh yang menggambarkan dua variabel organ penting, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung berfungsi sebagai pompa yang menyuplai makanan dan mengantarkan oksigen yang berada di dalam sel darah merah yang berikatan dengan hemoglobin. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengantarkan cairan darah yang terdiri dari sel darah, sumber nutrisi bagi sel dan air.
Darah terdiri dari sel darah, protein, glukosa (gula darah), air, dan mineral. Semakin banyak volume darah yang dipompakan jantung, secara matematis dapat dilihat bahwa tekanan darah berbanding lurus dengan volume darah. Makin banyak volume darah yang berada di jantung, semakin tinggi tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan isinya.
Volume darah dipengaruhi kadar air dan elektrolit yang ada di dalam cairan darah. Makin banyak air yang ada di dalam cairan darah, semakin banyak volume darahnya. Kadar air ini dipengaruhi adanya elektrolit dan gula darah.
Untuk memudahkan pemahaman, analoginya adalah manisan belimbing. Apabila belimbing direndam dalam cairan gula, air yang dikandung belimbing akan keluar sehingga belimbing terlihat mengerut karena airnya sudah berpindah. Kadar gula yang meningkat di dalam pembuluh darah akan menarik air yang berada di luar pembuluh darah untuk berpindah ke dalam pembuluh darah.
Selain gula darah, yang paling berperan adalah protein darah, terutama albumin. Albumin berperan mempertahankan air yang berada di dalam pembuluh darah agar tidak berpindah ke luar pembuluh. Secara fisika hal ini dikenal dengan tekanan onkotik. Kadar albumin dipengaruhi oleh intake makanan sumber protein dan ginjal yang berfungsi untuk mencegah protein terbuang ke urine, yang disebut fungsi filtrasi.
Pada penderita yang kekurangan gizi protein, kadar albumin juga mengalami penurunan. Perutnya akan terlihat buncit, tetapi badannya kurus. Hal ini dikarenakan air yang ada di pembuluh darah berpindah ke rongga perut. Kelainan pada ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal, yaitu untuk mempertahankan albumin supaya tidak terbuang ke dalam urine. Sebab, kandungan albumin di dalam urine dapat dijadikan indikator adanya gangguan fungsi ginjal. Penyakit ginjal yang mengakibatkan kadar albumin turun disebut nefrotic syndrome. Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan istilah bocor ginjal.
Faktor psikis
Pembuluh darah yang kurang elastis mengakibatkan resistensi (tahanan) perifer yang meningkat berbanding lurus dengan tekanan darah. Pembuluh darah dipengaruhi berbagai faktor, antara lain rokok dan emosi.
Bagaimana rokok bisa memengaruhi pembuluh darah? Banyak penelitian tentang rokok, kandungan zat beracun, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Peringatan akan bahaya rokok sering ditampilkan bersama iklan rokok. Salah satunya, rokok dapat mengakibatkan penyakit jantung dan hipertensi. Rokok, selain mengandung zat racun (toksin) yang berjumlah jutaan, juga menjadi oksidan (radikal bebas) yang merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan keelastisan pembuluh darah berkurang. Akibatnya, tekanan darah meningkat.
Hipertensi dipengaruhi juga oleh faktor psikis (emosi). Pada saat cemas atau dalam keadaan marah, tubuh melepaskan hormon katekolamin yang berpengaruh terhadap peningkatan resistensi perifer dari pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Ada kalanya hipertensi tidak menimbulkan gejala, tergantung dari tinggi rendahnya tekanan sistole dan diastole. Penderita lebih sering mengeluhkan adanya nyeri kepala berat atau dalam dunia kedokteran disebut tension type headache. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sulit dikontrol, terutama oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Atau, biasanya penderita hipertensi sudah mempunyai sensor tertentu. Maka, apabila tidak merasakan adanya keluhan, penderita tidak akan memeriksakan tekanan darahnya. Keinginan untuk memeriksakan diri timbul saat mulai dirasakan adanya keluhan.
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Komplikasi yang paling sering adalah stroke, penyakit jantung koroner, dan akhirnya menjadi gagal jantung dan gagal ginjal. Penyakit stroke dan jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penatalaksanaan hipertensi
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi nonmedika mentosa (nonfarmakologi) dan medika mentosa (obat-obatan). Pengobatan nonmedika mentosa adalah pengobatan tanpa obat-obatan antihipertensi. Pengobatannya berdasarkan masukan garam dapur dengan diet rendah garam, olahraga, penurunan berat badan, dan perbaikan gaya hidup seperti menghindari beralkohol.
Pengobatan hipertensi bersifat long term therapy. Hal ini karena penyebab pasti belum diketahui sehingga pasien harus rajin minum obat antihipertensi. Apabila tidak teratur, bisa mengakibatkan percepatan komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner.
Namun, bukan berarti penyakit yang satu ini tidak dapat dikendalikan atau diobati. Ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada penderita hipertensi atau yang berisiko menderita hipertensi, seperti mempunyai riwayat keluarga penderita hipertensi.
Pertama, sebaiknya dilakukan kontrol teratur minimal satu bulan sekali atau mengukur sendiri tekanan darahnya bagi penderita hipertensi golongan ringan (prehi-pertensi). Bila terjadi peningkatan tekanan darah, segera konsultasikan kepada dokter agar dapat dilakukan penanganan lebih dini.
Kedua, mengendalikan atau mengubah gaya hidup, seperti menghindari kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, membiasakan diri melakukan olahraga teratur, dan melakukan diet rendah garam.
Ketiga, bila setelah dilakukan pengaturan gaya hidup tekanan darah tidak berubah, sebaiknya penderita mengonsumsi obat-obatan antihipertensi. Dengan saran-saran yang telah diberikan, semoga tekanan darah penderita hipertensi tetap dalam keadaan terkontrol dan akhirnya berbagai komplikasi dapat dihindari.
Henhen Heryaman Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
Ikan gabusDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasLangsung ke: navigasi, cari
Ikan Gabus
Ikan gabus, Channa striata
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalial
Filum:
Chordata
Kelas:
Actinopterygii
Ordo:
Perciformes
Famili:
Channidae
Genus:
Channa
Spesies:
C. striata
Nama binomial
Channa striata
(Bloch, 1793)
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di pelbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793).
[sunting] Pemerian
Kepala ikan gabus
Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.
Sisi atas tubuh --dari kepala hingga ke ekor-- berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.
[sunting] Kebiasaan
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.
Seringkali ikan gabus terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada ikan lele atau betok) namun lebih primitif.
Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.
[sunting] Penyebaran
Ikan gabus menyebar luas mulai dari Pakistan di barat, Nepal bagian selatan, kebanyakan wilayah di India, Bangladesh, Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, dan sebagian besar wilayah di Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat.
[sunting] Keragaman Jenis
Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.
Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula.
Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.
[sunting] Manfaat dan Kerugian
Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu ikan gabus segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berawa atau sungai.
Ikan gabus juga merupakan ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus relatif mudah dipancing. Namun giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.
Akan tetapi ikan ini juga dapat sangat merugikan, yakni apabila masuk ke kolam-kolam pemeliharaan ikan (Meskipun beberapa kerabat gabus di Asia juga sengaja dikembangbiakkan sebagai ikan peliharaan). Gabus sangat rakus memangsa ikan kecil-kecil, sehingga bisa menghabiskan ikan-ikan yang dipelihara di kolam, utamanya bila ikan peliharaan itu masih berukuran kecil.
Sejak beberapa tahun yang lalu di Amerika utara, ikan ini dan beberapa kerabat dekatnya yang sama-sama termasuk snakehead fishes diwaspadai sebagai ikan berbahaya, yang dapat mengancam kelestarian biota perairan di sana. Jenis-jenis snakehead sebetulnya masuk ke Amerika sebagai ikan akuarium. Kemungkinan karena kecerobohan, maka kini snakehead juga ditemui di alam, di sungai-sungai dan kolam di Amerika. Dan karena sifatnya yang buas dan invasif, Pemerintah Amerika khawatir ikan-ikan itu akan cepat meluas dan merusak keseimbangan alam perairan.
[sunting] Gabus bagi kesehatan
Diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan membantu penyembuhan beberapa penyakit.
http://dewabenny.com/2008/06/22/hipoalbumin/
Hipoalbumin
June 22, 2008 By: dewabenny Category: Medicine
Pendahuluan
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki beberapa fungsi penting :
1. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar 75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema
2. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.
3. Perubahan pada albumin akan menyebabkan gangguan fungsi platelet
Kadar normal albumin dalam darah antara 3,5-4,5 g/dl, dengan jumlah total 300-500 g. sintesis terjadi hanya di sel hati dengan produksi sekitar 15 g/ hari pada orang sehat, tetapi jumlah yang dihasilkan bervariasi signifikan pada berbagai tipe stress fisiologis. Waktu paruh albumin sekitar 20 hari, dengan kecepatan degradasi 4 % per hari
Hipoalbuminemia merupakan masalah yang sering dihadapai pada orang dengan kondisi medis akut atau kronik. Pada saat masuk rumah sakit sekitar 20 % pasien sudah menderita. Kadara albumin darah yang rendah menjadi predictor penting berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas. Pada penelitian meta-analisis didapatkan setiap penurunan albumin darah sebesar 10 g/L, anka mortalitas meningkat 137 % dan morbiditas 89%
Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut maupun kronis.
1. Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati
1. Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien deng sirosis hepatis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
1. Kehilangan protein ekstravaskular
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka bakar yang luas.
1. Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan ascites
1. Inflamasi akut dan kronis
Kada albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme berikut:
1. Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk berdifusi ke ruang ekstravaskular)
2. Peningkatan degradasi albumin
3. Penurunan sintesis albumin (TNF-? yang berperan dalam penuruanan trankripsi gen albumin)
http://pujiminkapsul.wordpress.com/2008/07/17/albumin/
ALBUMIN
July 17, 2008 at 8:51 am (albumin, ikan gabus, kapsul albumin)
Tags: albumin, ikan gabus
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnya—terdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolisme—asam lemak bebas dan bilirubuin—dan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.
Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal, berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria – keberadaan sejumlah kecil protein albumin dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung – dalam kelompok pasien HIV-positif dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34% orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua (p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4 cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan NNRTI (p < 0,05).
“Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal”, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, “prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.”
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 – 1009, 2007.
Edit terakhir: 1 Juni 2007
Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility, including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron (transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns, protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture, genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A) deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL
http://www.topklik.com/ALKUTEN
Welcome to Alkuten Sehati - Sari Kutuk/Gabus "ALKUTEN" 100% AlbuminAlbumin merupakan jenis Protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai
kadar 60%. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Didalam ilmu
kedokteran, Albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringansel tubuh yang terbelah/rusak. Albumin juga berperan mengikat Obat-obatan Serta Logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.
GEL SARI IKAN KUTUK/GABUS adalah ekstrak/Sari Ikan dalm bentuk jell tanpa rasa amis dari Kutuk pilihan dan asli, mengandung Channa Albumin serta Asam Amino Esensial lengkap yang pentingbuat tubuh. Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus ini dibuat melalui penelitian para ahli dengan Cara pembuatan yang hygienis tanpa bahan kimia dan pengawet.
Sejak dahulu Ikan KUTUK/GABUS dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi Pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan hal ini dikarenakan Ikan KUTUK/GABUS mengandung protein yang tinggi (Albumin), sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka.Hampir semua pasien berkadar Albumin rendah yang diberi Sari Ikan KUTUK/GABUS ini, kadar Albuminnya naik lebih cepat dari pada pemberian Albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrom, Tonsilitis,Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, Gizi Buruk, Sepsis, Stroke, ITP (Idiopatik Trombosit Tupenia Purpura), HIV, Thalasemia Minor , Autis, Kondisi ini bisa lebih baik dengan pemberian Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus
KHASIAT & KEGUNAAN :
1. Meningkatkan kadar Albumin dan Daya Tahan Tubuh.
2. Mempercepat proses penyembuhan Pasca Operasi.
3. Mempercepat penyembuhan Luka Dalam / Luka Luar.
4. Membantu proses penyembuhan pada penyakit :
Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome,Tonsilitis,
Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, ITP, HIV, Sepsis,
Stroke, Thalasemia Minor.
5. Menghilangkan Oedem (Pembengkakan).
6. Memperbaiki Gizi Buruk pada Bayi, Anak dan Ibu Hamil.
7. Membantu penyembuhan Autis.
P.IRT. No : 202350701500
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnya—terdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolisme—asam lemak bebas dan bilirubuin—dan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.
Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal, berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria – keberadaan sejumlah kecil protein albumin dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung – dalam kelompok pasien HIV-positif dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34% orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua (p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4 cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan NNRTI (p < 0,05).
“Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal”, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, “prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.”
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 – 1009, 2007.
Edit terakhir: 1 Juni 2007
Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility, including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron (transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns, protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture, genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A) deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL
http://dewabenny.blogspot.com/
Hipoalbuminemia
Hipoalbumin
Sumber : http://dewabenny.com/2008/06/22/hipoalbumin/
Pendahuluan
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki beberapa fungsi penting :
1. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar 75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema
2. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.
3. Perubahan pada albumin akan menyebabkan gangguan fungsi platelet
Kadar normal albumin dalam darah antara 3,5-4,5 g/dl, dengan jumlah total 300-500 g. sintesis terjadi hanya di sel hati dengan produksi sekitar 15 g/ hari pada orang sehat, tetapi jumlah yang dihasilkan bervariasi signifikan pada berbagai tipe stress fisiologis. Waktu paruh albumin sekitar 20 hari, dengan kecepatan degradasi 4 % per hari
Hipoalbuminemia merupakan masalah yang sering dihadapai pada orang dengan kondisi medis akut atau kronik. Pada saat masuk rumah sakit sekitar 20 % pasien sudah menderita. Kadara albumin darah yang rendah menjadi predictor penting berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas. Pada penelitian meta-analisis didapatkan setiap penurunan albumin darah sebesar 10 g/L, anka mortalitas meningkat 137 % dan morbiditas 89%
Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut maupun kronis.
1. Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati
2. Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien deng sirosis hepatis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
3. Kehilangan protein ekstravaskular
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka bakar yang luas.
4. Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan ascites
5. Inflamasi akut dan kronis
Kada albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme berikut:
1. Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk berdifusi ke ruang ekstravaskular)
2. Peningkatan degradasi albumin
3. Penurunan sintesis albumin (TNF-α yang berperan dalam penuruanan trankripsi gen albumin)
Diposting oleh dewabenny di 9:30 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Kedokteran
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/Jabar/10782.htm
Forum
Hipertensi Menakutkan, Tetapi Bisa Dikendalikan
Oleh Henhen Heryaman
Berdasarkan data statistik kesehatan di Amerika, sedikitnya terdapat 50 juta penderita hipertensi, sedangkan di seluruh dunia berkisar satu miliar penderita. Di Indonesia belum terdapat data pasti berapa jumlah penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi bersifat long term treatment sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang diagnosisnya ditegakkan dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi secara etiologi atau penyebab dibagi menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial (lebih kurang 85 persen) dan hipertensi sekunder (sekitar 15 persen). Penyebab hipertensi esensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Adapun penyebab hipertensi sekunder dapat diketahui, salah satunya akibat penyakit ginjal.
Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital tubuh yang menggambarkan dua variabel organ penting, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung berfungsi sebagai pompa yang menyuplai makanan dan mengantarkan oksigen yang berada di dalam sel darah merah yang berikatan dengan hemoglobin. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengantarkan cairan darah yang terdiri dari sel darah, sumber nutrisi bagi sel dan air.
Darah terdiri dari sel darah, protein, glukosa (gula darah), air, dan mineral. Semakin banyak volume darah yang dipompakan jantung, secara matematis dapat dilihat bahwa tekanan darah berbanding lurus dengan volume darah. Makin banyak volume darah yang berada di jantung, semakin tinggi tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan isinya.
Volume darah dipengaruhi kadar air dan elektrolit yang ada di dalam cairan darah. Makin banyak air yang ada di dalam cairan darah, semakin banyak volume darahnya. Kadar air ini dipengaruhi adanya elektrolit dan gula darah.
Untuk memudahkan pemahaman, analoginya adalah manisan belimbing. Apabila belimbing direndam dalam cairan gula, air yang dikandung belimbing akan keluar sehingga belimbing terlihat mengerut karena airnya sudah berpindah. Kadar gula yang meningkat di dalam pembuluh darah akan menarik air yang berada di luar pembuluh darah untuk berpindah ke dalam pembuluh darah.
Selain gula darah, yang paling berperan adalah protein darah, terutama albumin. Albumin berperan mempertahankan air yang berada di dalam pembuluh darah agar tidak berpindah ke luar pembuluh. Secara fisika hal ini dikenal dengan tekanan onkotik. Kadar albumin dipengaruhi oleh intake makanan sumber protein dan ginjal yang berfungsi untuk mencegah protein terbuang ke urine, yang disebut fungsi filtrasi.
Pada penderita yang kekurangan gizi protein, kadar albumin juga mengalami penurunan. Perutnya akan terlihat buncit, tetapi badannya kurus. Hal ini dikarenakan air yang ada di pembuluh darah berpindah ke rongga perut. Kelainan pada ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal, yaitu untuk mempertahankan albumin supaya tidak terbuang ke dalam urine. Sebab, kandungan albumin di dalam urine dapat dijadikan indikator adanya gangguan fungsi ginjal. Penyakit ginjal yang mengakibatkan kadar albumin turun disebut nefrotic syndrome. Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan istilah bocor ginjal.
Faktor psikis
Pembuluh darah yang kurang elastis mengakibatkan resistensi (tahanan) perifer yang meningkat berbanding lurus dengan tekanan darah. Pembuluh darah dipengaruhi berbagai faktor, antara lain rokok dan emosi.
Bagaimana rokok bisa memengaruhi pembuluh darah? Banyak penelitian tentang rokok, kandungan zat beracun, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Peringatan akan bahaya rokok sering ditampilkan bersama iklan rokok. Salah satunya, rokok dapat mengakibatkan penyakit jantung dan hipertensi. Rokok, selain mengandung zat racun (toksin) yang berjumlah jutaan, juga menjadi oksidan (radikal bebas) yang merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan keelastisan pembuluh darah berkurang. Akibatnya, tekanan darah meningkat.
Hipertensi dipengaruhi juga oleh faktor psikis (emosi). Pada saat cemas atau dalam keadaan marah, tubuh melepaskan hormon katekolamin yang berpengaruh terhadap peningkatan resistensi perifer dari pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Ada kalanya hipertensi tidak menimbulkan gejala, tergantung dari tinggi rendahnya tekanan sistole dan diastole. Penderita lebih sering mengeluhkan adanya nyeri kepala berat atau dalam dunia kedokteran disebut tension type headache. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sulit dikontrol, terutama oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Atau, biasanya penderita hipertensi sudah mempunyai sensor tertentu. Maka, apabila tidak merasakan adanya keluhan, penderita tidak akan memeriksakan tekanan darahnya. Keinginan untuk memeriksakan diri timbul saat mulai dirasakan adanya keluhan.
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Komplikasi yang paling sering adalah stroke, penyakit jantung koroner, dan akhirnya menjadi gagal jantung dan gagal ginjal. Penyakit stroke dan jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penatalaksanaan hipertensi
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi nonmedika mentosa (nonfarmakologi) dan medika mentosa (obat-obatan). Pengobatan nonmedika mentosa adalah pengobatan tanpa obat-obatan antihipertensi. Pengobatannya berdasarkan masukan garam dapur dengan diet rendah garam, olahraga, penurunan berat badan, dan perbaikan gaya hidup seperti menghindari beralkohol.
Pengobatan hipertensi bersifat long term therapy. Hal ini karena penyebab pasti belum diketahui sehingga pasien harus rajin minum obat antihipertensi. Apabila tidak teratur, bisa mengakibatkan percepatan komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner.
Namun, bukan berarti penyakit yang satu ini tidak dapat dikendalikan atau diobati. Ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada penderita hipertensi atau yang berisiko menderita hipertensi, seperti mempunyai riwayat keluarga penderita hipertensi.
Pertama, sebaiknya dilakukan kontrol teratur minimal satu bulan sekali atau mengukur sendiri tekanan darahnya bagi penderita hipertensi golongan ringan (prehi-pertensi). Bila terjadi peningkatan tekanan darah, segera konsultasikan kepada dokter agar dapat dilakukan penanganan lebih dini.
Kedua, mengendalikan atau mengubah gaya hidup, seperti menghindari kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, membiasakan diri melakukan olahraga teratur, dan melakukan diet rendah garam.
Ketiga, bila setelah dilakukan pengaturan gaya hidup tekanan darah tidak berubah, sebaiknya penderita mengonsumsi obat-obatan antihipertensi. Dengan saran-saran yang telah diberikan, semoga tekanan darah penderita hipertensi tetap dalam keadaan terkontrol dan akhirnya berbagai komplikasi dapat dihindari.
Henhen Heryaman Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
http://www.topklik.com/ALKUTEN
Welcome to Alkuten Sehati - Sari Kutuk/Gabus "ALKUTEN" 100% AlbuminAlbumin merupakan jenis Protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai
kadar 60%. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Didalam ilmu
kedokteran, Albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringansel tubuh yang terbelah/rusak. Albumin juga berperan mengikat Obat-obatan Serta Logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.
GEL SARI IKAN KUTUK/GABUS adalah ekstrak/Sari Ikan dalm bentuk jell tanpa rasa amis dari Kutuk pilihan dan asli, mengandung Channa Albumin serta Asam Amino Esensial lengkap yang pentingbuat tubuh. Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus ini dibuat melalui penelitian para ahli dengan Cara pembuatan yang hygienis tanpa bahan kimia dan pengawet.
Sejak dahulu Ikan KUTUK/GABUS dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi Pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan hal ini dikarenakan Ikan KUTUK/GABUS mengandung protein yang tinggi (Albumin), sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka.Hampir semua pasien berkadar Albumin rendah yang diberi Sari Ikan KUTUK/GABUS ini, kadar Albuminnya naik lebih cepat dari pada pemberian Albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrom, Tonsilitis,Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, Gizi Buruk, Sepsis, Stroke, ITP (Idiopatik Trombosit Tupenia Purpura), HIV, Thalasemia Minor , Autis, Kondisi ini bisa lebih baik dengan pemberian Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus
KHASIAT & KEGUNAAN :
1. Meningkatkan kadar Albumin dan Daya Tahan Tubuh.
2. Mempercepat proses penyembuhan Pasca Operasi.
3. Mempercepat penyembuhan Luka Dalam / Luka Luar.
4. Membantu proses penyembuhan pada penyakit :
Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome,Tonsilitis,
Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, ITP, HIV, Sepsis,
Stroke, Thalasemia Minor.
5. Menghilangkan Oedem (Pembengkakan).
6. Memperbaiki Gizi Buruk pada Bayi, Anak dan Ibu Hamil.
7. Membantu penyembuhan Autis.
http://www.lmi-amilzakat.com/?mod=news&id=135
Ikan Gabus atau Kutuk-Dulu di Caci, Kini di Cari
Dikirim pada hari Kamis, 11 Sep 2008
Halal September
Ikan Gabus atau Kutuk
Dulu di Caci, Kini di Cari
Ikan Gabus atau biasa disebut Ikan Kutuk (lokal) ini sekilas memang mirip dengan ular. Kepalanya hitam lengkap dengan gigi yang bergerigi dan runcing. Bentuk tubuhnya bulat memanjang, dimana di bagian posterior (pangkal ekor, bawah perut) pipih. Bahkan sebagian masyarakat masih memiliki kesan bahwa makan ikan kutuk sama halnya memakan ular. Padahal, ikan kutuk adalah ikan air tawar yang bersifat karnivora. Makanannya adalah cacing, katak, anak-anak ikan, udang, insekta, dan ketam.
Ikan yang memiliki nama latin Ophiocephalus Striatus ini, mudah ditemukan di perairan umum seperti danau, rawa, dan sungai. Ikan gabus ini juga bisa hidup di perairan payau. Ikan gabus mudah ditemukan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, dan Ambon. Hanya, nama ikan gabus di masing-masing daerah berbeda.
Semenjak diangkat dalam satu penelitian khusus oleh Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, guru besar ilmu biokimia ikan Fakultas Perikanan Unibraw (Universitas Brawijaya) pada 2003. Fenomena ikan gabus yang konon katanya berkhasiat ini kini makin dicari masyarakat. Bahkan harganya pun semakin mahal pula.
Dalam penelitian berjudul Albumin Ikan Gabus (Ophiochepalus striatus) sebagai Makanan Fungsional Mengatasi Permasalahan Gizi Masa Depan, Eddy mengupas habis tentang potensi ikan gabus. "Dilihat dari kandungan asam aminonya, ikan gabus memiliki struktur yang lebih lengkap dibandingkan jenis ikan lain," katanya kepada Radar Malang (Grup Jawa Pos) (19/9).
Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu, ikan gabus segar, kebanyakan di jual dalam keadaan hidup merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berrawa atau sungai.
Daging ikan gabus sebenarnya tidak hanya menjadi sumber protein, tapi juga sumber mineral lainnya. Di antaranya, zinc (seng) dan trace element lain yang diperlukan tubuh. Hasil studi Eddy pernah di ujicobakan di instalasi gizi serta bagian bedah RSU dr. Saiful Anwar Malang. Uji coba tersebut dilakukan pada pasien pasca operasi dengan kadar albumin rendah (1,8 g/dl). "Dengan perlakuan 2 kg ikan kutuk masak per hari, telah meningkatkan kadar albumin darah pasien menjadi normal (3,5-5,5 g/dl)," ujarnya.
Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama penderita hipoalbumin (rendah albumin) yang sedang dalam proses penyembuhan luka-luka. Baik luka pascaoperasi maupun luka bakar. Bahkan, di daerah pedesaan, anak laki-laki pasca dikhitan selalu dianjurkan mengonsumsi ikan jenis itu agar penyembuhan lebih cepat.
Caranya, daging ikan kutuk dikukus atau di-steam, sehingga memperoleh filtrate, yang dijadikan menu ekstra bagi penderita hipoalbumin dan luka. Pemberian menu ekstrak filtrat ikan kutuk tersebut berkorelasi positif dengan peningkatan kadar albumin plasma dan penyembuhan luka pasca operasi. (fin/dari pelbagai sumber)
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/Jabar/10782.htm
Forum
Hipertensi Menakutkan, Tetapi Bisa Dikendalikan
Oleh Henhen Heryaman
Berdasarkan data statistik kesehatan di Amerika, sedikitnya terdapat 50 juta penderita hipertensi, sedangkan di seluruh dunia berkisar satu miliar penderita. Di Indonesia belum terdapat data pasti berapa jumlah penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi bersifat long term treatment sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang diagnosisnya ditegakkan dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi secara etiologi atau penyebab dibagi menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial (lebih kurang 85 persen) dan hipertensi sekunder (sekitar 15 persen). Penyebab hipertensi esensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Adapun penyebab hipertensi sekunder dapat diketahui, salah satunya akibat penyakit ginjal.
Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital tubuh yang menggambarkan dua variabel organ penting, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung berfungsi sebagai pompa yang menyuplai makanan dan mengantarkan oksigen yang berada di dalam sel darah merah yang berikatan dengan hemoglobin. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengantarkan cairan darah yang terdiri dari sel darah, sumber nutrisi bagi sel dan air.
Darah terdiri dari sel darah, protein, glukosa (gula darah), air, dan mineral. Semakin banyak volume darah yang dipompakan jantung, secara matematis dapat dilihat bahwa tekanan darah berbanding lurus dengan volume darah. Makin banyak volume darah yang berada di jantung, semakin tinggi tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan isinya.
Volume darah dipengaruhi kadar air dan elektrolit yang ada di dalam cairan darah. Makin banyak air yang ada di dalam cairan darah, semakin banyak volume darahnya. Kadar air ini dipengaruhi adanya elektrolit dan gula darah.
Untuk memudahkan pemahaman, analoginya adalah manisan belimbing. Apabila belimbing direndam dalam cairan gula, air yang dikandung belimbing akan keluar sehingga belimbing terlihat mengerut karena airnya sudah berpindah. Kadar gula yang meningkat di dalam pembuluh darah akan menarik air yang berada di luar pembuluh darah untuk berpindah ke dalam pembuluh darah.
Selain gula darah, yang paling berperan adalah protein darah, terutama albumin. Albumin berperan mempertahankan air yang berada di dalam pembuluh darah agar tidak berpindah ke luar pembuluh. Secara fisika hal ini dikenal dengan tekanan onkotik. Kadar albumin dipengaruhi oleh intake makanan sumber protein dan ginjal yang berfungsi untuk mencegah protein terbuang ke urine, yang disebut fungsi filtrasi.
Pada penderita yang kekurangan gizi protein, kadar albumin juga mengalami penurunan. Perutnya akan terlihat buncit, tetapi badannya kurus. Hal ini dikarenakan air yang ada di pembuluh darah berpindah ke rongga perut. Kelainan pada ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal, yaitu untuk mempertahankan albumin supaya tidak terbuang ke dalam urine. Sebab, kandungan albumin di dalam urine dapat dijadikan indikator adanya gangguan fungsi ginjal. Penyakit ginjal yang mengakibatkan kadar albumin turun disebut nefrotic syndrome. Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan istilah bocor ginjal.
Faktor psikis
Pembuluh darah yang kurang elastis mengakibatkan resistensi (tahanan) perifer yang meningkat berbanding lurus dengan tekanan darah. Pembuluh darah dipengaruhi berbagai faktor, antara lain rokok dan emosi.
Bagaimana rokok bisa memengaruhi pembuluh darah? Banyak penelitian tentang rokok, kandungan zat beracun, dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Peringatan akan bahaya rokok sering ditampilkan bersama iklan rokok. Salah satunya, rokok dapat mengakibatkan penyakit jantung dan hipertensi. Rokok, selain mengandung zat racun (toksin) yang berjumlah jutaan, juga menjadi oksidan (radikal bebas) yang merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan keelastisan pembuluh darah berkurang. Akibatnya, tekanan darah meningkat.
Hipertensi dipengaruhi juga oleh faktor psikis (emosi). Pada saat cemas atau dalam keadaan marah, tubuh melepaskan hormon katekolamin yang berpengaruh terhadap peningkatan resistensi perifer dari pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Ada kalanya hipertensi tidak menimbulkan gejala, tergantung dari tinggi rendahnya tekanan sistole dan diastole. Penderita lebih sering mengeluhkan adanya nyeri kepala berat atau dalam dunia kedokteran disebut tension type headache. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sulit dikontrol, terutama oleh masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Atau, biasanya penderita hipertensi sudah mempunyai sensor tertentu. Maka, apabila tidak merasakan adanya keluhan, penderita tidak akan memeriksakan tekanan darahnya. Keinginan untuk memeriksakan diri timbul saat mulai dirasakan adanya keluhan.
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Komplikasi yang paling sering adalah stroke, penyakit jantung koroner, dan akhirnya menjadi gagal jantung dan gagal ginjal. Penyakit stroke dan jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi.
Penatalaksanaan hipertensi
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi nonmedika mentosa (nonfarmakologi) dan medika mentosa (obat-obatan). Pengobatan nonmedika mentosa adalah pengobatan tanpa obat-obatan antihipertensi. Pengobatannya berdasarkan masukan garam dapur dengan diet rendah garam, olahraga, penurunan berat badan, dan perbaikan gaya hidup seperti menghindari beralkohol.
Pengobatan hipertensi bersifat long term therapy. Hal ini karena penyebab pasti belum diketahui sehingga pasien harus rajin minum obat antihipertensi. Apabila tidak teratur, bisa mengakibatkan percepatan komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner.
Namun, bukan berarti penyakit yang satu ini tidak dapat dikendalikan atau diobati. Ada beberapa saran yang dapat diberikan kepada penderita hipertensi atau yang berisiko menderita hipertensi, seperti mempunyai riwayat keluarga penderita hipertensi.
Pertama, sebaiknya dilakukan kontrol teratur minimal satu bulan sekali atau mengukur sendiri tekanan darahnya bagi penderita hipertensi golongan ringan (prehi-pertensi). Bila terjadi peningkatan tekanan darah, segera konsultasikan kepada dokter agar dapat dilakukan penanganan lebih dini.
Kedua, mengendalikan atau mengubah gaya hidup, seperti menghindari kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, membiasakan diri melakukan olahraga teratur, dan melakukan diet rendah garam.
Ketiga, bila setelah dilakukan pengaturan gaya hidup tekanan darah tidak berubah, sebaiknya penderita mengonsumsi obat-obatan antihipertensi. Dengan saran-saran yang telah diberikan, semoga tekanan darah penderita hipertensi tetap dalam keadaan terkontrol dan akhirnya berbagai komplikasi dapat dihindari.
Henhen Heryaman Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
Ikan gabusDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasLangsung ke: navigasi, cari
Ikan Gabus
Ikan gabus, Channa striata
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalial
Filum:
Chordata
Kelas:
Actinopterygii
Ordo:
Perciformes
Famili:
Channidae
Genus:
Channa
Spesies:
C. striata
Nama binomial
Channa striata
(Bloch, 1793)
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di pelbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793).
[sunting] Pemerian
Kepala ikan gabus
Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.
Sisi atas tubuh --dari kepala hingga ke ekor-- berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.
[sunting] Kebiasaan
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.
Seringkali ikan gabus terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada ikan lele atau betok) namun lebih primitif.
Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.
[sunting] Penyebaran
Ikan gabus menyebar luas mulai dari Pakistan di barat, Nepal bagian selatan, kebanyakan wilayah di India, Bangladesh, Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, dan sebagian besar wilayah di Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat.
[sunting] Keragaman Jenis
Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.
Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula.
Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.
[sunting] Manfaat dan Kerugian
Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu ikan gabus segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berawa atau sungai.
Ikan gabus juga merupakan ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus relatif mudah dipancing. Namun giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.
Akan tetapi ikan ini juga dapat sangat merugikan, yakni apabila masuk ke kolam-kolam pemeliharaan ikan (Meskipun beberapa kerabat gabus di Asia juga sengaja dikembangbiakkan sebagai ikan peliharaan). Gabus sangat rakus memangsa ikan kecil-kecil, sehingga bisa menghabiskan ikan-ikan yang dipelihara di kolam, utamanya bila ikan peliharaan itu masih berukuran kecil.
Sejak beberapa tahun yang lalu di Amerika utara, ikan ini dan beberapa kerabat dekatnya yang sama-sama termasuk snakehead fishes diwaspadai sebagai ikan berbahaya, yang dapat mengancam kelestarian biota perairan di sana. Jenis-jenis snakehead sebetulnya masuk ke Amerika sebagai ikan akuarium. Kemungkinan karena kecerobohan, maka kini snakehead juga ditemui di alam, di sungai-sungai dan kolam di Amerika. Dan karena sifatnya yang buas dan invasif, Pemerintah Amerika khawatir ikan-ikan itu akan cepat meluas dan merusak keseimbangan alam perairan.
[sunting] Gabus bagi kesehatan
Diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan membantu penyembuhan beberapa penyakit.
http://dewabenny.com/2008/06/22/hipoalbumin/
Hipoalbumin
June 22, 2008 By: dewabenny Category: Medicine
Pendahuluan
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki beberapa fungsi penting :
1. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar 75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya edema
2. Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.
3. Perubahan pada albumin akan menyebabkan gangguan fungsi platelet
Kadar normal albumin dalam darah antara 3,5-4,5 g/dl, dengan jumlah total 300-500 g. sintesis terjadi hanya di sel hati dengan produksi sekitar 15 g/ hari pada orang sehat, tetapi jumlah yang dihasilkan bervariasi signifikan pada berbagai tipe stress fisiologis. Waktu paruh albumin sekitar 20 hari, dengan kecepatan degradasi 4 % per hari
Hipoalbuminemia merupakan masalah yang sering dihadapai pada orang dengan kondisi medis akut atau kronik. Pada saat masuk rumah sakit sekitar 20 % pasien sudah menderita. Kadara albumin darah yang rendah menjadi predictor penting berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas. Pada penelitian meta-analisis didapatkan setiap penurunan albumin darah sebesar 10 g/L, anka mortalitas meningkat 137 % dan morbiditas 89%
Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut maupun kronis.
1. Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati
1. Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien deng sirosis hepatis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
1. Kehilangan protein ekstravaskular
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka bakar yang luas.
1. Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan ascites
1. Inflamasi akut dan kronis
Kada albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme berikut:
1. Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk berdifusi ke ruang ekstravaskular)
2. Peningkatan degradasi albumin
3. Penurunan sintesis albumin (TNF-? yang berperan dalam penuruanan trankripsi gen albumin)
http://pujiminkapsul.wordpress.com/2008/07/17/albumin/
ALBUMIN
July 17, 2008 at 8:51 am (albumin, ikan gabus, kapsul albumin)
Tags: albumin, ikan gabus
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya bervariasi tergantung spesiesnya—terdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolisme—asam lemak bebas dan bilirubuin—dan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping), ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.
Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal, berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria – keberadaan sejumlah kecil protein albumin dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung – dalam kelompok pasien HIV-positif dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34% orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua (p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4 cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan NNRTI (p < 0,05).
“Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal”, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, “prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.”
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 – 1009, 2007.
Edit terakhir: 1 Juni 2007
Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility, including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron (transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns, protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture, genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A) deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL
http://www.topklik.com/ALKUTEN
Welcome to Alkuten Sehati - Sari Kutuk/Gabus "ALKUTEN" 100% AlbuminAlbumin merupakan jenis Protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai
kadar 60%. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Didalam ilmu
kedokteran, Albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringansel tubuh yang terbelah/rusak. Albumin juga berperan mengikat Obat-obatan Serta Logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.
GEL SARI IKAN KUTUK/GABUS adalah ekstrak/Sari Ikan dalm bentuk jell tanpa rasa amis dari Kutuk pilihan dan asli, mengandung Channa Albumin serta Asam Amino Esensial lengkap yang pentingbuat tubuh. Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus ini dibuat melalui penelitian para ahli dengan Cara pembuatan yang hygienis tanpa bahan kimia dan pengawet.
Sejak dahulu Ikan KUTUK/GABUS dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi Pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan hal ini dikarenakan Ikan KUTUK/GABUS mengandung protein yang tinggi (Albumin), sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka.Hampir semua pasien berkadar Albumin rendah yang diberi Sari Ikan KUTUK/GABUS ini, kadar Albuminnya naik lebih cepat dari pada pemberian Albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrom, Tonsilitis,Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, Gizi Buruk, Sepsis, Stroke, ITP (Idiopatik Trombosit Tupenia Purpura), HIV, Thalasemia Minor , Autis, Kondisi ini bisa lebih baik dengan pemberian Gel Sari Ikan Kutuk/Gabus
KHASIAT & KEGUNAAN :
1. Meningkatkan kadar Albumin dan Daya Tahan Tubuh.
2. Mempercepat proses penyembuhan Pasca Operasi.
3. Mempercepat penyembuhan Luka Dalam / Luka Luar.
4. Membantu proses penyembuhan pada penyakit :
Hepatitis, TBC/Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome,Tonsilitis,
Thypus, Diabetes, Patah Tulang, Gastritis, ITP, HIV, Sepsis,
Stroke, Thalasemia Minor.
5. Menghilangkan Oedem (Pembengkakan).
6. Memperbaiki Gizi Buruk pada Bayi, Anak dan Ibu Hamil.
7. Membantu penyembuhan Autis.
P.IRT. No : 202350701500
Langganan:
Komentar (Atom)