Head injury (Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak atau otak.
Batasan trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan kesadaran.
Kematian akibat trauma kepala terjadi pada tiga waktu setelah injury yaitu :
1.Segera setelah injury.
2.Dalam waktu 2 jam setelah injury
3.rata-rata 3 minggu setelah injury.
Pada umumnya kematian terjadi setelah segera setelah injury dimana terjadi trauma langsung pada kepala, atau perdarahan yang hebat dan syok. Kematian yang terjadi dalam beberapa jam setelah trauma disebabkan oleh kondisi klien yang memburuk secara progresif akibat perdarahan internal. Pencatatan segera tentang status neurologis dan intervensi surgical merupakan tindakan kritis guna pencegahan kematian pada phase ini. Kematian yang terjadi 3 minggu atau lebih setelah injury disebabkan oleh berbagai kegagalan sistem tubuh
Faktor 2 yang diperkirakan memberikan prognosa yang jelek adalah adanya intracranial hematoma, peningkatan usia klien, abnormal respon motorik, menghilangnya gerakan bola mata dan refleks pupil terhadap cahaya, hipotensi yang terjadi secara awal, hipoksemia dan hiperkapnea, peningkatan ICP.
Diperkirakan terdapat 3 juta orang di AS mengalami trauma kepala pada setiap tahun. Angka kematian di AS akibat trauma kepala sebanyak 19.3/100.000 orang. Pada umumnya trauma kepala disebabkan oleh kecelakaan laluintas atau terjatuh.
Jenis Trauma Kepala :
1. Robekan kulit kepala.
Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi, sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi.
2. Fraktur tulang tengkorak.
Fraktur tulang tengkoran tengkorak sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak :
a.Garis patahan atau tekanan.
b.Sederhana, remuk atau compound.
c.Terbuka atau tertutup.
Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, moentum, trauma langsung atau tidak.
Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, moentum, trauma langsung atau tidak.
Pada fraktur linear dimana fraktur terjadi pada dasar tengkorak biasanya berhubungan dengan CSF. Rhinorrhea (keluarnya CSF dari hidung) atau otorrhea (CSF keluar dari mata).
Ada dua metoda yang digunakan untuk menentukan keluarnya CSF dari mata atau hidung, yaitu melakukan test glukosa pada cairan yang keluar yang biasanya positif. Tetapi bila cairan bercampur dengan darah ada kecenderungan akan positif karena darah juga mengadung gula. Metoda kedua dilakukan yaitu cairan ditampung dan diperhatikan gumpalan yang ada. Bila ada CSF maka akan terlihat darah berada dibagian tengah dari cairan dan dibagian luarnya nampak berwarna kuning mengelilingi darah (Holo/Ring Sign).
Komplikasi yang cenderung terjadi pada fraktur tengkorak adalah infeksi intracranial dan hematoma sebagai akibat adanya kerusakan menigen dan jaringan otak. Apabila terjadi fraktur frontal atau orbital dimana cairan CSF disekitar periorbital (periorbital ecchymosis. Fraktur dasar tengkorak dapat meyebabkan ecchymosis pada tonjolan mastoid pada tulang temporal (Battle’s Sign), perdarahan konjunctiva atau edema periorbital.
Commotio serebral :
Concussion/commotio serebral adalah keadaan dimana berhentinya sementara fungsi otak, dengan atau tanpa kehilangan kesadaran, sehubungan dengan aliran darah keotak. Kondisi ini biasanya tidak terjadi kerusakan dari struktur otak dan merupakan keadaan ringan oleh karena itu disebut Minor Head Trauma. Keadaan phatofisiologi secara nyata tidak diketahui. Diyakini bahwa kehilangan kesadaran sebagai akibat saat adanya stres/tekanan/rangsang pada reticular activating system pada midbrain menyebabkan disfungsi elektrofisiologi sementara. Gangguan kesadaran terjadi hanya beberapa detik atau beberapa jam.
Pada concussion yang berat akan terjadi kejang-kejang dan henti nafas, pucat, bradikardia, dan hipotensi yang mengikuti keadaan penurunan tingkat kesadaran. Amnesia segera akan terjadi. Manifestasi lain yaitu nyeri kepala, mengantuk,bingung, pusing, dan gangguan penglihatan seperti diplopia atau kekaburan penglihatan.
Contusio serebral
Contusio didefinisikan sebagai kerusakan dari jaringan otak. Terjadi perdarahan vena, kedua whitw matter dan gray matter mengalami kerusakan. Terjadi penurunan pH, dengan berkumpulnya asam laktat dan menurunnya konsumsi oksigen yang dapat menggangu fungsi sel.
Kontusio sering terjadi pada tulang tengkorak yang menonjol. Edema serebral dapat terjadi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan ICP. Edema serebral puncaknya dapat terjadi pada 12 – 24 jam setelah injury.
Manifestasi contusio bergantung pada lokasi luasnya kerusakan otak. Akan terjadi penurunan kesadaran. Apabila kondisi berangsur kembali, maka tingat kesadaranpun akan berangsur kembali tetapi akan memberikan gejala sisa, tetapi banyak juga yang mengalami kesadaran kembali seperti biasanya. Dapat pula terjadi hemiparese. Peningkatan ICP terjadi bila terjadi edema serebral.
Diffuse axonal injury.
Adalah injury pada otak dimana akselerasi-deselerasi injury dengan kecepatan tinggi, biasanya berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor sehingga terjadi terputusnya axon dalam white matter secara meluas. Kehilangan kesadaran berlangsung segera. Prognosis jelek, dan banyak klien meninggal dunia, dan bila hidup dengan keadaan persistent vegetative.
Injury Batang Otak
Walaupun perdarahan tidak dapat dideteksi, pembuluh darah pada sekitar midbrain akan mengalami perdarahan yang hebat pada midbrain. Klien dengan injury batang otak akan mengalami coma yang dalam, tidak ada reaksi pupil, gangguan respon okulomotorik, dan abnormal pola nafas.
Komplikasi :
Epidural hematoma.
Sebagai akibat perdarahan pada lapisan otak yang terdapat pada permukaan bagian dalam dari tengkorak. Hematoma epidural sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergensi dan biasanya berhubungan dengan linear fracture yang memutuskan arteri yang lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematoma berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Arterial hematoma terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. Perdarahan masuk kedalam ruang epidural. Bila terjadi perdarahan arteri maka hematoma akan cepat terjadi. Gejalanya adalah penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual dan muntah. Klien diatas usia 65 tahun dengan peningkatan ICP berisiko lebih tinggi meninggal dibanding usia lebih mudah.
Subdural Hematoma.
Terjadi perdarahan antara dura mater dan lapisan arachnoid pada lapisan meningen yang membungkus otak. Subdural hematoma biasanya sebagai akibat adanya injury pada otak dan pada pembuluh darah. Vena yang mengalir pada permukaan otak masuk kedalam sinus sagital merupakan sumber terjadinya subdural hematoma. Oleh karena subdural hematoma berhubungan dengan kerusakan vena, sehingga hematoma terjadi secara perlahan-lahan. Tetapi bila disebabkan oleh kerusakan arteri maka kejadiannya secara cepat. Subdural hematoma dapat terjadi secara akut, subakut, atau kronik.
Setelah terjadi perdarahan vena, subdural hematoma nampak membesar. Hematoma menunjukkan tanda2 dalam waktu 48 jam setelah injury. Tanda lain yaitu bila terjadi konpressi jaringan otak maka akan terjadi peningkatan ICP menyebabkan penurunan tingkat kesadaran dan nyeri kepala. Pupil dilatasi. Subakut biasanya terjadi dalam waktu 2 – 14 hari setelah injury.
Kronik subdural hematoma terjadi beberapa minggu atau bulan setelah injury. Somnolence, confusio, lethargy, kehilangan memory merupakan masalah kesehatan yang berhubungan dengan subdural hematoma.
Intracerebral Hematoma.
Terjadinya pendarahan dalamn parenkim yang terjadi rata-rata 16 % dari head injury. Biasanya terjadi pada lobus frontal dan temporal yang mengakibatkan ruptur pembuluh darah intraserebral pada saat terjadi injury. Akibat robekan intaserebral hematoma atau intrasebellar hematoma akan terjadi subarachnoid hemorrhage.
Collaborative Care.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memonitor hemodinamik dan mendeteksi edema serebral. Pemeriksaan gas darah guna mengetahui kondisi oksigen dan CO2.
Okdigen yang adekuat sangat diperlukan untuk mempertahankan metabolisma serebral. CO2 sangat beepengaruh untuk mengakibatkan vasodilator yang dapat mengakibatkan edema serebral dan peningkatan ICP. Jumlah sel darah, glukosa serum dan elektrolit diperlukan untuk memonitor kemungkinan adanya infeksi atau kondisi yang berhubungan dengan lairan darah serebral dan metabolisma.
CT Scan diperlukan untuk mendeteksi adanya contusio atau adanya diffuse axonal injury. Pemeriksaan lain adalah MRI, EEG, dan lumbal functie untuk mengkaji kemungkinan adanya perdarahan.
Sehubungan dengan contusio, klien perlu diobservasi 1 – 2 jam di bagian emergensi. Kehilangan tingkat kesadaran terjadi lebih dari 2 menit, harus tinggal rawat di rumah sakit untuk dilakukan observasi.
Klien yangmengalami DAI atau cuntusio sebaiknya tinggal rawat di rumah sakit dan dilakukan observasi ketat. Monitor tekanan ICP, monitor terapi guna menurunkan edema otak dan mempertahankan perfusi otak.
Pemberian kortikosteroid seperti hydrocortisone atau dexamethasone dapat diberikan untuk menurunkan inflamasi. Pemberian osmotik diuresis seperti mannitol digunakan untuk menurunkan edema serebral.
Klien dengan trauma kepala yang berat diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal dan mencegah kecacatan yang nmenetap. Dapat juga diberikan infus, enteral atau parenteral feeding, pengaturan posisi dan ROM exercise untuk mensegah konraktur dan mempertahankan mobilitas.
dihalaman 2, ada tertulis bahwa titik puncak edema-cerebri terjadi
setelah 12-24 jam dari injury.
Sedangkan dihalaman pertama tertulis bahwa kematian dalam trauma-
kepala terjadi dalam salah satu dari "3 waktu" (seketika atau setelah 2 jam atau setelah 3 minggu) setelah injury.
Minta penjelasannya bahwa kematian akibat trauma kepalam dalam periode 12-24 jam tsb diatas masuk dalam kelompok mana dlm pengelompokan "3 waktu" tsb ?
Begitupun (pertanyaan kedua) bila ada kematian (akibat trauma kepala)yg terjadi antara 6-12 jam setelah injury masuk dalam
Jumat, 25 Desember 2009
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SINDROM UREMIK
A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Sindrom uremik adalah kumpulan tanda dan gejala yang terlihat seperti insufiensi ginjal progresif dan GFR menurun hingga dibawah 10 ml/menit (10% dari normal) dan puncaknya pada ESRD. Pada titik ini, nefron yang masih utuh tidak lagi mampu untuk mengkompensasi dan mempertahankan fungsi ginjal normal. ( sylvia A. Price, patofisiologi edisi 6 )
2. Manisfetasi klinis sindrom uremia dapat dibagi dalam beberapa bentuk yaitu:
a. Pengaturan fungsi regulasi dan ekskresi yang kacau, seperti ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, ketidakseimbangan asam basa, retensi nitrogen dan metabolisme lain, serta gangguan hormonal.
b. Abnormalitas sistem tubuh multipel ( sebenarnya pada semua sistem), dasarnya tidak begitu dimengerti.
3. manifestasi klinis sindrom uremik secara khusus:
a. biokimia:
asidosis metabolic ( HCO3- serum 18 -20mEq/L)
azotemia ( penurunan GFR, menyebabkan peningkatan BUN,kreatinin)
hiperkalemia
retensi atau pembuangan natrium
hipermagnesemia
hiperurisemia
b. genitourinaria :
poliuria, berlanjut menjadi oliguria, lalu anuria
nokturia, pembalikan irama diurnal
berat jenis kemih tetap sebesar 1,010
proteinnuria
hilangnya libido, aminore, impotensi dan sterilitas
c. kardiovaskuler
hipertensi
retinopati dan ensofalopati hipertensif
beban sirkulasi berlebihan
edema
gagal jantung kongestif
perikarditis (friction rub)
disritmia
d. pernafasan
pernapasan kusmaul, dispnea
edema paru
pneumonitis
e. hematologik
anemia menyebabkan kelelahan
hemolisis
kecenderungan perdarahan
menurunnya resistensi terhadap infeksi (infeksi saluran kemih, pneumonia, septikemia)
f. kulit
pucat, pigmantasi
perubahan rambut dan kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis-garis merah-biru yang berkaitan dengan kehilangan protein)
pruritis
”kristal” uremik
Kulit kering
memar
g. saluran cerna
anoreksi, mual, muntah, menyebabkan penurunan berat badan
napas berbau amoniak
rasa kecap logam, mulut kering
stomatitis, parotitis
gastritis, enteritis
perdarahan saluran cerna
diare
h. metabolisme intermedier
protein – intoleransi, sintesis abnormal
karbohidrat – hiperglikemia, kebutuhan insulin menurun
lemak – peningkatan kadar trigliserida
mudah lelah
i. neuromuskuler
otot mengecil dan lemah
sistem saraf pusat
- penurunan ketajaman mental
- konsentrasi buruk
- apati
- letargi atau gelisah, insomnia
- kekacauan mental
- koma
- otot berkedut, asteriksis, kejang
neuropati perifer
- konduksi saraf lambat, sindrom ”restless leg”
- perubahan sensorik pada ekstremitas – parestesi
- perubahan motorik – foot drop yang berlanjut menjadi pareplegia
j. gangguan kalsium dan rangka
hiperfosfatemia, hipokalsemia
hiperparatiroidisme sekunder
osteodistrofi ginjal
fraktur patologik (demineralisasi tulang)
deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung, paru)
konjungtivitis (mata merah uremik)
4. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
5. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo(lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Intervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan stiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan kelg untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisifasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
1. Pengertian
Sindrom uremik adalah kumpulan tanda dan gejala yang terlihat seperti insufiensi ginjal progresif dan GFR menurun hingga dibawah 10 ml/menit (10% dari normal) dan puncaknya pada ESRD. Pada titik ini, nefron yang masih utuh tidak lagi mampu untuk mengkompensasi dan mempertahankan fungsi ginjal normal. ( sylvia A. Price, patofisiologi edisi 6 )
2. Manisfetasi klinis sindrom uremia dapat dibagi dalam beberapa bentuk yaitu:
a. Pengaturan fungsi regulasi dan ekskresi yang kacau, seperti ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, ketidakseimbangan asam basa, retensi nitrogen dan metabolisme lain, serta gangguan hormonal.
b. Abnormalitas sistem tubuh multipel ( sebenarnya pada semua sistem), dasarnya tidak begitu dimengerti.
3. manifestasi klinis sindrom uremik secara khusus:
a. biokimia:
asidosis metabolic ( HCO3- serum 18 -20mEq/L)
azotemia ( penurunan GFR, menyebabkan peningkatan BUN,kreatinin)
hiperkalemia
retensi atau pembuangan natrium
hipermagnesemia
hiperurisemia
b. genitourinaria :
poliuria, berlanjut menjadi oliguria, lalu anuria
nokturia, pembalikan irama diurnal
berat jenis kemih tetap sebesar 1,010
proteinnuria
hilangnya libido, aminore, impotensi dan sterilitas
c. kardiovaskuler
hipertensi
retinopati dan ensofalopati hipertensif
beban sirkulasi berlebihan
edema
gagal jantung kongestif
perikarditis (friction rub)
disritmia
d. pernafasan
pernapasan kusmaul, dispnea
edema paru
pneumonitis
e. hematologik
anemia menyebabkan kelelahan
hemolisis
kecenderungan perdarahan
menurunnya resistensi terhadap infeksi (infeksi saluran kemih, pneumonia, septikemia)
f. kulit
pucat, pigmantasi
perubahan rambut dan kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis-garis merah-biru yang berkaitan dengan kehilangan protein)
pruritis
”kristal” uremik
Kulit kering
memar
g. saluran cerna
anoreksi, mual, muntah, menyebabkan penurunan berat badan
napas berbau amoniak
rasa kecap logam, mulut kering
stomatitis, parotitis
gastritis, enteritis
perdarahan saluran cerna
diare
h. metabolisme intermedier
protein – intoleransi, sintesis abnormal
karbohidrat – hiperglikemia, kebutuhan insulin menurun
lemak – peningkatan kadar trigliserida
mudah lelah
i. neuromuskuler
otot mengecil dan lemah
sistem saraf pusat
- penurunan ketajaman mental
- konsentrasi buruk
- apati
- letargi atau gelisah, insomnia
- kekacauan mental
- koma
- otot berkedut, asteriksis, kejang
neuropati perifer
- konduksi saraf lambat, sindrom ”restless leg”
- perubahan sensorik pada ekstremitas – parestesi
- perubahan motorik – foot drop yang berlanjut menjadi pareplegia
j. gangguan kalsium dan rangka
hiperfosfatemia, hipokalsemia
hiperparatiroidisme sekunder
osteodistrofi ginjal
fraktur patologik (demineralisasi tulang)
deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung, paru)
konjungtivitis (mata merah uremik)
4. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
5. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo(lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Intervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan stiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan kelg untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisifasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
Sabtu, 05 Desember 2009
asuhan keperawatan traksi
A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Traksi adalah upaya yang menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan imobilisasi fragmen tulang; mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan dislokasi.Traksi akan efektif jika menggunakan beban, katrol dan perimbangan untuk memperoleh kekuatan yang cukup dalam menghalangi pakaian kerja tertarik dari otot pasien. (Charlene J. Reeves, Gayle Roux, Robin Lockhart).
2. Indikasi
Pada pasien dengan fraktur dan dislokasi
3. Tujuan
a. Mobilisasi tulang belakang servikal
b. Reduksi dislokasi atau subluksasi
c. Distraksi interformina vertebra
d. Mengurangi deformitas
e. Mengurangi rasa nyeri
4. Fungsi
a. Meminimalkan spasme otot
b. Mereduksi , mensejajarkan dan imobilisasi fraktur
c. Mengurangi deformitas
d. Menambah ruangan permukaan patahan tulang.
5. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
6. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo (lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Inatervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan setiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan keluarga untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisipasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
1. Pengertian
Traksi adalah upaya yang menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan imobilisasi fragmen tulang; mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan dislokasi.Traksi akan efektif jika menggunakan beban, katrol dan perimbangan untuk memperoleh kekuatan yang cukup dalam menghalangi pakaian kerja tertarik dari otot pasien. (Charlene J. Reeves, Gayle Roux, Robin Lockhart).
2. Indikasi
Pada pasien dengan fraktur dan dislokasi
3. Tujuan
a. Mobilisasi tulang belakang servikal
b. Reduksi dislokasi atau subluksasi
c. Distraksi interformina vertebra
d. Mengurangi deformitas
e. Mengurangi rasa nyeri
4. Fungsi
a. Meminimalkan spasme otot
b. Mereduksi , mensejajarkan dan imobilisasi fraktur
c. Mengurangi deformitas
d. Menambah ruangan permukaan patahan tulang.
5. Prinsip
a. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
b. Harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif
c. Pemberat tidak boleh diambil kecuali intermiten, dan tergantung bebas
d. Tubuh harus dalam keadaan sejajar
e. Tali tidak boleh macet
6. Jenis-Jenis Traksi
Terdapat dua tipe traksi yaitu kulit dan tulang:
a. Traksi Kulit
1). Traksi Buck merupakan tipe traksi kulit yang sering digunakan sebelum pembedahan pada fraktur tulang pinggul untuk mengurangi spasmus, reduksi dislokasi, menghindari kontraktur fleksi tulang pinggul dan mengurangi rasa sakit pinggang bagian bawah (flow back pain). Hal tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan beban pada spreader bar (papan pembentangan) dibawah kaki yang disambungkan pada sepatu atau perban elastis yang diselubungkan pada kaki.
2). Traksi Halter leher-kepala digunakan untuk rasa sakit, strain dan salah urat pada leher. Beban disambungkan melalui spreader bar ke halter dengan sabuk pengikat dibawah dagu mengelilingi kepala pada dasar tengkorak.
3). Traksi Russel sama dengan traksi Buck dengan ditambahi dengan suspensi yang mengangkat keatas yaitu beruapa sling (bidai) dibawah lutut atau paha bagian bawah. Traksi ini digunakan untuk fraktur tulang pinggul, luka di paha dan beberapa luka di lutut. Traksi Russel memungkinkan dilakukannya gerakan.
4). Terdapat dua traksi pelvis. Traksi ini menggunakan sling untuk fraktur panggul. Sabuk pengikut tersebut akan mengakibatkan tarikan ke bawah pada pelvis dan biasanya intermiten. Sedangkan sling (bidai) akan menahan bokong di atas tempat tidur sehingga memberikan stabilisasi dan imobilisasi pada tulang yang retak.
b. Traksi tulang
1). Penjepit Steinmann atau Tali Kirschner merupakan perangkat yang dimasukan ke dalam batang tulang kemudian diikat dengan perangkat traksi. Traksi tulang atau traksi skeletal sering digunakan pada fraktur kaki. Penggunaan alat ini menjajikan kemungkinan dilihat terhadap luka dan memberikan akses perawatan pada jaringan yang mengalami trauma.
2). Traksi kepala atau tengkorak menggunakan jepitan Crutchfield atau vinckle yang dimasukan kedalam tengkorak dan diikat pada beban. Perangkat ini biasanya merupakan traksi tulang sementara.
3). Perangkat halo (lingkaran) diikat pada tulang tengkorak dan rompi dipasang pada torso. Traksi tulang ini digunakan untuk fraktur tulang belakang.
c. Pathways
d. Penatalaksanaan
1). Medis
2). Keperawatan
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Kaji status psikologi : .............. dst
b. Status neurologi
c. Kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
d. Fungsi respirasi (frekuensi, regular atau irregular)
e. Fungís gastrointerstinal (konstipasi, dullness)
f. Fungís perkemihan (retensi urin, ISK)
g. Fungsi kardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
h. Status nutrisi (anoreksia)
i. nyeri
2. Diagnosa Keperawatan dan intervensi
a. Ansietas b.d. status kesehatan dan traksi
Tujuan :
- klien tampil santai, dapat beristirahat atau tidur cukup
- klien melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi
Inatervensi 1 : identifikasi tingkat rasa takut
Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan
Intervensi 2 : validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan faktual
Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis
Intervensi 3 : berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang
Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
Intervensi 4 : kontrol stimuli eksternal
Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas
1). berikan informasi tentang traksi (tujuan,lama,tindakan yang ijinkan slm traksi. R/ : ......
2). informasikan setiap kali melakukan tindakan.
3). anjurkan keluarga untuk sering bertemu klien.
b. Nyeri dan ketidaknyamanan b.d. traksi dan immobilisasi
Tujuan :
- Klien mengatakan nyeri hilang
- Klien menunjukan tindakan santai : mampu berpartisipasi dalam aktivitas atau tidur atau istirahat dengan tepat
Intevensi 1 : evaluasi keluhan nyeri atau ketiknyamanan, perhatikan lokasi dan karakterristik, termasuk intensitas ( skala 0 – 10 ). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi atau perilaku )
Rasional : mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau terhadap nyeri.
Intervensi 2 : dorong klien menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaklasi progresif, latihan nafas dalam, imaji asai visualisasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
Intervensi 3 : lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional : mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
Intervensi 4 : selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik
Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen
1). kaji tiap adanya keluhan pada klien
2). berikan kasur padat
3). ubah posisi klien dalam batas traksi
4). jaga agar linen tidak terlipat
c. Kurang perawatan diri : makan,higyene,toileting b.d. traksi
Tujuan : klien menunjukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan pribadi
Intervensi 1 : tentukan kemampuan saat ini (skala 0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan
Intervensi 2 : dorong perawatan diri. Bekerja dengan kemampuan yang sekarang; jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan
Rasional : melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri. Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi
Intervensi 3 : berikan keramas atau gaya rambut sesuai kebutuhan. Sediakan atau bantu dengan perawatan kuku
Rasoinal : membantu mempertahankan penampilan
Intervensi 4 : dorong atau bantu dengan perawatan mulut atau gigi setiap hari
Rasional : mengurangi risiko penyakit gusi atau kehilangan gigi
1). beri bantuan aktivitas perawatan diri slma immobilisasi
2). beri alat penjangkau dan gantungan di atas tempat tidur
d. Kerusakan mobilisasi fisik b.d. proses penyakit dan traksi
Tujuan :
- mempertahankan posisi fungsional
- meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
Intervensi 1 : kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi
Rasional : pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Intervensi 2 : bantu pasien dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit
Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur atau atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan
Intervensi 3 : ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau napas dalam
Rasional : mencegah atau menurunkan insidensi komplikasi kulit atau pernapasan (dekubitus, atelektasis, pneumonia)
1). anjurkan klien melatih otot dan sendi yang tidak diimmobilisasi
2). konsultasikan dgn fisiotherapi untuk latihan di tempat tidur
3). dorong klien untuk berlatih
e. Resiko terjadinya komplikasi
1). Dekubitus :
a). Periksa area kulit yang tertekan
b). Lakukan perubahan posisi klien
c). konsultasikan dgn penggunaan pelindung cincin dekubitus dan tempat tidur khusus.
2). Kongesti paru-pneumonia :
a). Kaji status pernafasan klien
b). Ajari latihan nafas dalam dan batuk efektif.
c). kaji terhadap adanya secret kental atau reflek batuk menurun.
d). Anjurkan klien banyak minum.
Lakukan fisiotherapi dada.
laporkan jika terjadi gangguan.
3). Konstipasi dan anoreksia :
a). Berikan diit tinggi serat dan banyak minum
b). Beri laksatif, supositoria dan enema sesuai instruksi dokter
c). Kaji makanan kesukaan klien
4). Statis dan infeksi saluran kemih :
a). Pantau masukan dan haluaran urin
b). Anjurkan klien minum 2 liter per hari dan usahakan berkemih setiap 2-3 jam.
c). Kaji adanya tanda infeksi.
5). Trombosis vena dalam :
a). Ajari dan lakukan latihan area distal dlm batas terapi traksi secara teratur.
b). Doromg klien minum 2 lt per hari.
c). Kaji terhadap adanya trombosis vena.
Label:
asuhan keperawatan
Langganan:
Komentar (Atom)